Cerita Dewasa Berawal Dari Chatingan Berujung Ngewhe Dengan Mahasiswi Di Hotel

Cerita Dewasa – Sautu hari, aku online di salah satu channel chatting dengan seorang mahasiswi. Sebut saja namanya Meira (19 tahun), bukan nama sebenarnya. Dia adalah seorang pejabat di salah satu instansi di Jawa dan sedang mejalani kuliah di salah satu universitas favorite di kota M.
Perkenalan ini berawal dari seringnya aku online bersama Meira.
Singkat cerita, suatu hari aku ada tugas dinas ke kota M dan iseng-iseng aku hubungi dia melalui nomor Hp yang sudah dia berikan sebelumnya. Dan dengan senang hati dia mau ketemuan, asal dengan syarat dia bawa teman. Wal hasil, aku ketemu dia di salah satu cafe di daerah kampus yang berada di pinggi kota.
“Hey.. Kamu Meira” sapaku.
“Hey, Budi ya..” sambil menjawab Meira mengulurkan tangannya.
“Kenalin ini temanku Dony,” sambil mengenalkan temanku.
“Oh ya, kenalin juga ini temanku Rida,” kata Meira mengenalkan temannya.
Sepintas terlihat, Meira adalah sosok seorang gadis model. Karena bentuk tubuhnya sangat semampai dengan ciri 167/45. Sehingga tonjolan di dada maupun di pantatnya tidak begitu nampak sebagaimana gadis-gadis yang aku kenal. Lamunanku buyar saat Meira menawarkan menu yang mau dipesan.
“Dy, kamu mau makan apa?” tanya Meira.
“Mmm, anu.. Terserah deh” jawabku gugup.
“Kenapa say.. Kok nervous gitu?” tanyanya manja.
Wah dadaku berdetak keras saat dia panggil aku dengan kata “say..” tetapi aku cepat menguasai keadaan dan bersikap seperti nggak ada rasa GR dengan panggilan yang aku kira sangat romantis banget.
“Tidak kok, tidak apa-apa, aku ngikut aja,” jawabku datar.
Dari pertama kita ketemu di chatting, aku terbuka saja dengan status aku yang sudah married. Dan ternyata diluar dugaanku, Meira bisa menerima hal itu karena memang dia menyukai cowok yang lebih dewasa.
2 jam lamanya kami berempat, ngobrol apa aja yang bisa dibMeirarakan. Baik tentang kuliahnya, masalahnya Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 21 kurang 1/4. Akhirnya aku menawarkan diri untuk mengantar balik ke kost-kostan.
“Meira, sudah malem nih, ayo aku anter balik” ajakku.
“Oke dah Mas Budi,” jawab Meira singkat sambil bangkit dari duduknya.
Setelah aku bayar di kasir, aku bergegas menuju mobil starletku yang butut kedinginan diluar cafe.
“Dan, minggu depan aku mau ke Surabaya,” kata Meira.
“Oya, dalam rangka apa?” tanyaku.
“Mau ketemu kamu, kamu ada waktu kan?” jawabnya tersenyum.
Deg! jantungku terasa berhenti ketika Meira bilang seperti itu, aku langsung berusaha menguasai situasi.
“Ooo.. Pasti bisalah, asal kamu kabarin sehari sebelum datang,” pintaku.
“Oke deh, ntar aku hubungi kamu Mas” kata Meira.
“Terus, kamu mau dateng sama Rida atau sendirian?” tanyaku.
“Sendirilah Mas, masa iya sama temanku.. Kan nggak romantis?” jelas Meira.
Tanpa terasa sampailah di depan tempat kost Meira.
“Selamat malam,” kataku.
“Terima kasih ya Mas, sampai ketemu minggu depan,” Meira mengingatkan.
“Ok” jawabku singkat, dan setelah itu aku langsung tancap gas balik menuju ke Surabaya dengan perasaan yang masih bertanya-tanya dengan ucapan Meira yang sedikit romantis. Tetapi sebandel apapun aku, aku tetap memegang prinsip aku tentang virginitas seorang cewek. Buat aku jika seorang gadis itu masih virgin, aku tidak akan pernah mau Making Love karena sudah menjadi prinsip aku untuk tidak merusak masa depan seseorang.
6 hari sudah berselang setelah pertemuan pertama dengan Meira dan sesuai janji dia, Kamis siang Meira menelphone HP-ku. Ringtone dengan lagu dilema cellulerku berbunyi dan saat aku liat layarnya ternyata 081252xx (nomor Meira).
“Mas Budi besok aku berangkat sepulang kuliah, bisa jemput nggak?” tanya Meira.
“Oke bisa, jam berapa?” balas aku bertanya.
“Mungkin dari Surabaya jam 18.00” jawab Meira. “Lho emang kamu mau langsung balik?” selidik aku.
“Tidaklah Mas, aku kan ingin ditemanin Mas Budi semalaman” jelasnya.
Alamak si Meira ini, bikin aku berpikir yang nggak-nggak. “Oo gitu, oke sapa takut” tantang ku.
“Oke deh Mas, sampai besok” seiring kata itu HPnya langsung dimatikan.
Setelah telphone off, aku langsung hubungi salah satu hotel di Surabaya yang menjadi tempat favorite aku dan kebeetulan aku salah satu members di hotel tersebut. Sehingga setiap saat aku bisa booking room dengan posisi open.
Hari jum’at jam 18.00 tepat aku sudah nongkrong di jok mobilku. Diparkiran terminal Bungur Asih dan selang 5 menit cellulerku berbunyi, “Mas kamu dimana?” suara Meira.
“Aku sudah di parkiran terminal nih,” jelasku.
“Oke deh aku ke situ” jawab Meira.
Dengan perasaan deg-degan aku menunggu Meira nongol dari pintu keluar terminal, dan dari jauh aku lihat tubuh semampai yang agak kurusan berlenggak-lenggok seperti di catwalk. Setan bertanduk, meniup pikiranku sepanjang Meira menuju mobilku.
“Hai Mas Budi, apa kabar?” tanya Meira.
“Baik Meira” jawabku singkat.
“Sudah lama ya Mas Budi tunggunya,” ia membuka percakapan.
“Belum kok Meira” jawabku singkat.
Tanpa panjang lebar, aku langsung menuju hotel yang sehari sebelumnya aku sudah booking. Dan parfum dengan aroma melati sangat megganggu birahi kelaki-lakianku. Setan bertanduk semakin aktif mengetuk pikiran kotorku untuk langsung bercinta dengannya. Sesampai di hotel aku langsung minta kunci dan menuju kamar lantai 2 nomor 222.
“Lho Mas kenapa kok booking yang 2 bed?” tanya Meira.
“Lho memangnya kenapa?” aku berlagak bengong.
“Meira pengennya yang satu bed, supaya bisa berduaan,” jawab Meira polos.
Walaupun seten sudah pada meringis diatas kepalaku dan bilang, yes! tetapi aku bersauah cool di depan Meira dan sedikit berkata bijak bagaikan orang tua.
“Meira, kita tidak untuk macam-macamkan di kamar ini?” balasku bertanya.
“Ya sudah deh Mas, aku mau mandi dulu ya” jawab Meira kesal.
15 menit lamanya Meira mandi, akhirnya pintu kamar mandi terbuka dan begitu kagetnya aku, ketika Meira hanya mengenakan daster yang tipis tanpa menggunakan BH dan CD, sehingga nampak jelas sekali puting yang kecil menonjol di balik daster tipisnya. Tanpa melihat gelagat Meira yang semakin membuat detak jantungku semakin cepat, aku langsung ambil handuk dan mandi.
Malam semakin larut dan hampir 3 jam aku di dalam kamar berdua dengan Meira, detak jantungku semakin kencang tatkala Meira sesekali sengaja menyentuhkan tangannya di pundakku. Adik kecilku berontak dengan keras ingin keluar dari celanaku.
“Mas, malam ini kamu manis banget sih,” kata Meira memuji.
“Ah kamu bisa aja” jawabku agak gugup. Karena pertanyaan itu disampaikan hanya dengan jarak 20 centi dari mukaku sehingga bau harum di wajahnya begitu menggelitik syaraf kelaki-lakianku.
“Mmm bagaimana..” belum selesai aku tanyakan sesuatu tiba-tiba tubuh kecil Meira sudah berada dipangkuanku. Sehingga memudahkan dia untuk mencium bibirku. Sedangkan posisiku sendiri sangat tidak menguntungkan untuk membalas ciuman Meira, karena posisi tanganku menopang tubuhku.
“Mmm.. Mas.. Aku suka kamu,” kata Meira sambil melanjutkan ciuman mautnya.
Aku tidak bisa menjawab sepatah kata apapun karena memang serang bibir tipis Meira menggelontor bibirku bertubi-tubi. Perlahan tapi pasti, aku mulai berubah posisiku untuk terlentang di ranjang sehingga tubuh mungil Meira dengan mudah naik diatas tubuhku.
Aku rasakan perutku mulai basah dengan cairan yang mulai menetes dari vagina Meira. Karena dari tadi dia sudah tidak memakai celana dalam sehingga saat duduk diperutku, aku merasakan betapa halus bulu-bulu di selangkangan gadis ini. Tanganku mulai membelai punggung dan tengkuk Meira, sehingga hal itu membuat birahi Meira mulai terkoyak. Dari mulutku Meira mulai merambat kebawah, menjilati puntingku hingga membuat darah aku berdesir dengan kencang. Cerita Sex Dosenku Yang Sange Memintaku Untuk Memuaskannya
“Meira.. Geli sayang..” aku merintih.
Meira sepertinya semakin bernafsu mendengar rintihan aku, dan semakin berani saja gadis ini memainkan lidahnya disekitar perutku. Tubuhnya semakin kebawah dan sampailah wajah nya di atas selangkanganku, dengan satu gerakan saja, celana adidas yang aku kenakan langsung tertanggal.
“Mas.. Aku suka penis kamu.. Gila besar sekali” puji Meira dan setelah itu langsung saja mulutnya yang tipis mulai mendarat di batang kemaluanku.
“Oohh..” aku merintih dan mnggelinjang saat mulut Meira mulai melahap penisku yang sudah mulai mengencang. Sesekali tangan yang lentik mengocok batang kemaluanku.
“Aaow.. Sakit sayang” jeritku saat giginya mengenai kepala penisku.
Aku hanya menikmati jilatan, hisapan dan kuluman bibir Meira yang tipis sembari aku menengok kebawah melihat Meira yang lagi asyik mengoral penisku. Duh alamak, ini gadis kok jago banget oral sex nya. Awas ya aku balas nanti kalo gadis itu sudah puas menghisap penisku. Disaat aku membayangkan apa saja yang bakal aku lakukan dengan gadis kecil ini, tiba-tiba Meira bangkit dari selangkanganku dan berdiri.
“Mas. Meira sudah nggak tahan.. Aku masukin ya?” tanya Meira sambil melepas penisku dari mulutnya.
“Meira, Mas tidak mau, jika kamu masih virgin,” aku berusaha jelaskan masalah prinsipku tentang keperawanan seseorang.
“Mas, Meira ingin banget.. Meira sudah pernah lakukan kok sama pacarku” jelas Meira tidak mau kalah.
“Kamu serius..?'” tanyaku bingung.
“Percaya sama Meira Mas, aku sudah tidak virgin kok,” sambil berkata seperti itu, Meira langsung berdiri diatas tubuhku. Tangannya yang lentik memegang penisku yang berdiri kencang untuk diarahkan ke lubang vaginanya
Bless.., suara penisku mengoyak vagina Meira.
“Ughh, Mas..” kepala penisku langsung membuka lubang sempit di selangkangan Meira.
“Gila, enak sekali punya Mas.. aakkh” Meira menggerinjang sembari mulai berusaha memasukkan seluruh batang kemaluanku.
Aku merasakan lubang surgawi milik Meira sangat sempit sekali, sehingga aku merasakan sesuatu yang menjepit batang kemaluanku.
“Mas.. mentok nih, gila banget.. padahal belum masuk semua..” rintih Meira.
“Gila Mas punya kamu panjang.. Eenaak Mas” rintih Meira.
Beberapa kali Meira menggerakkan tubuhnya naik turun, tiba-tiba Meira mulai mempercepat pergerakkannya diatas tubuhku yang naik turun.
“Pak. Meirah.. Mau.. Dappett.. Bu..” rintih Meirah.
Karena memang penisku tidak bisa masuk seluruhnya (hanya menyisakan 2 cm saja), sambil bergerak naik turun tangan Meira berusaha menahan tubuhnya dia tas dadaku.
“Mas.. Aaampunn.. Akuu nggak tahan lagi..” rintih Meira.
“Mas.. Budi.. Meira kee.. luuaarr..” bersamaan dengan rintihan panjang Meira sesuatu aku rasakan menyiram batang kemaluanku.
Sssurr.., cairan yang terasa banyak membasahi selangkan aku.
Tubuh Meira langsung terkulai lemas dengan permainan tadi sehingga dia terlentang sambil menutup mata, merasakan sisa-sisa kenikmatan yang sudah diraihnya. Tanpa memberi nafas sedikitpun, aku mulai membungkuk di atas dada gadis yang masih belia ini. Dengan sentuhan yang penuh perasaan, lidahku mulai memainkan puntingnya yang masih mengencang besar. Aku berusaha membangkitkan gairah Meira yang sudah mulai terkulai lemas.
“Mas.. Kamu hebat.. Ughh,” pujian Meira tidak sampai selesai karena gigiku yang nakal mulai menggigit punting Meira dengan mesra. Aku membiarkan kedua tangannya menggapai kepalaku yang sedang asyik menikmati puntingnya yang kencang. Maklum, Meira tergolong cewek yang tidak mempunyai payudara sehingga puntingnya lebih dominan.
Semakin lama, mulutku yang liar mulai membalas perlakukan Meira saat mencumbui aku sebelumnya. Sesekali tubuhnya yang kurus menggelinjang hebat saat aku mainkan pusar perutnya dengan lidahku, hal ini membuat kedua pahanya terbuka lebar.
Kesempatan itu tidak aku sia-siakan, wajahku langsung menangkap bongkahan daging dengan rambut yang begitu halus. Dengan satu kali gerakan, kedua tanganku sudah bisa mengunci kedua pahanya diatas pundakku.
“Mmas.. Gelii.. Ampun.. Ooohh,” Meira hanya bisa merintih saat klitorisnya aku mainkan dengan lidahku. Sesekali aku mencium bau wangi bekas cairan Meira yang sudah keluar saat permainan pertama.
Dan hal itu menambah birahiku untuk melumat habis seluruh cairan yang mulai melelh kembal dari lubang kewanitaannya sesekal pinggul Meira yang mungil ikut terangkat keatas, mengikuti hisapan mulutku di selangkangannya. Beberapa saat kemudian.
“Mas.. Ammpun.. Aku mau keluar laagi.. Mmass” kedua tangan Meira membenamkan wajahku dalam-dalam diantara kedua pahanya. Bersamaan dengan itu pula cairan putih meleleh dengan deras dari ujung lubang kewanitaanya. Dengan sedikit liar, aku minum semua cairan yang keluar dan aku jilatin sampai bersih kembali tanpa ada cairan sedikitpun.
“Capek sayang..” tanyaku.
“Kamu benar-benar gila Mas.. Hebat banget kamu,” puji Meira.
Belum selesai dia memeujiku, aku langsung mengangkat tubuhnya yang langsing dan sedikit kurus. Sekali angkat tubuhnya langsung berhadapan dengan tubuhku, dengan cekatan penisku aku tancapkan ke lubang vagina Meira,
“Mmas.. Aduh.. Kamuu benar-benar nakal..,” kata Meira manja.
Kedua tangan Meira menggelayut dileherku sedangkan kedua kakinya mengunci pinggulku, sehingga hal ini memudahkan penisku menerobos masuk di lubang vaginanya.
“Slep.. Slep.. Slep.. ” terdengar penisku bergerak keluar masuk lubang Meira. Kedua tanganku menahan bongkahan pantat Meira yang tidak begitu besar, untuk memudahkan pergerakan keluar masuk penisku. Karena tubuh Meira yang ringan memudahkan aku untuk berhubungan sambil menggendong Meira. Posisi ini aku pertahankan sampai, Meira orgasme yang ketiga kalinya.
“Mass.. Aku.. Keluar lagi.. ” sambil berkata demikian Meira berusaha mendekap tubuhku erat-erat sedangkan tubuhnya tidak bisa mendekat tubuhku karena memang terganjal penisku yang panjang.
Disaat tubuh Meira turun dari gendonganku, aku sedikit mendorong tubuhnya untuk menghadap ke dinding. Sambil aku bisikan kata yang mesra di telinganya
“Aku akan memberimu semua kesenangan malam ini,” rayuku.
“Mass..” desah Meira.
Kaki Meira aku buka lebar, sehingga memudahkan aku untuk penetrasi melalui belakang.
Bless.., batang kemaluanku kembali menghunjam lubang Meira yang masih terengah-engah. Kedua tanganku memegang pinggul Meira dari balakang, sehingga memudahkan aku untuk bergerak maju mundur. Kedua tangan Meira menahan tubuhnya di dinding kamar.      Situs Viral
“Mas.. Eennakk sekali..” rintih Meira.
“Kamu memang.. Jagonya Mas.. Uuuhh,” berkali-kali Meira merintah tetapi hal itu tidak menghentikan permainan aku yang semakin gila saja. Setelah puas dengan posisi seperti itu, dengan memeringkan tubuh Meira yang masih berdiri, aku angkat kakinya satu sehingga aku bisa memasukkan penisku dengan leluasa.
Crek.. Crek.. Crekk.., suara penisku yang sudah mulai dibasahi oleh cairan Meira yang begitu banyak meleleh, sampai menetes di pahaku.
“Mas.. Kamu.. Pandai sekali membuatku melayang.. Aaahh.. Uuuhh”.
“Sayaang.. Aku.. Nggaa.. Tahann..” untuk yang kesekian kalinya lubang kewanitaan Meira mengucurkan cairan putih pekat dibatang kemaluanku.
Setelah aku puas, akhirnya aku membopong tubuh Meira dan meletakkan di pinggir ranjang. Kali ini aku melakuakn doggie style, aku semakin bergairah untuk bermain dengan beberapa variasi dalam bersetubuh.
“Hekk..” muka Meira dimasukan dalam-dalam diatas bantal ketika penisku menghujam kesekian kalinya.
“Oohh.. Meira.. Punya kamu asyik banget..” puji aku.
Sambil menggerakkan maju mundur tubuhku dibelakang tubuh Meira, aku melihat jelas kucuran keringat dari tubuh kami berdua. Sampai akhirnya Meira menjerit panjang dibarengi kedua tanganya meremas sprey hotel dengan kencang.
“Mass.. Aaammppunn..” gigi Meira menggigit bantal dengan kencang.
“Aku juga mau keluar sayang.. Meira..?” aku mendesah kenikmatan.
“Ooo Meira.. Mau dikeluarin dimana.. aakhh,” aku bergerak semakin cepat memasukkan penisku.
“Di dalam aja sayang..” pinta Meira.
“Jangan aku nggak mau.. Cepet sayang aku sudah mau keluar nih..” desahku.
“Meiraa.. Aaakhh” aku segera melepas penisku dari lubang vagina Meira dan dengan seketika membalikkan badannya hingga mulutnya pas didepan penisku.
Bagaikan di film-film BF yang pernah aku lihat, Meira langssung melumat habis penisku.
Crutt.. Crut.. Crut.., entah berapa kali semburan spermaku dalam mulut Meira, aku hanya merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Semburan demi semburan, Meira seperti tidak mempedulikan lagi.
Gadis itu tetap mengocok, mengulum dan menghisap dalam-dalam penisku. Terlihat jelas spermamu menetes kelaur dicelah bibirnya yang mungil dan belum sampai jatuh, lidahnya berusaha menjilat kembali.
“Mmm.. Aku suka sekali sperma kamu Mas..” kata Meira sambil menelan seluruh spermaku yang sudah keluar.
Sambil menjilati sisa-sisa sperma yang masih menempel di batang kemaluanku,
“Ma kasih Mas.. Kamu memberikan apa yang selama ini aku impikan” kata Meira.
“Selama ini pacarku tidak pernah memberikan ini semua, asal dia sudah keluar ya sudah tanpa harus mikirin aku” jelas Meira.
Malam itu kami tidur berpelukkan sampai pagi dengan keadaan telanjang bulat, aku sudah tidak ingat lagi berapa kali memberikan kepuasan terhadap Meira. Akan tetapi yang membuat diriku bangga adalah, aku bisa memberikan kepuasan kepada pasanganku. Karena buat aku sex bukan milik pria seorang tetapi milik kedua pasangan yang melakukkannya.
Paginya Meira membangunkan aku tepat pukul 06.00.
“Mas.. anter aku ke terminal ya, aku harus balik nih,” pinta Meira.
“Oke, yuk kita segera bersiap-siap” ajakku.
“Mas, kamu janji ya berikan aku seperti ini setiap aku mau,” kata Meira.
“Iya sayang, selama kamu mau.. Aku akan berikan” jawabku penuh harap.
Sambil berkata demikian kita berdua menuju kamar mandi untuk mandi bersama. Dan di kamar mandi, untuk sekali lagi kita
melakukan hubungan sex yang sangat fantastis di bawah guyuran shower. Dan entah berapa kali Meira mereguk kenikmatan saat itu.
Yang pasti hari itu begitu hebat permainan yang aku lakukan dengan Meira.
Setelah siap, aku check out dan meluncur kearah terminal Bungurasih.
“Kamu hati-hati Meira” sambil aku kecup keningnya.
“Terima kasih, Mas, untuk permainan semalam dan tadi pagi,” kata Meira terima kasih.
“Kamu memang luar biasa Mas” puji Meira.
Akhirnya tubuh Meira yang semampai bergegas meninggalkan mobilku untuk menuju ke antrean bus menuju kota K. Lambaian tangannya berkali-kjali melambai seiring dengan tubuhnya yang hilang ditelan keramaian terminal.
TAMAT
CERITA INDEHOY

Fantasi bukan untuk ditahan. Di sini, kamu bebas menelanjangi imajinasi. – Cerita panas, liar, dan penuh kenikmatan – Bukan untuk yang malu-malu – 18+ Only. Karena di sini... semua bisa terjadi 👉 ceritaindehoy.com

Lihat Semua Postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *