Aku Dipuaskan 3 Tante Sexy Yang Mempunyai Tubuh Sexy

Ini bermula dari suatu kebetulan yang tidak disengaja, Sampai saat ini aku suka tertawa sendiri kalau mengigat awal kejadian ini. Bermula dari suatu Sabtu siang, aku janjian ketemu dengan salah seorang teman chat-ku. Namanya Priska, mahasiswa tingkat akhir di salah satu PTS di jakarta Barat. Teman chat-ku yang satu ini cukup misterius. Aku nggak pernah tau dia tingal dimana, dengan siapa, bahkan aku tak pernah dikasih nomer telephone rumahnya. Kampusnya pun aku nggak yakin kalau yang disebutnya benar.
Saat janjian dengan Priska pun hanya lewat SMS. Biasanya aku nggak pernah meladeni teman-teman chat yang janjian ketemu via SMS. Kapok, dulu pernah dibo’ongin. Tapi entah kenapa aku penasaran sekali dengan Priska. Akhirnya kami janjian untuk ketemu di Mall Kelapa Gading, tepatnya di Wendy’s. Resenya, Priska juga nggak mau kasi tau pakaian apa yang dia pakai dan ciri-cirinya. Pokoknya surprise, katanya.
Itulah kenapa hari Sabtu siang ini aku bengong-bengong ditemani baked potatoenya Wendy’s sambil menunggu kedatangan Priska.
Sudah hampir satu jam aku menunggu tapi tidak ada kabar. SMS-ku nggak dibales-bales, mau telepon pulsa udah sekarat. Aku hanya duduk sambil memperhatikan sekelilingku yang cukup sepi. Mataku tertuju pada seorang wanita keturunan Chinese berumur kira-kira 30-an yang duduk sendirian di salah satu sudut. Herannya sejak tadi wanita tersebut memperhatikanku terus. Aku sempat berpikir apa dia yang bernama Priska. Tapi rasanya bukan. Akhirnya karena bete menunggu aku pun meninggalkan Wendy’s.
Tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh dan melihat wanita yang kuperhatikan tadi tersenyum ke arahku.
“Riski ya?” tanyanya. Aku terkejut. Kok dia tau namaku. Jangan-jangan wanita ini benar Priska. Aku mengangguk.
“Iya, mm.. Priska?” tanyaku. Wanita itu menggeleng sambil mengernyitkan kening.
“Bukan, kok Priska sih? Kamu Riski yang di Kayuputih kan?” aku tambah bingung mendengarnya.
“Bukan, Iho tante bukan Priska?”.
Kemudian wanita itu mengajakku berteduh di salah satu sudut sambil menjelaskan maksud yang sebenarnya. Aku mendengarkan, lantas aku juga gantian menjelaskan. Akhirnya kami sama-sama tertawa terbahak-bahak setelah tau duduk persoalannya. Wanita itu bernama Lisa, dan dia juga sedang janjian dengan teman chat-nya yang juga bernama Riski, seperti namaku. Akhirnya kami malah berkenalan karena orang-orang yang kami tunggu tak kunjung datang juga. Aku memanggilnya Ci Lisa, karena dia menolak dipanggil tante. Kesannya tua katanya.
Siang itu Ci Lisa malah mengajakku jalan-jalan. Aku ikut dengan Altis-nya karena aku tidak membawa mobil. Ci Lisa mengajakku ke butik teman maminya di daerah Permata Hijau. Tante Windia, sang pemilik butik adalah seorang wanita yang sudah berusia di atas 40 tahun, tubuhnya cukup tinggi dan agak montok. Kulitnya yang putih bersih hari itu dibalut blus transparan yang bahunya terbuka lebar dan celana biru tua dari bahan yang sama dengan bajunya. Agak-agak eksentrik. Dasar desainer pikirku. Karena hari itu butik Tante Windia tidak begitu ramai, kami bertiga ngobrol-ngobrol sambil minum teh di salah satu ruang santai.
“Aduh Yo.. maaf..” seru Tante Windia. Wanita itu menumpahkan teh yang akan dituangnya ke cangkirku tepat di celanaku bagian pangkal paha. Aku sedikit mengentak karena tehnya agak panas.
“Nggak pa-pa Tante..” jawabku seraya menepuk-nepuk kemejaku yang juga kena tumpahan teh. Tante Windia reflek menepis-nepis bercak teh yang membasahi cenalaku. Ups.. tanpa sengaja jemari lembutnya menyentuh batang kemaluanku.
“Eh.. kok keras Yoo? Hihihi..” goda Tante Windia sambil memijit-mijit kemaluanku. Aku jadi tersenyum. Ya gimana nggak keras sedari ngobrol tadi mataku tak lepas dari bahu Tante Windia yang mulus dan kedua belah paha Ci Lisa yang putih.
“Iya.. Tante sih numpahin..” jawabku setengah bercanda.
“Idih.. Tante Windia kumat genitnya deh.. biasa Yo, udah lama nggak.. aww!!” Ci Lisa tak sempat menyelesaikan celetukkannya karena Tante Windia mencubit pinggang wanita itu.
“Iya nih Tante, udah numpahin digenitin lagi. Pokoknya bales tumpahin juga lho hihihi..” aku gantian menggoda wanita itu. Tante Windia malah tersenyum sambil merangkul leherku.
“Boleh, tapi jangan ditumpahin pake teh ya..” bisiknya di telingaku. Aku pura-pura bego.
“Abis mau ditumpahin apa Tante?” tanyaku. Tante Windia meremas batang penisku dengan gemas.
“Ya sama ‘teh alami’ dari kamu dong sayang.. mmhh.. mm..” Tante Windia langsung mengecup dan melumat bibirku. Aku yang memang sedari tadi sudah horny menyambut lumatan bibir Tante Windia dengan penuh nafsu. Kedua tanganku memeluk pinggang wanita setengah baya itu dengan posisi menyamping. Sementara tangan Tante Windia yang lembut merangkul leherku. Ah.. lembut sekali bibirnya.
Ci Lisa yang melihat adegan kami tidak tinggal diam. Wanita berkulit putih mulus itu mendakati tubuhku dan mulai memainkan kancing celana jeansku. Tak sampai semenit wanita itu sudah berhasil melucuti celana jeansku sekaligus dengan celana dalamnya. Tanpa ampun lagi batang penisku yang sudah mulai mengeras itu berdiri tegak seolah menantang Ci Lisa untuk menikmatinya. Ci Lisa turun ke bawah sofa untuk memainkan penisku. Jemarinya yang lembut perlahan-lahan mengusap dan memijit setiap centi batang penisku. Ugghh.. birahiku semakin naik. Lumatan bibirku di bibir Tante Windia semakin bernafsu. Lidahku menjelajahi rongga mulut wanita setengah baya itu. Tante Windia merasa keasyikan.
Aku yang semakin terbakar nafsu mencoba menularkan gairahku ke Tante Windia. Dari bibir, lidahku berpindah ke telinganya yang dihiasi anting perak. Tante Windia menggelinjang keasyikan. Dia meminta waktu sebentar untuk melepas anting-antingnya agar aku lebih leluasa. Lidahku semakin liar menjelajahi telinga, leher dan bahu Tante Windia. Tampaknya wanita itu mulai tak kuasa menahan birahinya yang semakin memuncak. Dia melepaskan diri dari tubuhku dan memintaku untuk melorotkan celananya. Tanpa disuruh kedua kalinya aku pun langsung melucuti Tante Windia sekaligus dengan bajunya, hingga tubuh wanita itu bersih tanpa sehelai benang pun.
Gila, udah kepala empat tapi tubuh Tante Windia masih kencang. Kulitnya yang putih betul-betul terasa halus mulus. Sambil bersandar pada pegangan sofa, Tante Windia merentangkan kedua belah pahanya yang mulus dan memintaku melumat kemaluannya yang bersih tanpa bulu. Tanpa basa-basi aku langsung mendekatkan wajahku ke vaginanya dan mulai menjilati daerah pinggir kemaluannya. Istri Pak RT Yang Sudah Lama Tidak Dibelai Memintaku Untuk Memuaskannya
“Hhhmm.. sshh.. teruss Yoo..” desah Tante Windia keasyikan. Aku terus menjilati vaginanya sambil tangan kananku membelai pangkal pahanya yang mulus. Di bawah, Ci Lisa masih asyik mempermainkan kemaluanku. Kelima jemarinya yang lentik lincah sekali membelai dan mengocok batang penisku yang ujungnya mulai basah. Sesekali lidahnya membasahi permukaan penisku. Sebagian batang penisku tampak merah terkena lipstik Ci Lisa. Kepala wanita itu naik turun mengikuti ayunan kenikmatan di penisku. Ahh.. lembut sekali mulut Ci Lisa mengulumnya. Saking asyiknya tak sadar aku sampai menghentikan permainanku dengan Tante Windia untuk merasakan kenikmatan yang diberikan Ci Lisa. Tante Windia tersenyum melihat ekspresiku yang mengejang menahan nikmat. Wanita itu merengkuh kepalaku untuk melanjutkan tugasku memberi kenikmatan untuknya.
Aku semakin buas melumat kemaluan Tante Windia. Jemariku mulai ikut membantu. Liang kemaluan Tante Windia sudah kutembus dengan jari tengahku. Sambil kukocok-kocok, aku menjilati klitorisnya. Wanita itu menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat. Kedua tangannya yang lembut menjambak rambutku.
Tanpa kusadari, Ci Lisa sudah melucuti dirinya sendiri sampai telanjang bulat. Tiba-tiba wanita itu naik ke atas tubuhku dan bersiap mengurung penisku dengan vaginanya yang lembut. Kedua tangannya merengkuh leherku. Tubuhnya mulai merendah hingga ujung penisku mulai menyentuh bibir vaginanya. Dengan bantuan tangan kiriku, perlahan penisku mulai masuk ke dalam liang kenikmatan itu, dan.. ssllpp blleess.. Amblas sudah penisku di liang kemaluan Ci Lisa. Sambil memeluk bahuku, tubuh Ci Lisa naik-turun. Ugghh.. nikmat sekali. Aku sampai nggak bisa konsen ngelumat vagina Tante Windia. Tapi aku nggak mau kalah. Yang penting Tante Windia mesti diberesin dulu.
Sambil menahan birahiku yang sudah di ubun-ubun gara-gara Ci Lisa, aku terus melumat vagina Tante Windia. Jari tengahku yang kini sudah dibantu jari manis semakin cepat mengocok-ngocok di dalam vagina Tante Windia. Lidahku semakin liar menjelajahi klitoris dan bibir vaginanya. Tubuh Tante Windia pun semakin menggelinjang tak karuan. Sepertinya wanita itu sudah tak kuasa lagi menahan kenikmatan yang kuberikan. Aku pun mulai merasa dinding vaginanya berdenyut.
“Ssshh.. oohh.. Riioo..aahh..” Tante Windia mendesah meregang nikmat sambil meremas kepalaku yang masih menempel ketat di vaginanya. Aku merasakan rembesan lendir yang cukup deras dari dalam sana. Hmm.. aroma vagina yang begitu khas segera tercium. Aku pun menghirup lendir-lendir kenikmatan itu sambil menjilati sisa-sisa yang menempel di vagina Tante Windia. Setelah puas melepas kenikmatannya, Tante Windia mengangkat kedua pahanya dari tubuhku dan membiarkan aku leluasa menikmati permainan dengan Ci Lisa.
Bebas dari tubuh Tante Windia, kini Ci Lisa yang mendekap tubuhku erat. Payudaranya yang bulat dan montok menempel ketat di dadaku. Ahh.. kenyal sekali. Aku semakin merasakan kekenyalannya karena tubuh Ci Lisa naik-turun. Sementara bibir kami asyik saling melumat. “Mmhh..ssllpp..aahh..mm..” berisik sekali kami berciuman. Tante Windia sampai geleng-geleng melihat kami berdua yang sama-sama dipacu birahi.
Kemudian kami bertukar posisi. Tubuh kami berguling ke arah berlawanan sehingga kini tubuh Ci Lisa duduk bersandar di sofa dengan posisi kedua kaki mulusnya yang mengangkang. Sambil bertumpu pada lutut di lantai, aku bersiap memasukkan penisku lagi ke dalam liang kemaluan Ci Lisa. Ugghh.. kali ini lebih mudah karena vagina Ci Lisa sudah basah. Pantatku maju mundur seiring kenikmatan yang dirasakan Ci Lisa. Wanita itu bahkan sudah tak kuasa memeluk tubuhku. Kedua tangannya direntangkan untuk menahan rasa nikmat yang dirasakannya. Aku semakin menggoyang pantatku dengan keras. Aku tahu bahwa sebentar lagi Ci Lisa akan mencapai klimaks, namun aku juga tahu bahwa Ci Lisa tak mau kalah denganku. Aku melihat ekspresinya yang berusaha menahan nikmat. Berawal Dari Kerokan Berujung Ngewhe
“Terus Yo.. bentar lagi tuh.. hihihi..” goda Tante Windia. Aku tersenyum kemudian mengecup bibir wanita yang sedang duduk di samping Ci Lisa tersebut. Tante Windia malah membantuku dengan menjilat, mengisap dan mengulum payudara dan puting Ci Lisa.
“Aahh.. Yoo.. sshh..” akhirnya Ci Lisa meregang kenikmatannya. Aku merasakan cairan hangat membasahi penisku di dalam vaginanya.
Aku mendekap tubuh Ci Lisa yang hangat.
“Hh.. gila kamu Yo, aku pikir bakal kamu duluan..” ujar Ci Lisa. Aku tersenyum sambil melirik ke arah Tante Windia.
“Ya kan berkat bantuan Tante Windia..” jawabku seraya mencubit hidung Tante Windia. Wanita itu memelukku.
“Nah, sekarang giliran aku lagi Yo, kamu kan belum puasin aku dengan pentunganmu itu hihihi.. Ayo, kali ini pasti kamu udah nggak tahan..” Tante Windia menantangku bermain lagi. Tanpa diminta dua kali aku langsung menjawab tantangannya. Aku pun melakukan hal yang sama seperti dengan Ci Lisa tadi. Kali ini aku mengakui permainan Tante Windia yang jauh lebih liar dan berpengalaman. Akhirnya kami klimaks bersama-sama. Aku klimaks di dalam vagina Tante Windia yang hangat.
Ruang santai itu memang betul-betul hebat. Tak seorang karyawan pun yang mengetahui apa yang baru saja kami lakukan. Setelah puas bermain, kami bertiga mandi bersama. Tadinya setelah mandi kami mau melanjutkan lagi di kamar tidur Tante Windia. Tapi karena sudah sore, sebentar lagi suami Tante Windia pulang. Untungnya Ci Lisa punya ide untuk melanjutkan di hotel. Tante Windia pun setuju, namun aku dan Ci Lisa berangkat duluan. Vania Rela Memberi Ke-Perawanannya Karena Cinta Dengan Ku
Malam itu kami check-in di salah satu hotel di daerah Thamrin. Aku dan Ci Lisa lebih dulu melanjutkan permainan. Satu jam kemudian Tante Windia baru datang melengkapi kenikmatan kami. Dan yang bikin aku surprise, malam itu Tante Windia mengajak teman seprofesinya yang umurnya kira-kira lebih muda 3 atau 5 tahun, namanya Tante Ida. Malam itu aku betul-betul puas bersenang-senang dengan mereka bertiga. Kami melepas birahi sampai jam 3 pagi. Kemudian kami tidur sampai jam 9 pagi, lantas kembali menuntaskan permainan. Aku betul-betul tidak menyangka kalau gara-gara salah orang bisa sampai seperti ini.
Sampai kini aku nggak pernah ketemu dengan Fanny, teman chat-ku. Kami pun nggak pernah SMS-an lagi. Entah kemana perginya Fanny. Tapi yang jelas semenjak kejadian itu, aku terus keep contact dengan Ci Lisa, Tante Windia dan Tante Ida. Sekarang Ci Lisa sudah menikah dan tinggal di Australia dengan suaminya. Tapi kami masih sering kontak.
Sedangkan dengan Tante Windia dan Tante Ida, aku masih terus berhubungan untuk sesekali berbagi kenikmatan. Tadinya mereka ingin memeliharaku sebagai gigolo, namun aku menolak karena aku melakukannya bukan untuk uang dan materi, tapi untuk kesenangan saja. Kadang kalau Ci Lisa sedang di Indonesia, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi butik Tante Windia bersama-sama untuk melepas birahi. Tempat Tante Windia sering dijadikan tempat affair kami agar suaminya tidak curiga.
CERITA INDEHOY

Fantasi bukan untuk ditahan. Di sini, kamu bebas menelanjangi imajinasi. – Cerita panas, liar, dan penuh kenikmatan – Bukan untuk yang malu-malu – 18+ Only. Karena di sini... semua bisa terjadi 👉 ceritaindehoy.com

Lihat Semua Postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *