Ketahuan Sedang Menikmati Tubuh Anggun Sahabat Istriku Sendiri

Istriku memang sengaja tidak membangunkan aku karena tadi malam aku pulang jam 4 pagi sampai rumah. Karena memang pekerjaanku sebagai auditor selalu dikejar target laporan, beruntung dalam teamku bekerja ada satu wanita yang bebas dengan segala sesuatu, sebut saja Vanes dialah yang semalam memberikan service kepadaku untuk mengurangi keteganganku dalam bekerja, menurut dia bersetubuh dengan orang lain bukan hal tabu lagi buat dia karena dia tidak mempermasalahkan jika suaminya juga berkencan dengan suami lain, yang penting dalam prinsip dia adalah tidak lihat langsung saat kejadian tersebut.
Aku yang masih enak dikasur masih teringat dengan kejadian semalam aku tersenyum bahagia, sebetulnya saya bisa pulang awal jam 10 malam karena memang saat itu aku dan Vanes sedang horny hornynya jadi kita ber 3 ronde sampai akhirnya pagi menyambut kita.
“Walah…repot bener nih, pikiru. “Lagi sendiri, eh ngaceng.” kebetulan dia rumah tidak ada pembantu, karena istriku, indah, lebih suka bersih-bersih rumah sendiri dibantu kedua anakku. “Biar anak-anak ga manja dan bisa belajar mandiri. Lagian, bisa menghemat pengeluaran,” kilah istriku. Aku setuju saja.
Kurebahkan tubuhku di sofa ruang tengah, setelah memutar DVD BF. Sengaja kusetel, biar hasratku cepat tuntas. Setelah kucuka celanaku, aku sekarang hanya pakai kaos, dan tidak pakai celana. Pelan-pelan kuurut dan kukocok kontolku.
Tampak dari ujung lubang kontolku melelehkan cairan bening, tanda bahwa birahiku sudah memuncak tinggi. Aku pun teringat Anggun, sahabat istriku. Kebetulan Anggun berasal dari suku chinese. Dia adalah sahabat istriku sejak dari SMP hingga lulus kuliah, dan sering juga main kerumahku. Kadang sendiri, kadang bersama keluarganya.
Ya, aku memang sering berfantasi sedang menyetubuhi Anggun. Tubuhnya mungil, setinggi Vanes, tapi lebih gendut. Yang kukagumi adalah kulitnya yang sangat-sangat putih mulus, seperti warna patung lilin. Dan pantatnya yang membulat indah, sering membuatku ngaceng kalo dia berkunjung.
Aku hanya bisa membayangkan seandainnya tubuh mulus Anggun bisa kujamah, pasti nikmat sekali. Fantasiku ini ternyata membuat kontolku makin keras, merah padam can ciran bening itu mengalir lagi dengan deras. Ah Linda… seandainya aku bisa menyentuhmu… dan kamu mau ngocokin kontolku… begitu pikiranku saat itu.
Lagi enak-enak ngocok sambil nonton bokep dan membayangkan Anggun, terdengar suara langkah sepatu dan seorang memanggil-manggil istriku.
“Ndah…Indah….aku datang,” seru suara itu….
Oh my gosh… itu suara Anggun mau ngapain dia kesini, pikirku. Kapan masuknya, kok gak kedengaran? Anggun memang tidak pernah mengetuk pintu kalau ke rumahku, karena keluarga kami sudah sangat akrab dengan dia dan keluarganya.
Belum sempat aku berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan diri, tau-tau Anggun udah nongol di ruang tengah, dan
“AAAHHH…putraaaaa…!!!!, “jeritnya. “Kamu lagi ngapain?”
“Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,”aku tak bisa menjawa pertanyaannya. Gugup. Panik. Sal-ting. Semua bercampur jadi satu.
Orang yang selama ini hanya ada dalam fantasiku, tiba-tiba muncul dihadapanku dan straight, langsung melihatku dalam keadaan telanjang, gak pake celana, Cuma kaos aja. Ngaceng pula.
“Kamu dateng ok gak ngabarin dulu sih?” aku protes.
“Udah, sana, pake celana dulu!” Pagi-pagi telanjang, nonton BF sendirian, lagi ngapain sih ?” ucapnya sambil duduk di kursi di depanku.
“Yee…namanya juga lagi horny… ya udah mending colai sambil nonton bf. Lagian anak-anak sama mamanya lagi pergi ke sekolah. Ya udah, self service, “sahutku.
“Udah, Putra. Sana pake celana dulu. Kamu gak risih apa?”
“Ah, kepalang tanggung kamu dah liat? Ngapain juga dtitutupin? Telat donk, “kilahku.
“Dasar kamu ya. Ya, udah deh, aku pamit dulu. Salam aja buat istrimu. Sana, terusin lagi.” Anggun beranjak dari duduknya, dan pamit pulang.
Buru-buru aku mencegahnya. “Lin, ntar dulu lah…,”pintaku.
“Apaan sih, orang aku mau ngajak Indah jalan, dia nggak ada ya udah, aku mau jalan sendiri, “sahutnya.
“Bentar deh Anggun. Tolongin aku, gak lama kok, paling sepuluh menit,”aku berusaha merayunya.
“Gila kamu ya!!!” Linda protes sambil melotot. “Kamu jangan macem-macem deh, Putra. Gak mungkin donk aku lakukan itu,” sergahnya. “Anggun,”sahutku tenang. “Aku gak minta kamu untuk melakukan hal itu. Enggak. Aku Cuma minta tolong, kamu duduk didepanku, sambil liatin aku colai.” “Gimana?”
Anggun tidak menjawab. Matanya menatapku tajam.
Sejurus kemudian…
“Ok, Anggun. Aku janji gak ndeketin apalagi menyentuh kamu. Tapi, sebelum itu, kamu juga buka bajumu dong…pake BH sama CD aja deh, gak usah telanjang. Kan kamu dah liat punyaku, please?” aku merayunya dengan sedikit memelas sekaligus khawatir.
“Hm…fine deh. Aku bantuin deh…tapi bener ya, aku masih pake BH dan CDku dan kamu gak nyentuh aku ya. Janji lho, “katanya. “Tapi, tunggu. Aku mau tanya, kok kamu berani banget minta tolong begitu ke aku?”
“Yaaa…aku berani-beraniin…toh aku gak nyentuh kamu, Cuma liat doang. Lagian, kamu dah liat punyaku? Trus, aku lagi colai sambil liat BF… Iha ada kamu, kenapa gak minta tolong aja, liat yang asli?”kilahku.
“Dasar kamu. Ya udah deh, aku buka baju di kamar dulu.”
“Gak usah, disini aja,”sahutku.
Perlahan, dibukanya kemejanya…dan…ah payudara itu menyembul keluar. Payudara yang terbungkus BH sexy berwarna merah…menambah kontras warna kulitnya yang sangat putih dan mulus. Aku menelan ludah karena hanya bisa membayangkan seperti apa isi BH merah itu.
Setelah itu, diturunkannya zip celana jeansnya, dan dibukanya kancing celananya. Perlahan, diturunkannya jeansnya…sedikit ada keraguan di wajahnya. Tapi akhirnya, celana itu terlepas dari kaki yang dibungkusnya.
Wow…aku terbelalak melihatnya. Paha itu sangat putih sekali. Lebih putih dari yang pernah aku bayangkan. Tak ada cacat, tak ada noda. Selangkangannya masih terbungkus celana dalam mini berbahan satin, sewarna dengan Bhnya.
Sepertinya, itu adalah satu set BH dan CD.
“Nih, aku u dah buka baju. Dah, kamu terusin lagi colinya. Aku duduk ya.”
Anggun segera duduk, dan hendak menyilangkan kakinya. Buru-buru aku cegah.
“Duduknya jangan gitu dong…”
“Ih, kamu tuh ya…macem-macem banget. Emang aku musti gimana?” protes Anggun. “Nungging, gitu?”
“Ya kalo kamu mau nungging, bagus banget,”sahutku.
“Sori ye… emang gua apaan,” cibirnya.
“Kamu duduk biasa aja, tapi kakimu di buka dikit, jadi aku bisa liat celana dalam sama selangkanganmu. Toh veggy kamu gak keliatan?”usulku.
“Iya…iya…ni anak rewel banget ya. Mau colai aja pake minta macem-macem, “Linda masih saja protes dengan permintaanku.
“Begini posisi yang kamu mau?” tanyanya sambil duduk dan membuka pahanya lebar-lebar.
“Yak sip.” Sahutku. “Aku lanjut ya colinya.”
Sambil memandangi tubuh Anggun, aku terus mengocok kontolku, tapi kulakukan dengan perlahan, karena aku nggak mau cepet-cepet ejakulasi. Sayang, kalau situasi langka ini berlalau terlalu cepat. Aku pun menceracau, tapi Anggun tidak menanggapi omonganku.
“Oh…Liiiinnn….kamu kok mulus banget siiiihhh….” aku terus menceracau. Anggun menatapku dan tersenyum.
“Susumu montok bangeeeettttt… pahamu sekel dan putiiiihhhh….hhhhh….bikin aku ngaceng, Liiiiiinnn……”
Anggun terus saja menatapku dan kini bergantian, menatap wajahku dan sesekali melirik ke arah kontolku yang terus saja ngacai alias mengeluarkan lendir dari ujung lobangnya.
“Pantatmu, Liiinnn….seandainya kau boleh megang….uuuuhhhhh….apalagi kena kontolku….oouuufff…..pasti muncrat aku….,”aku merintih dan menceracau memuji keindahan tubuhnya. Sekaligus aku berharap, kata-kataku dapat membuatnya terangsang.
Anggun masih tetap diam, dan tersenyum Matanya mulai sayu, dan dapat kulihat kalo nafasnya seperti orang yang sesak nafas. Kulirik ke arah celana dalamnya…oppsss….aku menangkap sinyal kalo ternyata Anggun juga mulai terangsang dengan aktivitasku.
Karena celana dalamnya berbahan satin dan tipis, jelas sekali terlihat ada noda cairan di sekitar selangkannya. Duduknya pun mulai gelisah.
Tangannya mulai meraba dadanya, dan tangan yang satunya turun meraba paha dan selangkangannya. Tapi Anggun nampak ragu untuk melakukannya. Mungkin karena ia belum pernah melakukan ini dihadapan orang lain.
Kupejamkan mataku, agar Anggun tau bahwa aku tidak memperhatikan aktivitasku. Dan benar saja…setelah beberapa saat, aku membuka sedikit mataku, kulihat tangan kiri Anggun meremas payudaranya dan owww…BH sebelah kiri ternyata sudah diturunkan.
Astagaaa..!!! Puting itu merah sekali… tegak mengacung. Meski sudah melahirkan, dan memiliki satu anak, kuakui, payudara Anggun lebih bagus dan kencang dibandingkan Vanes. Kulihat tangan kiri Anggun memilin-milin putingnya, dan tangan kanannya ternyata telah menyusup ke dalam celana dalamnya.
“Sssshh….oofff….hhhhhh……” Kudengar suara nya mendesis seolah menahan kenikmatan. Aku kembali memejamkan mataku dan meneruskan kocokan pada kontolku sambil menikmati rintihan-rintihan Anggun.
Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hangat…basah…lembut…menerpa kontol dan tanganku.
Aku membuka mata dan terpekik. “Lin…kamu…,” leherku tercekat.
“Aku nggak tega liat kamu menderita, Putra,” sahut Anggun sambil membelai kontolku dengan tangannya yang lembut.
My gosh…perlahan impin dan obsesiku menjadi kenyataan. kontolku dibelai dan dikocok dengan tangan Anggun yang putih mulus. Aku mendesis dan membelai rambut Anggun. Kemudian secara spontan Anggun menjilat kontolku yang sudah bener-bener sewarna kepiting rebus dan sekeras kayu. Dan… hap…! Sebuah kejadian tak terduga tetapi sangat kunantikan…akhirnya kontolku masuk ke mulutnya. Ya, kontolku dihisap Anggun. Sedikit lagi pasti aku memperoleh lebih dari sekedar cunilingis.
Tak tahan dengan perlakuan sepiha Anggun, kutarik pinggulnya da n buru-buru kulepaskan Cdnya.
“Kamu mau ngapain, Putra?” Anggun protes sambil menghentikan hisapannya. Aku tidak menjawab, jariku sibuk mengusap dan meremas pantat putih nan montok, yang selama ini hanya menjadi khayalanku.
“Ohh..Lin…boleh ya aku megang pantat sama memiaw kamu?” pintaku.
“Terserah…yang penting kamu puas.”
Segera kuremas-remas pantat Anggun yang montok. Ah, obsesiku tercapai…dulu aku hanya bisa berkhayal, sekarang, tubuh Anggun terpampang dihadapanku. Puas dengan pantatnya, kuarahkan jariku turun ke anus dan vaginanya. Anggun merintih menahan rasa nikmat akibat usapan jariku.
“Achh… Liiiinn…enak bangeeeeett….sssshhh…….”aku menceracau menikmati jilatan lidah dan hangatnya mulut Anggun saat mengenyot kontolku. Betul-betul menggairahkan melihat bibir dan lidahnya yang merah menyapu lembut kepala dan batang kelelakianku. Hingga akhirnya…. Kisah ku Ngewhe Dengan Abang Ipar Ku
“Anggun….bibir kamu lembut banget sayaaaannggg.
“Keluarin sayang…kongkol kamu udah berdenyut tuh….udah mau muncrat yaaa….”
“I….iiy…..iiyyyaaaaaaa….Anggun Ouuuuufufffff…..arggggghhhhhhh…..”
Tak dapat kutahan lagi. Bobol sudah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt…
Spermaku muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir dan dada Anggun. Tanganhalus Anggun tak berhenti mengocok batang kejantananku, seolah ingin melahap habis cairan yang kumuntahkan
Ohhhh…….my dream come true….. Obsesiku tercapai… pagi ini aku muncratin pejuhku di bibir dan muka Anggun.
“Lin…kamu gak geli sayang…? Bibir, muka sama dada kamu kena spermaku?”
Anggun menggeleng dengan pandangan sayu. Tangannya masih tetap memainkan kontolku yang sedikit melemas.
“Kamu baru pertama kali kan, mainin kontol orang selain suami kamu?”
“Iya, Putra. Tapi kok aku suka ya…terus terang, bau sperma kamu seger banget…kamu rajin makan buah sama sayur ya?” tanya Anggun.
“Iya…kalo gak gitu, Indah mana mau nelen sperma aku.”
“Aihhh….” Anggun terpekik. “Indah mau nelen sperma?”
Aku mengangguk. “Kenapa Anggun? Penasaran sama rasanya? Lha itu spremaku masih meleleh di muka sama dada kamu. Coba aja rasanya,”sahutku.
“Mmmm…ccppp…ssllrppp….” terdengar lidah dan bibir Anggun mengecap spermaku. Dengan jarinya yang lentik, disapunya spermaku yang tumpah didada dan mukanya, kemudian dijilatnyajarinya smape bersih.Hmmm….akhirnya spermaku masuk kedalam tubuhnya.
“Iya, Putra, sperma kamu kok enak ya. Aku gak ngerasa enek pas nelen sperma kamu…”
“Mau lagi….?”
“Ih…kamu tuch ya…masih kurang, Putra?”
“Lha kan baru oral belum masuk ke meqi kamu, Anggun.” Sahutku…”Tuh, liat… bangun lagi kan?”
“Dasar kamu ya….”
“Benerkamu gak mau spermaku? Ya udah kalo gitu, aku mau bersih-bersih dulu.”ancamku sambil bangkit dari kursi.
“Mau sih… Cuma takut kalo Indah dateng…gimana donk….”Linda merajuk.
Perlahan kuhampiri Lida, kuminta dia duduk di sofa, sambil kedua kakiya diangkat mengangkang.
Kulihat meqinya yang licin karena cairan cintanya meleleh akibat perbuatan jariku.
“Hmmm…Lin…meqi kamu masih basah…kamu masih horny dong…”tanyaku.
“Udah, Putra….cepetan deh…nanti istrimu keburu dateng… Lagian aku udah…Auuuwwww….!!!! Ohhh..Shhhhh… menari diujung klitorisnya. .” Anggun memiawik saat lidahku
“Putrawww…kamu gilaaa yaaa… “bisiknya samil menjambak rambutku.
Kumainkan lidahku dikelentitnya yang udah membengkak. Jari ku menguak bibir vagina Anggun yang semakin membengkak. Perlahan kumasukkan telunjukku, mencari G-spotnya.
Akibatnya luar biasa. Anggun makin meronta dan merintih. Jambakannya makin kuat. Cairan birahinya makin membasahi lidah dan mulutku. Tentu saja hal ini tak kusia-siakan.
Kusedot kuat agar aku dapat menelan cairan yang meleleh dari vaginanya. Ya…aroma vagina Anggun lain dengan aroma vagina istriku. Meskipun keduanya tidak berbau amis, tapi ada sensasi tersendiri saat kuhirup aroma kewanitaan Anggun.
“C’mon….Putra…I can’t stand….ochhhh….ahhhhh…..sshhhhh….c’mon honey….quick…..quick….”
Aku paham, gerakan pantt Anggun makin liar. Makin kencang. Kurasakan pula meqinya mulai berdenyut…..seentar lagi dia meledak, pikirku.
“Ting…tong…”bel rumahku berbunyi.
“Mas…..mas putraaaaa….”suara wanita didepan memanggil namaku.
Sontak kulepaskan jilatanku. Anggun memandang wajahku dengan wajah pucat. Aku pun memandang wajahnya dengan jantung berdebar.
“Putra..kok kyaka suara Rika ya…”Anggun bertanya
“Wah..mau ngapain dia kesini…..gawat dong…”ucapku ketakutan. “Udah Anggun, kamu masuk kamarku dulu deh…cepetan…”
Segera Anggun berjingkat masuk ke kamarku, mungkin sekalian membersihkan tubuhnya karena dikamarku ada kamar mandi. Aku tau ada sebersit ekspresi kecewa di wajahnya, karena Anggun hampir meledakkan orgasmenya, yang terputus oleh kedatangan Rika, sahabatnya sekaligus sahabat istriku.
Setelah kupakai kaos dan celana yang kuambil dari lemari dan cuci muka sedikit, aku menuju ke ruang tamu, membuka pintu.
“Halo, mas….’Pa kabar..?” sahut Rika begitu melihatku membuka pintu.
“Baik, dik. Ayo masuk dulu. Tumben nih pagi-pagi, kayaknya ada yang penting?” tanyaku seraya mengajak Rika menuju ruang tengah. Mataku sedikit terbelalak melihat pakaiannya. Bagaimana tidak?
Kaos ketat menempel dibadannya, dipadukan dengan celana spandex ketat berwarna putih. Aku melihat lipatan cameltoe di selangkangannya menandakan bahwa didaerah itu tidak ada bulu jembutnya, dan saat aku berjalan dibelakangnya, tak kulihat garis celana dalam mebayang di spandexnya. Hmm…mana mungkin dia gak pake CD..mungkin pake G-string, pikirku.
Kami berdua segera menuju ruang tengah. Untung saja, film bokep yang aku setel udah selesai, jadi Rika nggak sempat melihat film apa yang tengah aku setel.
“Ini Iho mas, aku mau anter oleh-oleh. Kan kemarin aku baru dateng dari Jepang. Nah, ini aku bawain ….sedikit bawaan lah, buat kamu sama Indah. Itung-itung membagi kesenangan.”
“Wah…tengkyu banget lho…kamu baik banget”
“Ah, biasa aja lageee..hehehe” Kami berdua sejenak ngobrol-ngobrol, karena memang sudah beberapa bulan Rika nggak berkunjung ke rumahku. Rika ini adalah salah satu sahabat istriku, selain Anggun
Diam-diam, akupun juga terobsesi dapat menikmati tubuhnya. Ya, Rika seorang wanita yang mungil. Tinggi badannya nggak lebih dari 155cm.
Bandingkan dengan tinggiku yang 170. Warna kulitnya putih, tapi cenderung kemerahan. Hmm..aku sering berkhayal lagi ngent*tin Rika, sambil aku gendong dan aku rajam memiawnya dengan kontolku. Pasti dia merintih-rintih menikmati hujaman kontolku. Kisahku Ngewhe Dengan Ayah Tiri Ku Sampe Crott
“Hey….bengong aja…..ngeliatin apa sih….” tegur Rika.
“Eh…..ah….anu….enggak. cuma lagi mikir, kapan ya gw bisa jalan-jalan sama kamu…”
Eits..kok ngomongku ngelantur begini sih. Aduh…gawat deh…
“Alaaa..mikirin jalan-jalan apa lagi ngeliatin sesuatu?” Rika melirikku dengan pandangan menyelidik.
Mati aku…berarti waktu aku ngeliatin bodynya, ketahuan dong kalo aku melototin selangkangannya. Wah….
“Ya udah, mas. Aku pamit dulu, abis Indah pergi. Lagian, dari tadi kamu ngeliatin melulu. Ngeri aku…ntar diperkosa sama kamu deh..hiyyy…” Rika bergidik ambil tertawa.
Aku Cuma tersenyum.
“Ya udah, kalo kamu mau pamit. Aku gak bisa ngelarang.”
“Aku numpang pipis dulu ya. ” Rika menuju kamar mandi di sebelah kamarku.
“iya.”
Tepat saat Rika masuk kamar mandi, sambil berjingkat Anggun keluar dari kamarku.
Aku terkejut, dan segera menyuruhnya masuk lagi, karena takut ketahuan.
Ternyata CD Anggun ketinggalan di kursi yang tadi didudukinya waktu sedang aku jilat memiawnya. Astagaaa… untung Rika nggak ngeliat…atu jangan-jangan dia udah liat, makanya sempat melontarkan pandangan menyelidik? Entahlah.
“Cepeeeett..ambil trus ke kamar lagi.”perintahku sambil berbisik.
Anggun mengangguk, segera menyambar Cdnya dan…
“Ceklek….!”
Pintu kamar mandi terbuka, dan saat Rika keluar, kulihat wajahnya terkejut melihat Anggun berdiri terpaku dihadapannya sambil memegang celana dalamnya yang belum sempat dipakainya. Ditambah keadaan Anggun yang hanya memaki kaos, tetapi dibawah tidak memakai celana jeansnya.
Akupun terkejut, dan berdiri terpaku. Hatiku berdebar, tak tahu apa yang harus kuperbuat atau kuucapkan. Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan tak terelakkan. Kepalaku terasa pening.
“Anggun…? Kamu lagi ngapain?” Rika bertanya dengan wajah bingung campur kaget.
“Eh…anu…ini lho…” kudengar Anggun gelagapan menjawab pertanyaan Rika.
“Kok kamu megang celana dalem? Setengah telanjang lagi?” selidik Rika. “Oo…aku tau…pasti kamu berdua lagi berbuat yaaa…?”
“Enggak Rik. Ngaco kamu, orang Anggun lagi numpang dandan di kamarku kok.” Sergahku membela diri.
“Sini liat.” Rika menghampiri Anggun dan cepat merebut celana dalam yang dipegang Anggun, tanpa perlawanan dari Anggun.
“Kok basah…?” Rika mengerutkan keningnya. “Nhaaaaa..bener kan… hayooooo….kamu ngapain…?”
“udah deh, Rik…emang bener, aku lagi mau ML sama Anggun. Belum sempet aku ent*t, sih. Baru aku jilat-jilat memiawnya, keburu kamu dateng.” Aku menyerah dan memilih menjelaskan apa yang barusan aku lakukan.
“Kamu tuh ya… udah punya istri masih doyan yang lain. Ini cewek juga sama aja, gatel ngeliat suami sahabatnya sendiri.” Rika memaki kami berdua dengan wajah merah padam.
“Terserah kamu lah…kamu mau laporin aku sama Anggun ke polisi…silakan. Mau laporin ke Indah…terserah….”ucapku pasrah.
“Hmm…kalo aku laporin ke Indah…kasian dia. Nanti dia kaget. Kalo ke polisi….ah…ngrepotin.” Rika meninmbang-nimbang apa yang hendak dilakukannya.
“Gini aja mas. Aku gak laporin ke mana-mana. Tapi ada syaratnya.” Rika memberikan tawarannya kepadaku.
“Apa syaratnya, Rik?”
“Nggak berat kok. Gampang banget dan mudah.”
“Iya, apaan syaratnya?” Anggun ikut bertanya
“Terusin apa yang kamu berdua tadi lakuin. Aku duduk disini, nonton. Bagaimana?”
“WHAT?” aku dan Anggun berteriak bebarengan. “Gila lu ya, masa mau nonton orang lagi ML?”
“Ya terserah kamu. Mau pilih mana…?”Rika mencibir dengan senyum kemenangan.
Aku dan Anggun saling berpandangan. Kuhampiri Anggun, kubelai tangan dan rambutnya. Anggun seolah memahami dan menyetujui syarat yang diajukan Rika. Segera saja kulumat bibirnya yang ranum dan tanganku meremas pantatnya yang sekel. Anggun segera membuka kaosnya.
Sambil terus berciuman dan meremas pantatnya, kubimbing Anggun menuju sofa. Kurebahkan ia disana, dan dengan cekatan dilepaskannya kaos dan celana ku sehingga aku sekarang telanjang bulat di hadapan Anggun dan Rika.
Aku melirik Rika, yang duduk menyilangkan kakinya. Kulihat wajahnya menegang seperti tegangnya kontolku. Aku tersenyum-senyum kearahnya, sambil memainkan dan mengocok-ngocok kontolku, seolah hendak memamerkan kejantananku.
“Ayo, Putra…cepetan deh… udah gak tahan, honey… ” Anggun merintih. “Biarin aja si Rika…paling dia juga udah basah.”
“Enak aja kamu bilang. ” sergah Rika. “Udah buruan, aku pengen liat kayak apa sih kalian kalo ML.”
Aku menatap mata Anggun yang mulai sayu dan tersenyum. Setelah melepas seluruh pakaiannya, sempurnalah ketelanjangbulatan kami berdua. Tak sabar, segera k usosor memiaw Anggun yang sangat becek oleh lendir birahinya. Dapat Teman Mama dari Facebook Berujung Ngewhe
“Achhhh….sshhhh….ooouufffffggg… putraaaaa….”Anggun menjerit dan mengerang menerima serangan lidahku. Pantatnya tersentak keatas, mengikuti irama permainan lidahku.
Hmmm…nikmat sekali. memiawnya berbau segar, tanda bahwa memiaw ini sangat terawat. Dan yang membutku girang adalah lendir memiawnya yang meleleh deras, seiring dengan makin kuatnya goyangan pinggulnya.
“Hmmmppppppff… Putra…putraaaaa…sayaaaanngg.. akh…akh… akkkkkuu…”Anggun da terus merintih. Nafasnya tersengal-sengal, seolah ada sesuatu yang mendesaknya. ‘Akku……mmmhhhhh…ssshhh….”
“Keluarin sayang….keluarin yang banyak…..”aku berbisik sambil jari tengahku terus mengocok memiawnya, dan jempolku menggesek itilnya yang sudah sangat keras. Baik itil maupun memiaw Anggun sudah benar-benar berwarna merah, sangat basah akibat lendirnya yang meleleh, hingga membasahi belahan pantat dan sofa.
Segera aktivitas tanganku kuganti dengan jilatan lidahku lagi. Hal ini membuatpaha Anggun menegang, tangannya menjambak rambutku, sekaligus membenamkan kepalaku ditengah jepitan pahanya yang menegang. Aku merasakan memiawnya berdenyut, dan ada lelehan cairan hangat menerpa bibirku.
“putraaaaaaaa…..AAAAACCCCHHHHHHHHH……” Anggun menjerit keras sekali, menjepit kepalaku dengan pahanya, menekan kepalaku di selangkangannya dan berguncang hebat sekali.
Tak kusia-siakan lendir yang meleleh itu. Kusedot semuanya, kutelan semuanya. Ya, aku tidak mau membuang lendir kenikmatan Anggun. Sedotanku pada memiawnya membuat guncanganLinda makin keras…dan akhirnya Anggun terdiam seperti orang kejang. Tubuhnya kaku dan gemetaran.
“Oooohhhh…putraaaaa…aaachhh…..” bisik Linda sambil gemetar.
“Enn..en….Nik…mat…bangeth….sssse….dothan…sama jhiilatan kkk… kamu…”
Kulihat Anggun tersenyum dengan wajah puas. Segera kuarahkan bibrku melumat putingnya yang keras dan kemerahan. Meskipun sudah melahirkan dan menyusui dua anak, payudara Anggun sangat terawat, kencang. Dan putingnya masih berwwarna kemerahan. Siapa lelaki yang tahan melihat warna putting seperti itu, apalgi sekarang puting merah itu benar-benar masih keras dan mengacung meski pemiliknya barusan menggapai orgasme.
“Shhh… putraaaaa…iihhhh…geli….” Lnda menggelinjang saat kuserbu putingnya. Aku tidak mempedulikan rintihannya. Kulumat putingnya dengan ganas sehingga badan Anggun mulai mengejang lagi.
“Acchhh….putraaaaa….sayaaaannggg…”Linda merintih. “Terus sayang…iss… ssseeeppp…pen….til…kuhh…ooofffffhhhhhhh hh……”
Tanpa aba-aba, segera kusorongkan kontolku yang memang sudah mengeras seperti kayu ke memiaw Anggun. Blessss…….
“Ahhhhkkk…..mmmmppppfff…..ooooooggggghhhh….”p antat Anggun tersentak kedepan, seiring dengan menancapnya kontolku di mekinya. Kutekan kontolku makin dalam da n kuhentikan sejenak disana.
Terasa sekali memiaw Anggun berkedut-kedut, walaupun tergolong super becek.
“Ayo, putraaaaa…..gocek kontol kamuh….akk….kkuuuu….udah mau… keluarrrrr… laggiiiihhh…” Anggun merintih memohon. Segera kugocek kontolku dengan ganas. “crep.crep…cplakkk….cplaakkkk… cplaakkkk ….” suar gesekan kontolku dengan memiaw Anggun yang sudah basah kuyup nyaring terdengar. Tak lupa kulumat bibirnya yang ranum, dan tanganku menggerayang memilin menikmati payudara dan putingnya.
Sesaat kemudian kulihat mata Anggun terbalik, Cuma terlihat putihnya. Kakinya dilipat mengapit pinggul dan pantatku. Tangannya memeluk ubuhku erat.
Anggun menjerit keras dan sekejap terdiam. Tubuhnya bergetar hebat. Terasa di kontolku denyutan memiaw Linda…sangat kuat. Berdenyut-denyut, seolah hendak memijit dan memaksa spermaku untuk segera mengguyur menyiram memenya yang luar biasa becek.
Makin kuat kocokan kontolku didalam memiaw Anggun, makin kencang pula pelukannya. Nafas Anggun tertahan, seolah tidka ingin kehilangan moment-moment indah menggapai puncak kenikmatan.
Karena denyutan memiaw Anggun yang membuatku nikmat, ditambah rasa hangat karena uyuran lendir memiawnya, aku pun tak tahan. Ditambah ekspresi wajahnya yangmemandang wajahku dengan mata sayu namun tersirat kepuasan yang maat sangat.
“Ayo Putra…keluarin pejuh kamu…keluarin dimemiawku….” Anggun memohon.
“Kamu gak papa aku tumpahin pejuh di rahim kamu?” tanyaku sambil terengah-engah.
“No problem honey….aku safe kok….” sahut Anggun. “C’mon honey…shot your sperm inside…c’mon honey…”
“aku merasakan pejuhku mendesak. Kupercepat kocokanku, dan Anggun juga mengencangkan otot memiawnya, berharap agar aku cepet muncrat.
AAACCHHHHHHH………..” Jrrrrrooooooooootttt…..jrrrroooo00000 ttttt..jrrrro ooooottttt…..tak kurang dari tujuh kali semprotan pejuhku. Banyak sekali pejuh yang kusemprotkan ke rahim Anggun, sampai-sampai ia tersentak. Kubenamkan dalam-dalam kontolku, hingga terasa kepalaku speerti memasuki liang kedua.Ah….ternyata kontolku bisa menembus mulut rahimnya. Berarti pejuhku langsung menggempur rahimnya.
Ohhh…putraaaaa…enak sayang….nikmat, sayaaannggg…offffffghhhh……” Anggun merintih lagi. “Uggghhh…hangat sekali pejuh kamu, Putra…” ucap Anggun. Setelah beristirahat sejenak dengan menancapkan kontolku dalam-dalam, secara mendadak kucabu kontolku.
“Pilloookkkk….”
Kupandangi memiaw Anggun yang masih membengkak dan merah dengan lubang menganga. Anggun segera mengubah posisi duduknya dan… ceeerrrrrr…… pejuhku meleleh. Segera saja jemari Anggun meraih dan mengorek bibir memiawnya, menjaga agar pejuhku tidak tumpah kesofa.
Akibatnya, telapak tangan Anggun belepotan penuh dengan pejuhku yang telah be rcampur lendir memiawnya. Dengan pejuh di telapak tangan kanannya, Anggun menggunakan jari tangan kirinya, mengorek memiawny untuk membersihkan memiawnya dari sisa pejuhku.
“berani kamu telen lagi?” tantanganku.
“Idih…syapa takut….”Anggun balas menantangku. “Nih liat ya….”
Clep… dijilatnya telapak tangan yang penuh pejuhku…
“MMmmmm….slrrpppp….glek….aachhhh….” Anggun nampak puas menikmati pejuh ditangannya.
“Hari ini kenyang sekali aku…sarapan pejuh kamu duakali..hihihihi…”Linda tertawa geli.
“Tuh…masih ada sisanya ditangan. Mbelum bersih.” Sahutku.
“Tenang, Putra..sisanya buat…ini.” Sambil berkata begitu, Anggun mengambil sebagian pejuhku dan mengusapkannya diwajahnya.
“Bagus lho buat wajah…biar tetep mulus…”sahut Anggun sambil mengerling genit.
“Astagaaaa….kamu tuh, Lin…diem-diem ternyata…”kataku terkejut.
“Kenapa…? Kaget ya?”
“diem-diem, muka alim…tapi kalo urusan birahi liar juga ya..”
“Iya iyalaaahhh.. hare gene, Putra… orang baik kenapa ditolak.”
“Tau gitu tadi aku semprot dimuka kamu aja ya..” sesalku
“Iya juga sih..sebenernya aku pengen kamu semprot. Cuman aku dah gak bisa ngomong lagi…nahan enak sih..lagian aku pengen ngerasain semprotan pejuh kamu di memiawku.” Anggun tersenyum
“Eh, Putra…ssstttt…coba liat tuh… jailin yuk…..”ajak Anggun
Ya ampuuunnnn…aku lupa bahwa aktivitasku tengah diamat Rika. Segera kulirik Rika, yang ternyata tanpa kami sadari tengah beraktivitas sendiri.
yaitu dengan memasukan kedua jarinya ke rahim rika aktivitas seperti itu bisa disebut juga dengan masturbasi rika pun kulihat lihat rika pun merasakan kenikmatan yang didapat saat melakuan maturbasi otot otot mukannya menegang kelihatan seperti nafsu yang telah lama terpendam tidak dilampiaskan.
CERITA INDEHOY

Fantasi bukan untuk ditahan. Di sini, kamu bebas menelanjangi imajinasi. – Cerita panas, liar, dan penuh kenikmatan – Bukan untuk yang malu-malu – 18+ Only. Karena di sini... semua bisa terjadi 👉 ceritaindehoy.com

Lihat Semua Postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *