Kisah Birahi Seorang Ahli Pijet Terapis Dengan Pasiennya

Wanita itu selalu datang dengan kaos kasual dan celana jins ketatnya. Ibu itu walau sudah berusia sekitar 37 tahun masih nampak sehat dan kencang. Bodynya yang tidak lagi langsing tetapi tidak dapat menyembunyikan jejak kecantikannya di masa remaja.
Bahkan dengan body yang semakin berisi tersebut, justru semakin menonjolkan lekuk tubuh yang montok dan menggemaskan. Pak Totot, lelaki berusia 60an tahun itu selalu menyembunyikan kekaguman seksualnya di hapadan ibu setengah muda itu. Posisi dia sebagai seorang yang di percaya sebagai ahli terapi dituntut untuk menjaga keprofesionalannya di hadapan pasien-pasiennya.
Apalagi bu Citra ini adalah salah seorang pasien yang direkomendasikan oleh ponakannya, sesama ahli terapi yang dulu belajar ilmu dari dirinya. ibu yang cantik itu adalah kawan istri dari ponakannya itu. Dengan hubungan-hubungan itu, Pak Totot jelas tidak mungkin mempunyai kesempatan untu melakukan tindakan tercela ahli terapi spiritual termasuk berjalan mulus. Tidak pernah sepajang kariernya, dia melakukan tindakan tidak terpuji.
Walaupun sebenarnya, Pak Totot pun tidak mengingkari bahwa beberapa kali dia tergoda oleh beberapa pasien wanitanya. Pak Totot sendiri bukan pria yang berkelakukan baik di sepajang hidupnya. Di masa muda, dia pun terkenal jago dalam menaklukan perempuan.
Namun karena usianya yang tidak lagi muda, dan kehidupannya yang sempurna bersama istri dan anak-anaknya, lelaki tua itu kini lebih cenderung menjadi family man. Walau demikian, setelah dia mulai dikenal sebagai ahli terapi spiritual, dia banyak memiliki pasien dari berbagai kalangan, termasuk ibu-ibu muda yang mendapat masalah keluarga.
Dengan pasien-pasien semacam itulah, Pak Totot kerap tergoda untuk melakukan tindakan terpuji. Namun sejauh ini dia berhasil menghindari godaan-godaan tersebut. Apalagi istrinya adalah seorang yang setia dan sangat mempercayainya.
Hampir tidak pernah sang istri mencampuri kegiatannya dalam melakukan terapi. Walau terapi yang dilakukannya menggunakan bentuk-bentuk pijatan dan Totot urat, tetapi bagi wanita setia itu hanyalah bagian dari resiko pekerjaan yang harus dilakukan suaminya. Demikian pula Pak Totot pun tidak pernah kedapatan melakukan penyimpangan dari proses terapinya.
Tapi entah kenapa, di usia profesinya sebagai ahli terapi setelah hampir sepuluh tahun, tiba-tiba Pak Totot merasakan hal yang berbeda pada pasien yang bernama Bu Citra ini. Seperti yang diceritakan di awal, body Bu Citra memang tidak seistimewa para artist sinetron, tetapi untuk ibu seusia dia, tubuh Bu Citra termasuk istimewa. Tidak lagi langsing tetapi justru bagi pria berpengalaman seperti Pak Totot, tubuh itu ideal sebagai sebuah simbol sensualitas yang sebenarnya.
Pak Totot bahkan merasakan ada potensi sensual yang besar dari wanita terhormat itu. Walau Bu Citra selalu berpakaian biasa, dengan kaos kasualnya, tetapi kaos yang tidak begitu ketat itu tetap tidak dapat menyembunyikan bungkahan besar kedua dadanya.
Bungkahan yang walau tidak lagi kencang membusung dan mulai sedikit menggantung, tetapi justru mengundang decak kagum para pria karena montoknya. Payudara yang wajar untuk ibu ibu dengan dua anaknya yang sudah beranjak remaja.
Satu hal lain yang menonjol dari ibu itu adalah bungkahan pantatnya yang membulat dan kencang. Semua pria yang berpengalaman pasti tahu akan potensi seksual dari ibu seperti Bu Citra ini. Pantat itulah yang selalu membuat Pak Totot menelan ludah.
Bu Citra memang cenderung menggunakan pakaian yang tidak terlalu ketat untuk menyembunyikan dadanya, tetapi untuk bagian bawah, Bu Citra menyukai celana yang ketat yang menampilkan lekukan pantat dan pahanya yang menggiurkan. Paha yang langsing itu sangat serasi dengan pantatnya yang menggumpal ketat.
Point lain yang menggoda Pak Totot adalah kulit mulus putih Bu Citra yang terawat. Mungkin juga karena biasanya pasiennya adalah wanita-wanita di sekitar kampungnya yang biasanya tidak semulus dan seputih Bu Citra, maka setiap kali menyentuh kulit ibu itu, Pak Totot tidak dapat menahan gejolak birahinya. Memang Bu Citra adalah istri seorang pegawai pemerintahan berpangkat lumayan. Sehingga dia selalu dapat merawat tubuhnya dengan luluran dan makanan yang sehat.
Pak Totot masih ingat ketika pertama kali berjumpa dengan wanita itu. Mulanya Bu Citra terlihat ragu untuk menjalani terapi. Dia pergi ke Pak Totot atas rekomendasi suami temannya, yaitu keponakan Pak Totot tadi. Keluhan utama dari ibu itu adalah masalah perutnya dan masalah kegelisahan hatinya terhadap suaminya.
BACA JUGA :Mencicipi Baby Sister Keponakan ku Yang Masih Muda Dan Lugu
Pak Totot tahu bahwa masalah sakit perut wanita itu bisa jadi akibat dari stress pikirannya karena kecurigaannya selalu pada suaminya. Tetapi sepanjang terapi, Bu Citra tidak bisa terus terang mengenai masalah dengan suaminya, walau dia menyinggung tentang ketidaknyamanannya pada aktivitas suaminya.
Secara ringkas, Pak Totot tahu bahwa Bu Citra curiga pada kesetiaan suaminya. Bagi Pak Totot, informasi itu sudah cukup untuk mengurai persoalan Bu Citra. Metode yang dipakainya adalah relaksasi pada pasien baik secara mental maupun secara fisik.
Secara mental, Pak Totot akan membimbing pasien-pasiennya dengan bacaan doa dan secara fisik, dia akan menerapinya dengan pijatan dan minuman herbal ramuannya sendiri. Dengan sabar Pak Totot mencoba untuk membuat Bu Citra nyaman dan mempercayainya, karena point penting dari terapi spiritualnya adalah kepercayaan pasiennya pada dirinya. Pelan-pelan Bu Citra semakin mempercayai pria tua itu dan menjadi pasien favorit Pak Totot. Pak Totot bahkan terang-terangan memperlakukan Bu Citra sebagai pasien istimewanya, karena khusus untuk wanita itu, Pak Totot selalu menyempatkan diri menyediakan waktunya.
Biasanya Pak Totot tidak terlalu ngoyo untuk menggarap pasiennya, karena pekerjaannya sebagai ahli terapi hanyalah pekerjaan sambilan karena diberkati bakat istimewa saja. Dia sendiri masih sering bekerja sebagai seorang makelar barang antik yang sudah mulai jarang dilakukannya. Karena Pak Totot sudah cukup berumur dan kelima anaknya pun sudah semuanya bekerja dan mandiri. Pak Totot ingat, pertama kali Bu Citra datang ke rumahnya dengan berbaju biru lengan panjang yang agak longgar.
Baju itu berbahan halus dan lembut sehingga lekukan kainnya menempel lembut pada badan wanita itu. Pak Totot ingat sekali, walau pakaian itu adalah pakaian yang wajar dan sopan, namun tepat di bagian dada, kain yang lembut itu membentuk lekukan yang indah.
Kedua tonjolannya nampak membusung dan di bagian tengahnya, kain itu meliuk ke bawah mengikuti belahan dada montoknya. Pemandangan itulah yang selalu diingatnya. Apalagi sepertinya, wanita itu menggunakan bh yang bagus sehingga dadanya yang besar terlihat membusung menyedot perhatiannya. Kala itu Bu Citra diantar oleh ponakannya yang pernah menerapinya sebentar, hanya pada pijatan-pijatan di leher dan lengan. Ponakannya menyerahkan Bu Citra sebagai pasien Pak Totot karena melihat permasalahannya cukup berat untuk dikerjakannya sendiri.
Satu hal yang kurang dari Bu Citra adalah sikap tubuhnya yang cenderung agak membungkuk. Pak Totot tahu sikap itu adalah karena ketidak pedean Bu Citra pada dadanya yang besar. Sikap itu wajar dan umum pada beberapa wanita dengan dada besar, mungkin karena malu atau tidak percaya diri. Itulah yang justru akan diubah oleh Pak Totot.
Waktu itu dengan pelan dan pandangan sedikit tidak percaya, Bu Citra menceritakan masalah sakit perutnya yang sering kambuh dan emosinya yang tidak stabil, terutama saat-saat sebelum dan semasa menstruasi. Bagi Pak Totot, masalah itu adalah problem yang sering dihadapinya terutama pada ibu-ibu dengan hubungan yang tidak terlalu baik dengan suaminya. Bu Citra masih tidak membuka diri pada semua persoalannya, walau Pak Totot sendiri sudah dapat mendiagnosanya melalui kemampuannya membaca perasaan orang.
“Iya bu, saya mengerti. Terapinya nanti ada dua jenis bu. Pertama terapi fisik, yang akan membantu ibu untuk rileks, dan yang kedua adalah terapi spiritual” papar Pak Totot pada Bu Citra waktu itu.
Bu Citra nampak masih bimbang terutama pada terapi spiritual. Jelas hal tersebut karena latar belakang dan lingkungan wanita itu, karena berasal dari kalangan terdidik yang cenderung lebih percaya pada bentuk-bentuk pengobatan medis.
“Yang spiritual itu gimana, Om?” Bu Citra memanggilnya om karena mengikuti ponakannya yang mengantarnya.
“Nanti biar Yitno (ponakan Pak Totot) ikut menjelaskan. Intinya terapinya akan melalui bentuk bentuk spiritual, seperti doa, minum air yang sudah saya kasih jampi-jampi, dan yang penting ibu yakin dengan proses yang dijalani” jelas Pak Totot.
Bu Citra masih nampak gelisah.
“Yang penting lainnya, adalah sikap pasrah bu. Pasrah itu akan membantu mengendalikan emosi ibu”.
Penjelasan itu nampak masuk akal bagi Bu Citra. Dalam nalar terdidiknya, sugesti dan sikap percaya akan membantu menyelesaikan masalah psikologis. Apalagi dulu dia juga pernah kuliah psikologi sebelum menikah dengan suaminya.
Bu Citra lalu memutuskan untuk mencoba dulu terapinya. Pak Totot menyembunyikan perasaan girangnya, karena wanita cantik itu bersedia menjalani terapi. Untung dia tidak memperlihatkannya dengan jelas, karena waktu itu Bu Citra masih diantar oleh ponakannya dan dia tidak mau kelihatan begitu bernafsu pada wanita itu.
Pada saat terapi itulah awal dari godaan Pak Totot yang sesungguhnya. Seperti biasa, dia menyilahkan pasiennya untuk berbaring di dipan ruang terapinya. Bu Citra pun menurutinya. Bukan main pemandangan yang dilihat Pak Totot. Wanita itu berbaring di depannya dengan lurus, dan tepat di dadanya, gundukan itu semakin terlihat jelas. Gundukan yang menonjol jelas karena ukurannya, dan tidak mampu tertutupi oleh kain bajunya yang lembut dan tipis.
Tanpa sengaja Pak Totot menelan air liurnya. Pada awalnya dia memijat lembut kedua tangan Bu Citra. Pak Totot kembali tercekat, merasakan lembutnya kulit putih itu. Belum pernah dia merasakan sensasi kulit yang sangat lembut dari sekian banyak pasiennya selama ini.
“Oh dasar aku ini ahli terapi kampung, biasanya punya pasien mbok mbok bakul pasar”, pikirnya.
Bu Citra hanya diam saja. Sesekali dia menjawab pertanyaan Pak Totot di seputar keluhan kesehatannya.
“Hmm, memang bu, biasanya masalah emosi akan berpengaruh ke masalah lambung”, jelas Pak Totot.
Bu Citra mengangguk mengiyakan. “Iya pak, setiap emosi saya naik, perut saya pasti bermasalah”.
Pak Totot yang duduk di samping dipan sambil mengurut tangan Bu Citra kembali menjelaskan hal-hal masalah pengendalian emosi,
“yang penting ibu rileks dulu, terapi fisik ini untuk membantu ibu rileks. Makanya ibu kalau bisa jangan terlalu tegang. Santai saja bu, gak usah takut sama saya”.
“Lho siapa yang takut Om?”
“Ya siapa tahu ibu gak percaya sama saya. Padahal untuk dapat menerima energi saya, kita harus saling percaya bu” jelas Pak Totot.
“Saya percaya kok Om. Yitno juga sudah cerita tentang Om. Cuma mungkin masih perlu adaptasi dengan terapi ini”.
“Baguslah bu, gimana pijatan saya, terlalu keras?”
“Gak Om. Enak kok”, jawab Bu Citra nampak mulai lebih santai.
Pak Totot lalu berpindah ke tangan yang lain. Dia mengurut wanita itu dari telapak tangan hingga ke lengannya. Semua inci dari kulit wanita itu begitu lembutnya. Tak henti-henti Pak Totot memuji dalam hati kepandaian wanita itu dalam merawat diri. Setelah beberapa saat, Pak Totot mulai mengurut bagian kaki. Sayangnya Bu Citra mengenakan celana jins ketat sehingga Pak Totot tidak dapat mengurutnya dengan keras.
“Bu, maaf, besok lagi kalau ke sini bawa celana pendek atau celana agak lemas kainnya. Kalau diurut dengan celana jins yang keras justru tidak baik untuk kesehatan”, jelasnya.
“Iya Om, tadi soalnya belum bersiap untuk terapi”.
Di bagian ini, Pak Totot tidak lama melakukan pijatan. Tetapi dia sempat mengagumi bagian lain yang indah dari wanita itu.
Gundukan pantat montoknya sangat mengundang hasrat lelaki itu. Kala itu Bu Citra terbaring telungkup, sehingga Pak Totot leluasa mengagumi bungkahan pantat itu.
Sensasi itu luar biasa bagi Pak Totot, karena selama puluhan tahun dia sudah tidak merasakan perasaan seperti ini. Selama ini dia paling hanya sedikit tergoda, dan pikirannya pun tidak pernah semesum ini. Dalam hati dia menyalahkan pikiran nakalnya karena dia adalah orang tua yang dihormati di kampung karena kemampuan spiritualnya.
Baru kali inilah dirinya seperti remaja kembali yang dengan malu-malu menyentuh dan mengagumi cewek idamannya. Selanjutnya Pak Totot menyilahkan Bu Citra untuk duduk bersila. Dia lalu ikut naik ke dipan dan duduk di belakang wanita itu. Rezeki Nomplok Ngewhe Dengan Perawat
“Sekarang saya hendak menyalurkan energi ke punggung Ibu”, katanya. Bu Citra hanya mengangguk.
“Tolong ibu jangan membungkuk. Usahakan rileks dan konsentrasi pada getaran yang saya transfer”.
Bu Citra menurut. Dibusungkannya dadanya, sesuatu yang jarang dilakukannya. Di belakangnya, lelaki tua itu menempelkan kedua telapak tangannya ke punggungnya. Tangan itu terasa hangat. Perlahan tapi pasti, Bu Citra merasakan seuatu serupa getaran melewati punggungnya. Hangat dan menenangkan. Tetapi Pak Totot merasakan sesuatu yang lain.
Di tengah konsentrasinya menyalurkan energi, Pak Totot dapat melihat gundukan dada wanita itu semakin menonjol karena posisinya yang membusung. Apalagi tepat di mukanya, leher bagian belakang wanita itu nampak sangat halus dan harum. Mati-matian Pak Totot berusaha menepis perasaan mesumnya mengingat posisinya sebagai ahli terapi.
“Gimana Bu? Apakah terasa nyaman?”
“Hm, iya Om. Kok bisa Om?” tanya Bu Citra heran.
“Ini namanya terapi energi. Sekarang kosongkan pikiran, saya hendak menyalurkannya sampai selesai”
Terapi seperti itu menyita energi dalam Pak Totot. Beberapa saat kemudian, dia sudah kelelahan dan menyudahi terapinya. Bu Citra nampak senang dan mengalami sedikit kemajuan.
“Sudah bu. Kalau mau, kita lanjutkan minggu depan, Bu”, kata Pak Totot setelah merapalkan doanya.
“Makasih sekali, Om”. Sore itu terapi berjalan lancar dan setelah ponakannya dan Bu Citra pergi Pak Totot menghela nafas dan memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi. Baginya peristiwa siang itu membuatnya kembali seperti remaja. Wanita itu membuatnya mabuk kepayang seperti remaja kembali. Bahkan malamnya, dia tidak dapat berhenti memikirkan lembutnya kulit wanita itu. Wajah cantiknya, dan tubuh montoknya.
#####################
Pagi esoknya, Pak Totot mendapati kembali apa yang sudah lama tidak dirasakannya, yaitu ereksi pagi hari yang amat sangat. Ketika dia bangun, istrinya sudah beranjak ke pasar, sementara dirinya terbaring dengan perasaan aneh. Sudah lama dia tidak merasakan ketegangan yang sangat seperti pagi itu. Dibiarkannya sebentar batangnya sambil duduk di kasur, menunggu sampai batang itu mereda, namun sekian lama, tidak juga birahinya mereda.
Dia lalu menuju kamar mandi. Di kamar mandipun, setelah diguyur dengan air dingin, penisnya tetap tegang luar biasa. Pak Totot merasa heran, darimana perasaan itu muncul kembali. Hanya karena seorang pasien yang menarik hatinya, dia kembali seperti remaja yang dilanda puber. Setelah beberapa saat penisnya tidak ada perubahan, Pak Totot memutuskan membiarkan batang itu tegang. Dipakainya kembali kolornya walau terasa aneh karena mengganjal di selangkangannya. Sengaja dia tidak mengenakan cd, karena berharap ketegangannya dapat turun sendiri.
Dia lalu menuju ke meja makan. Di situ sudah tersedia kopi panas seperti biasa, dan beberapa cemilan jajan pasar kesukaannya.
Biasanya istrinya atau menantunya yang menyediakan segala jamuan itu. Tiba-tiba dia ingat menantunya, seorang wanita muda berusia 26 tahun yang tinggal bersama dia dan istrinya. Menantunya itu seorang wanita yang setia pada keluarga dan merelakan tinggal bersama mereka karena istri Pak Totot tidak rela ditinggal oleh semua anaknya.
Anak bungsunya sendiri, yaitu suami menantu mereka itu, setiap hari pergi ke kantornya, sedang sang menantu tinggal di rumah mengurusi urusan rumah tangga. Aziza, nama menantunya itu ternyata sedang menjemur pakaian di belakang rumah.
Pak Totot tiba-tiba berpikiran aneh. Di tengah posisi penisnya yang masih tegang, tiba-tiba dia ingin melihat bagaimana menantunya sekarang. Seperti apa pakaiannya. Dalam ingatannya selama ini, menantunya itu memiliki tubuh yang seksi walaupun sudah beranak satu. Selama ini, Pak Totot tidak pernah berpikir mengenai sang menantu itu sebagai objek seksual.
Saat ini Aziza juga sedang mengandung anaknya yang kedua, setelah berjarak 5 tahun dengan anak yang pertama. Anak mereka yang pertama sudah sekolah di tk tidak jauh dari rumah Pak Totot. Setelah menghirup kopi dan menyantap beberapa jajanan, Pak Totot menyeret tubuhnya ke belakang. Benar saja, di sana, Aziza sang menantu sedang menjemur pakaian.
Seperti yang selama ini biasa dilihatnya, Aziza mengenakan daster lengan pendek dengan bawahan hingga ke lututnya. Tidak seperti biasanya, di tengah birahinya di pagi hari, Pak Totot tiba-tiba berubah melihat perempuan muda yang sudah biasa dilihatnya itu. Pemandangan yang biasa itu sekarang menjadi pemandangan yang menggoda di matanya. Di halaman belakang, Aziza mengenakan daster lengan pendek, di mana payudaranya menonjol besar, pantat menggelembung dan perut yang mulai membusung karena kehamilan di atas 7 bulan.
Di teras belakang diam-diam Pak Totot mengagumi tubuh menantunya, walau tidak sesingset body Citra. Jelas tubuh wanita itu semakin membengkak karena kehamilannya, termasuk bagian pantat dan dadanya, namun sex appealnya tetap ada dan hampir pasti tubuh Aziza akan kembali ke bentuk semula yang indah itu setelah melahirkan nanti.
la memang pandai merawat tubuh dan rutin berolah raga sehingga dulu seusai melahirkan yang pertama pun bentuk tubuhnya pulih dengan relatif cepat. Sial bagi Pak Totot, penisnya semakin menegang tanpa kompromi. Ujung penisnya berdenyut-denyut.
Tanpa sadar dia meraba kolornya dan mengurut penisnya dari luar celananya. Aziza masih tidak sadar diawasi oleh tatapan binal mertuanya, karena posisinya sedang membelakangi Pak Totot. Sial bagi Pak Totot, karena terlalu sibuk memandangi menantunya, tanpa sadar kakinya menabrak kaleng bekas biskuit yang sering dijadikan mainan anaknya.
Klontang! Bunyi yang keras itu mengagetkan kedua insan itu. Pak Totot gugup dan memegang selangkangannya takut menantunya melihatnya.
Aziza menoleh kaget, dan bertanya kawatir, “ada apa, Pak?”
“Eh, gak papa za”, katanya dan secara spontan dia membalikkan badan hendak masuk kembali ke rumah. Sialnya dia tidak melihat batang kain pel yang disandarkan di dekat pintu. Kakinya terantuk batang itu dan karena gugup dia terjembab ke belakang. “Aduh!”
“Awas Pak!”, teriak Aziza ambil lari mengejar mertuanya.
Aziza sangat kawatir melihat mertuanya jatuh terkapar. Segera dihampirinya dan dipegangnya punggung mertuanya itu.
Pak Totot meringis kesakitan. “Gimana Pak? Sakit sekali?”, tanya Aziza panik.
“Gak papa, za. Cuma kaget saja..” kata Pak Totot menenangkan. Hanya pantatnya yang sedikit sakit. “Sini Pak, saya bantu berdiri, hati hatii…” kata Aziza sambil menopang punggung lelaki itu.
Pak Totot berdiri dengan dibantu Aziza. “Gak papa kok, za”, katanya.
“Sini, saya bantuin masuk ke dalam, Pak”.
Waktu berdiri itulah Pak Totot kembali didera malu yang sangat.
Dari balik kolornya tonjolan batang itu nampak sangat jelas dan tepat di depan menantunya yang montok. Jelas Aziza melihat tonjolan itu. Aziza pun jelas kaget. Mertuanya yang sangat dihormatinya itu entah kenapa sedang didera birahi. Tapi Aziza pura-pura tidak memperhatikan tonjolan itu. Dia dengan telaten menopang punggung Pak Totot dan membimbingnya masuk ke rumah. Sambil berjalan tertatih Pak Totot menyembunyikan mukanya dari pandangan Aziza. Jelas menantunya melihat ereksinya. Tapi berdekatan dengan perempuan montok itu, Pak Totot kembali tidak dapat menahan birahinya. Pak Totot dapat merasakan tekanan payudara Aziza di punggungnya. Payudara itu sepertinya tidak mengenakan bh, mungkin karena faktor kehamilan dan bengkaknya kelenjar susunya. Aku Dapet Hadiah Ngewhe Dari Pacarku
Penisnya saat ini malah semakin tegang, walau pantatnya agak ngilu karena jatuh tadi. Tanpa sengaja tangannya meraih pinggang Aziza sekalgus sebagai penopang tubuhnya yang limbung. Aziza membiarkan tangan itu karena kondisi mertuanya yang baru saja terjatuh. Perjalanan dari teras belakang ke sofa di ruang tengah seperti perjalanan yang tiada akhir bagi Pak Totot. Sampai di sofa ruang tengah, Aziza membantu mertuanya duduk.
“Pak, kakinya diluruskan dulu. Yang sakit mana Pak?” tanyanya dengan berusaha tenang.
“Ya pantatnya ini, za. Tapi gak begitu kok. Tolong ambilkan saja minyak urut di kamar depan za”.
Aziza berlari ke kamar mertuanya. Kesempatan itu digunakan oleh Pak Totot untuk membetulkan letak penisnya. Batang yang tegang itu susah untuk disembunyikan dibalik kolor tanpa cd nya. Di tengah sibuknya menyembunyikan ketegangannya, Aziza kembali dengan membawa minyak urut. Pak Totot segera memindahkan tangannya, walau sekilas Aziza sempat melihat aktivitas itu.
“Sini, Pak. Mana yang sakit?” tanyanya sambil bersimpuh di depan Pak Totot.
“Udah za, biar Pak sendiri”.
“Gak usah, Pak, sini, biar Mimi”. kata Aziza memaksa.
Pak Totot menurut dan dia menunjuk bagian belakang pantatnya. Aziza menarik pantat itu sehingga Pak Totot sekarang duduk miring di sofa dengan bagian kanan pantatnya ke atas. Dengan tenang Aziza melorotkan kolor mertuanya sedikit. Pak Totot tercekat.
Jelas dia kawatir penisnya terlihat dari belakang. Dengan tenang Aziza membubuhkan minyak ke pantatnya bagian atas, dan menggosok-gosoknya. Tangan wanita itu seperti mengandung listrik bagi Pak Totot yang sedang dilanda birahi. Nafasnya terengah, tapi dia membiarkan wanita itu mengurut pantatnya. Posisi itu tidak membuat Aziza leluasa mengurut pantat mertuanya.
“Pak, bisa tengkurap gak?”
“Hmm, wah, gak usah za”, kata Pak Totot gelagepan. Aziza pun tahu masalahnya.
“Gini aja Pak, nungging aja, biar saya urut dari belakang”
Pak Totot menurut. Aziza menurunkan kembali kolornya hingga semua pantat mertuanya terekspos keluar. Karena ditarik dengan keras, penis Pak Totot ikut terurai keluar dari kolornya. Pak Totot sudah tidak dapat lagi menahan sensasi yang dirasakannya.
Dibiarkannya penis itu keluar dan menggantung kaku di selangkangannya. Sementara menantunya mengurut pantatnya dari belakang. Aziza mengurut mertuanya dari pinggang hingga pantat bagian bawah. Dalam posisinya itu, dia dapat melihat testis mertuanya yang menggantung. Tetapi dia belum bisa melihat penis lelaki itu. Entah kenapa, dia penasaran untuk melihat seperti apa penis mertuanya itu. Dengan seolah-olah tidak sengaja, sambil memijit Aziza melongokkan kepalanya sedikit ke samping melihat ke bagian depan selangkangan mertuanya.
“Gimana, Pak? Masih sakit?” tanyanya sambil mengurut.
“Udah mendingan, za”, dalam pikiran Pak Totot justru tangan wanita itu yang menjadi masalahnya. Tangan yang seperti menyetrumnya dan mengalirkan sensasi luar biasa. Penisnya semakin menegang.
Aziza bergetar hebat ketika sekilas dia dapat melihat batang penis mertuanya yang menggantung di selangkangannya. Penis itu panjang dan berurat, beda dengan milik suaminya yang agak pendek dan bulet mulus. Penis mertuanya nampak keras dan berurat-urat mengerikan.
Itulah pertama kali Aziza melihat penis lain selain milik suaminya. Debaran jantung Aziza semakin mengeras. Penis itu begitu besar dan panjang di matanya. Berbentuk kasar dan kuat. Seperti belalai yang sedang kaku mengantung di depan selangkangan mertuanya. Tangan Aziza menjadi gemetar. Tanpa sadar cairan kewanitaannya mengucur dari liang rahimnya.
Pak Totot sangat tahu, bahwa perempuan hamil pada usia-usia akhir cenderung untuk selalu horny. Dia berpikir, mungkinkah Aziza menantunya itu juga horny melihat penisnya? Penasaran dengan reaksinya menantunya, Pak Totot nekat membalikkan tubuhnya. Pikir Aziza, mungkin mertuanya capek dalam posisi nungging begitu, maka dia membiarkan Pak Totot merubah posisinya.
Alangkah kagetnya Aziza, ketika mertuanya itu dengan tenang duduk dengan tetap membiarkan kolornya terbuka. Sebatang penis kaku dan panjang menjulur dari selangkangannya dan mencuat ke atas menyentuh perut lelaki tua itu. Aziza membelalak diam, bingung untuk bersikap. Di depannya mertuanya sendiri duduk dengan penis mencuat ke atas sambil menatapnya.
“Ppppakk…” katanya akhirnya.
“Kenapa, za?” tanya Pak Totot.
“Mmm….” Aziza semakin bingung.
Sementara sedari tadi lubang kewanitaannya sudah membasah. Memang sejak kehamilannya semakin menua, Aziza semakin sering horny. Hampir setiap malam dia menagih suaminya untuk disenggamai, namun karena suaminya sibuk, dia hanya bisa memberi setidaknya seminggu tiga kali. Kali ini di depannya sebatang penis tersedia, sayangnya penis itu milik mertua yang dihormatinya.
“Bapak kenapa itunya…?” tanya Aziza tanpa sadar.
“Gak tahu kenapa ini, za. Sejak melihatmu dari tadi tiba-tiba kok jadi seperti ini”, kata Pak Totot gemetar sambil membiarkan penisnya melonjak-lonjak dari selangkangannya.
selagi Aziza merasa kikuk berhadapan dengan mertuanya, tiba-tiba terdengar suara motor menderu di halaman rumah. Cepat cepat Pak Totot menaikikan celana kolornya, sedang Aziza langsung sendiri dan bergegas ke belakang.
ibu mertuanya perlahan mendekat masuk ke rumah, sedang Aziza sudah berada di dapur meneruskan perkerjaannya. Dari belakang didengarnya kedua mertuanya bercakap tentang cedera pinggang bapak mertuanya. Memuaskan Linda Istri Muda Tetangga-ku Yang Jarang Di Belai
Aziza belum mampu meredakan debar jantungnya, dan masih grogi untuk bergabung dengan kedua orang tua itu. Sementara itu celana dalam perempuan itu sudah sangat basah. Aziza bergegas ke kamar mandi untuk melepas cdnya. Sebentar lagi dia harus menjemput anaknya dari sekolah.
Nampaknya kamar mandi menjadi ruang yang tepat untuk menghindari perjumpaan dengan kedua mertuanya. Sialnya Aziza lupa membawa cd ganti. Berhubung buru-buru untuk menjemput anaknya, maka Aziza meninggalkan kamar mandi tanpa mengenakan cd dan segera keluar lewat pintu belakang menuju sekolah anaknya yang tidak jauh dari rumah itu.
Setelah menantunya pergi menjemput anaknya, Pak Totot menggunakan kamar mandi. Semenjak kaget dengan kehadiran istrinya, penisnya sudah bersikap normal dan berada dalam ukuran sewajarnya. Tetapi di kamar mandi tiba-tiba Pak Totot melihat onggokan pakaian kotor bekas dipakai menantunya dalam ember.
Penisnya yang belum sempat terpuaskan langsung kembali mencuat ke atas. Dengan gemetar, Pak Totot mengambil cd menantunya itu.
Nampak jelas di bekas bagian selangkangan cd itu basah kuyup bekas cairan kewanitaan Aziza. Pak Totot menciumi cd itu dengan penuh birahi. Gairahnya harus dituntaskan. Maka dengan cepat, dia membungkus penisnya dengan cd wanita itu. Dikocoknya batang kerasnya dengan cd itu. Beberapa saat kemudian tumpahlah cairan kenikmatannya memenuhi cd mungil itu.
Pak Totot mengerang lalu meredakan deru nafasnya menikmati orgasmenya bersama cd menantunya. Setelah nafasnya reda, cepat cepat Pak Totot menaruh kembali cd itu ke dalam ember dan membasuh badannya. Perasaan bersalah tiba-tiba mendera dirinya karena menjadikan birahi pada menantunya sendiri.
Siangnya, di kamar mandi Aziza terpana mendapati cdnya penuh cairan kental. Jantungnya berdebar keras membayangkan apa yang dilakukan oleh Bapak mertuanya. Jelas lelaki itu menjadikan dirinya sebagai objek fantasi seksual, sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya. Bagi Aziza, selama ini mertuanya itu lelaki terhormat yang sudah dianggap seperti bapak kandungnya sendiri.
Sejauh yang dia ingat, lelaki itu tidak pernah melihatnya dengan nakal. Baginya, lelaki itu sudah tua dan tidak mungkin berpikir yang bukan bukan padanya. Itulah yang membuat selama ini Aziza tidak terlalu memikirkan pakaian yang dikenakannya selama berada di rumah. Dia terbiasa memakai pakaian asal nyaman, seperti daster tipis pendek, atau bahkan celana ketat dari bahan kaos semacam legging pendek. Untuk bagian atas, sudah agak beberapa lama Aziza melepas bh nya karena kehamilannya yang membuat susunya membengkak dan tidak nyaman mengenakan bh. Semua bh nya menjadi sempit dan dia hanya mempunyai satu buah bh menyusui yang besar. Sejak kejadian itu Aziza berusaha menghindari bapak mertuanya itu.
Demikian juga Pak Totot, dia pun canggung untuk berduaan dengan Aziza. Perasaan bersalah karena menjadikan menantunya sebagai objek seksual membuatnya salah tingkah berhadapan dengan wanita itu. Mereka menjadi jarang bertatap muka, apalagi Aziza yang selalu berusaha menghindari tatapan mata lelaki tua itu. walau canggung dan agak kesal dirinya dijadikan objek seksual oleh mertua yang di anggapnya seperti ayah sendiri itu, Aziza pada akhrinya selalu bertanya-tanya ada apa dengan tubuhnya.
Kenapa tiba-tiba mertuanya bernafsu pada dirinya. Aziza menjadi sering menatap tubuhnya dalam cermin. Di muka cermin, dia mendapati tubuhnya biasa saja. Paling-paling hanya tambah berisi karena kehamilannya. Memang payudara semakin membengkak, tapi itu khan hal yang biasa bagi ibu hamil. Peristiwa itu membuatnya lama-lama mengagumi tubuhnya sendiri.
Dia mendapati pantatnya yang sekal dan montok menggelembung. Pinggangnya yang masih membentuk lekuk walau perutnya mulai membusung. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa terjawab oleh Aziza.
Hanya saja, dia merasa lega, setelah kejadian itu, dia tidak pernah mengalami lagi kejadian sejenis. Walau kadang-kadang dengan sengaja dia meninggalkan cd nya sebelum bapak mertuanya itu mandi. Tapi selama seminggu itu, dirinya tidak pernah mendapati kembali bercak sperma mertuanya di pakaian dalamnya itu. Aziza lalu berpikir bahwa mungkin saat itu kebetulan saja mertuanya sedang birahi dan kebetulan hanya ada cdnya yang dapat digunakan untuk membantu menuntaskan hasratnya. Diam-diam Aziza merasa lega dengan kesimpulannya sendiri itu.
Pak Totot memang merasa menyesal atas tindakannya pada menantunya sendiri. Dia merasa malu bukan main, justru setelah hasratnya tertuntaskan lewat cd milik Aziza. Setelah itu pikiran Pak Totot cukup kacau. Dia bingung dengan apa yang telah dilakukannya sendiri.
Beberapa hari kemudian, Yitno, keponakan sekaligus muridnya itu datang bersama istrinya. Pak Totot memang sangat dekat dengan keponakannya itu, walau keduanya pernah punya masalah. Pak Totot tidak terlalu suka dengan watak ponakannya itu. Walaupun berbakat dalam meneruskan ilmu terapinya, namun Yitno cenderung tidak bisa dipercaya terutama pada nafsunya terhadap perempuan.
Pak Totot pernah memarahi Yitno karena berselingkuh dengan salah satu pasiennya. Untung saja istri Yitno tidak sampai tahu persitiwa itu, tetapi sejak itu Pak Totot selalu berhati-hati mengontrol ponakannya itu. Untung dia tidak menggarap Bu Citra, pikir Pak Totot, mungkin juga Yitno tidak enak karena Bu Citra itu teman dekat istrinya sendiri. Seperti biasa mereka bercakap-cakap di ruang tamu. Walau kurang senang dengan wataknya, tetapi Pak Totot selalu membutuhkan ponakannya itu, karena pengetahuan dan pengalamannya yang luas. Yitno memang seorang pekerja yang rajin, pemborong bangunan yang mempunyai banyak relasi. Selalu saja Yitno mempunyai bahan pembicaraan dan kemungkinan-kemungkinan pekerjaan baru. Banyak pasien Pak Totot berasal dari relasi Yitno. Mereka lalu membicarakan tentang Bu Citra, walau cuma sekilas. Istri Yitnolah yang menanyakan perihal Bu Citra.
“Om, gimana terapinya jeng Citra?”
Pak Totot berusaha bersikap biasa, walau dirinya berdebar karena mempunyai pikiran yang nakal terhadap Bu Citra.
“Ya kondisinya masih harus pelan-pelan mengurainya. Aku tertarik untuk mengerjakan masalah Bu Citra ini dengan serius. Hanya saja sepertinya dia harus dilatih untuk yakin dengan terapi ini”.
“Gimana maksudnya, Om?”, tanya istri Yitno lagi.
“Gini, kemarin khan dia diantar oleh Yitno. Coba terapi besok usahakan dia datang sendiri. Itu penting untuk meneguhkan niatnya dalam melakukan terapi ini. Masalahnya menurutku cukup berat, Nin”, jawab Pak Totot pada istri Yitno. Nama istri Yitno itu adalah Anin. Umurnya sedikit dibawah Bu Susi.
“Oh gitu Om. Oke deh, nanti saya sampaikan sama dia”, jawab Anin.
#############
Sore itu Citra sedang bersantai dengan suaminya di ruang tengah, ketika Anin mengirim sms ke hpnya.
‘jeng, besok jadi terapi ke Om Pak Totot? beliau menganjurkan untuk jeng datang sendiri karena niatnya penting’
Citra baru menyadari janjinya dengan lelaki tua itu. Segera dijawabnya sms Anin: ‘ok bu. makasih banget’.
Lalu dia berkata pada suaminya, “Mas, besok aku terapi di tempat omnya Anin”.
Suaminya hanya melihat sebentar lalu kembali menonton tivi, sambil bertanya, “terapi apa Sus?”
“Lambungku. Aku ke sana sendiri kok, siang”
“O ya sudah, soalnya aku juga besok ada rapat sampai sore hari”
###############
Hanya dengan memikirkan kedatangan Citra nanti sore membuat hati Pak Totot berbunga-bunga. Hari itu Aziza menantunya melihatnya begitu riang. Sejak pagi lelaki tua itu sudah mandi dan bersiul-siul riang. Bahkan seharian Pak Totot mertuanya itu bermain dengan cucunya dengan gembira. Aziza juga diam-diam memperhatikan mertuanya itu berdandan agak berlebihan siang itu. Dia melihat mertuanya itu bercermin cukup lama, sambil bersenandung. Sorenya, Pak Totot bagai mendapat durian runtuh.
Citra yang dirindukannya datang sendiri dengan mengenakan kaos kasual biasa dan celana ketat untuk senam. Kedatangan wanita itu merubah semua suasana hati Pak Totot. Dengan antusias lelaki itu menyilakan Citra ke ruang terapinya, dan menggarapnya secara serius. Kali ini dia dapat memijat kaki Citra lebih lama dan nyaman karena tidak mengenakan celana jins. Bahkan pada Totot sedikit agak terlalu lama mengerjakan bagian pantat. Percakapan mereka mulai lebih cair.
Dengan kesabaran dan pengalamannya, Pak Totot mampu membuat Citra lebih terbuka dan rileks dengan percakapan mereka. Nampaknya Citra mulai lebih mempercayai lelaki itu. Citra merasakan dampak yang positif dari terapi yang dijalaninya seminggu lalu. Selama satu jam kemudian, terapi selesai dan Pak Totot memberikan dua botol air yang sudah diberi doa pada Citra.
Satu botol untuk diminum, dan sebotol yang lain untuk dibuang ke halaman belakang rumah Citra. Citra menerima air bermantra itu dengan yakin. Keyakinannya didasari oleh reaksi tubuhnya yang semakin nyaman setelah menjalani dua kali terapi. Bahkan mereka akhirnya bertukar nomer hp untuk komunikasi lebih lanjut.
Aziza akhirnya tahu apa penyebab berubahnya sikap mertuanya. Setelah kunjungan pasien wanita kota yang cantik itu, mertuanya kembali blingsatan dan matanya selalu mengikuti ke mana tubuh Aziza melangkah. Aziza tiba tiba sadar, bahwa sang mertua sepertinya birahi pada pasiennya itu dan membutuhkan pelampiasan pada tubuhnya, tubuh menantunya sendiri. Keyakinannya itu semakin kuat setelah didapatinya kembali cdnya berlumuran sperma di sore hari tepat setelah kedatangan pasien istimewanya itu.
Fakta itu membuatnya kesal, karena ternyata dirinya hanyalah pelampiasan dari gairah lelaki itu pada perempuan lain. Kekesalan yang dipendamnya karena hanya dirinyalah yang mengerti kejadian itu. Aziza semakin kesal pada mertuanya, ketika akhirnya sang mertua merubah jadwal pertemuan dengan ibu cantik itu. Citra diminta untuk datang lebih sering ke rumah Pak Totot karena terapinya membutuhkan perlakuan khusus, yang menurut Pak Totot sendiri karena masalahnya yang unik dan berat. Aziza kesal, karena dia menyadari hasrat lain dari keputusan mertuanya itu. Sejak saat itu, Citra diterapi oleh Pak Totot setiap minggu dua kali.
Citra sendiri menerima keputusan itu, karena dia juga merasa semakin percaya dengan kapasitas Pak Totot. Aziza selalu mencoba mencuri-curi pandangan ketika mertuanya sedang menggarap Citra. Sejauh ini dia melihat apa yang dilakukan mertuanya masih wajar seperti biasanya dia melakukan terapi. Hanya saja, Aziza merasa perhatian mertuanya itu pada Citra sangat berlebihan.
Aziza semakin sering melihat mertuanya berkirim sms ke seseorang, yang dia curigai bu Citra itu. Suatu saat Aziza menemukan hp mertuanya tergeletak di meja. Aziza cepat cepat melihat-lihat catatan SMS dari hp Pak Totot. Di situ terlihat begitu banyak kiriman sms pada wanita kota itu.
Bahkan beberapa kalimat mencerminkan kemesraan lebih pada wanita itu walau tidak nampak menonjol. Misalnya Pak Totot menyelipkan kata-kata “pinter”, “cantik”, bahkan “sayang” pada smsnya. Walaupun demikian, pembicaraan mereka masih sebatas proses terapi seperti nasehat Pak Totot pada apa yang perlu dilakukan dan apa yang tidak perlu dilakukan. Yang menarik perhatiannya adalah sms Pak Totot yang menganjurkan Citra untuk ‘menegakkan punggung’nya, untuk menambah percaya dirinya. Aziza tahu arah pembicaraan mertuanya itu.
Dia tahu bahwa Citra, wanita kota itu mempunyai dada yang montok dan sintal serta mengkal dan kencang padat. Dengan menegakkan punggung, maka dadanya akan semakin mencuat ke atas dan membentuk pemandangan yang membuat liur laki laki banjir.
##################
Tiba tiba Aziza sering menjadi sasaran ‘salah sentuh’ mertuanya. Pada saat Pak Totot meminta cucunya untuk digendong, dia akan dengan tanpa sengaja menggesek payudara Aziza. Pada saat Aziza mencuci piring di wastafel, tiba-tiba Pak Totot seolah mencari-cari benda di bufet atas sambil menyenggolkan selangkangannya di pantat Aziza.
Pada saat mereka bertemu di koridor rumah, Pak Totot akan ‘tanpa sengaja’ menyenggol lengan dan bahkan dada Aziza. Mulanya Aziza membiarkan saja tingkah mertuanya. Lama-lama karena kesal dia memutuskan untuk menggoda mertuanya itu. Herannya meskipun kesal, Aziza justru merasakan birahi ketika bersentuhan dengan mertuanya. Mungkin karena dampak dari kehamilannya dan mudah basahnya lubang kewanitaannya. Aku Dapet Hadiah Ngewhe Dari Pacarku
Pada akhirnya Aziza justru ingin memanfaatkan birahi mertuanya pada Bu Citra untuk menuntaskan hasratnya sendiri pada penis mertuanya itu yang panjang dan keras. Aziza semakin penasaran dengan tingkah laku mertuanya itu. Dia bertanya-tanya seberapa berani laki laki tua itu menggarap pasiennya. Beberapa kali dengan pura-pura sibuk di dapur, Aziza diam-diam berbalik menunggu di balik jendela ruang terapi mertuanya. Beberapa pertemuan hanya terapi-terapi biasa. Diam-diam Aziza justru berharap mertuanya itu melakukan sesuatu yang nakal pada Bu Citra. Hingga pada suatu siang, Aziza menemukan pemandangan ‘yang diharapkannya’.
Di dipan terapi Citra nampak berbaring telungkup biasa. Tapi di sampingnya, mertuanya mengurut kaki dengan meletakkan betis Bu Citra di pahanya. Dengan cara itu kaki Bu Citra tepat berada di selangkangan Pak Totot. Yang membuat mata Aziza terbelalak adalah penis mertuanya itu dibiarkan mencuat keluar dari lobang kolornya dan menyentuh tepat pada telapak kaki lembut pasiennya. Pemandangan itu membuat Aziza merasa birahi dan membasahkan lobang vaginanya. Hingga pada suatu saat, Aziza sempat mencuri llihat sms mertuanya pada Bu Citra.
“Pinter sayang. Besok jangan lupa ya. Gak usah bawa apa apa. Pake minyak wangi yang kemarin. Sama celana senam itu, kalau bisa kaosnya yang warna kuning itu”.
Besok siangnya, Aziza semakin penasaran dan bernafsu melihat tingkah mertuanya. Saat itu mertuanya ikut duduk di dipan terapi di samping kepala Bu Citra. Dengan lagak wajar, Pak Totot mengurut lengan Bu Citra. Yang tidak wajar adalah, Pak Totot membiarkan penisnya keluar dari kolor kumalnya dan tepat berada di depan muka Bu Citra.
Pemandangan itu bagi Aziza sangat seksi karena walau posisi muka bu Citra tepat di depan penis mertuanya, tetapi ibu cantik itu diam saja dan hanya menatap lekat-lekat pada batang yang mencuat tegang itu. Sampai akhir terapi tidak terjadi kejadian yang lebih. Tetapi justru kejadian itu membuat Aziza sangat terangsang. Tepat setelah Bu Citra berpamitan, Aziza mengambil pose di depan wastafel sambil sedikit menungging. Pak Totot nampak tertegun menatap posenya. Aziza membiarkan pantatnya membungkah terbuka sementara daster pendeknya terangkat ke atas. Lebih gila lagi, Aziza membiarkan selangkangannya tanpa celana dalam. Pak Totot melongo menatap celah memeknya yang sudah basah kuyup. Dengan pandangan dingin Aziza menunjuk ke arah bokongnya, sambil berkata,
“Pak, cepat masukkan. Mumpung ibu sedang ke pasar”.
Dengan gugup bercampur birahi memuncak, Pak Totot memposisikan dirinya di belakang Aziza. Diplorotkannya celana kolornya, dihunusnya penisnya dan segera disodokkannya ke dalam vagina menantunya itu. Aziza terpekik kaget karena kasarnya sodokan pertama itu. Tapi karena kesal bercampur birahi, Aziza membalas menyodokkan pantatnya ke belakang.
“Ayo Pak, sodok memekku seperti kamu pengen nyodok memek Bu Citra!” goda Aziza sambil menggoyang pantatnya. Pak Totot tertegun, menantunya itu tahu apa yang dirasakannya.
“Ayo Pak, kamu khan sangat ingin menyodok memek Bu Citra. Sini kubantuin, Pak. Punyaku juga enak lhooo, gak kalah sama Bu Citraaaaa….”, goda Aziza lagi sambil meremas penis itu dengan vaginanya.
Pak Totot juga merasakan nikmat akibat penisnya dijepit vagina menantunya yang masih terasa seret. la pun mulai menggerakkan pinggulnya perlahan naik-turun dan terus dipercepat diimbangi gerakan pinggul Aziza. Keduanya terus berpacu menggapai nikmat. Pak Totot mendengus, kesal campur birahi.
“Baiklah, dasar memek gatel”, katanya kasar sambil menyodok kuat-kuat.
“Kontolmu itu yang gatel pak tua mesum!” balas Aziza yang makin hilang kendali merasakan nikmat yang baru kali ini dirasakan.
Pak Totot mengerakkan pinggulnya semakin cepat dan keras. Sesekali disentakkan kedepan sehingga batang penisnya mentok ke dalam vagina menantunya itu
“Oh…Bapak !”jerit Aziza penuh nikmat setiap kali mertuanya itu menyodokkan penisnya, terasa batang itu menghantam dasar lubang vaginanya yang terdalam.
Semakin sering Pak Totot melakukannya, semakin bertambah nikmat yang dirasakan Aziza. Aziza tertawa sambil menggoyang pantatnya tak kalah liar. Jadinya mereka bersenggama dengan kasar seperti dua anjing kampung yang mengejar kenikmatan hewani.
Aziza merintih-rintih kenikmatan, sementara di belakangnya, lelaki tua kurus itu mendengus-dengus memacu nafasnya. Kejadian buru-buru itu memberikan sensasi yang luar biasa bagi dua insan berlainan jenis beda usia itu. Mereka memacu gairahnya sambil berdiri, Aziza memegang bibir wastafel, sementara mertuanya berkacak pinggang menyodok-nyodok dari belakang. Tak lama kemudian, pada hentakan yang sekian kali, wanita hamil itu merasakan otot di seluruh tubuhnya meregang, juga terasa ada yang berdenyut-denyut di dalam lubang vaginanya.
“Ahk..! Ahduh akhh!” teriaknya tertahan merasakan orgasme yang untuk pertama kali dari persetubuhan terlarangnya dengan sang mertua
Sangat nikmat dirasakan Aziza, seluruh tubuhnya terasa dialiri listrik berkekuatan rendah yang membuatnya berdesir. Sementara Pak Totot yang belum keluar terus menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Menyebabkan birahi Aziza mulai naik lagi dan namun ia menarik tubuhnya hingga penis mertuanya itu terlepas.
Aziza kemudian duduk bersimpuh di depan mertuanya. Batang penis mertuanya itu mengacung tepat di wajah manisnya. la langsung meraih batang yang masih tegang dan basah itu
“Bapak belum pernah ngerasain mulutku kan?” ia tersenyum nakal menantang mertuanya.
“Hehehehe…ternyata kamu nakal banget ya kalau lagi ngentot, ayo… Bapak juga pengen ngerasain disepong sama kamu” ia meraih kepala menantunya.
Tanpa babibu lagi, Aziza pun memasukkan penis itu ke mulutnya dan mengulumnya dengan nikmat. Sungguh pemandangan yang erotis, seorang wanita hamil melakukan oral seks dengan mertuanya sendiri yang berusia terpaut jauh darinya. Pak Totot merem-melek, gairahnya seakan semakin terbakar melihat dan merasakan bibir menantunya yang cantik ini melahap dan mengulum batang penisnya yang sedang ngaceng dan ia sangat menikmati sentuhan lidah dan bibir wanita itu, dibiarkan sang menantu memanjakan penisnya dengan mulutnya sambil meremas-remas rambutnya. Memuaskan Linda Istri Muda Tetangga-ku Yang Jarang Di Belai
Aziza dengan penuh nafsu mengulum dan menjilati batangan itu. Teknik oralnya semakin terampil hingga nikmat yang dirasakan mertuanya pun semakin tinggi. Bahkan istri yang telah puluhan tahun mendampinginya itu pun tidak mau mengulum penisnya apalagi menelan air maninya. Tapi kini menantunya sendiri, seorang istri yang sedang hamil itu dengan rakus melakukannya. Pak Totot pun merasa beruntung memiliki menantu seperti Aziza.
Tidak terpikirkan apa reaksi istri dan putranya bila tahu perbuatan gila mereka. Pria setengah baya itu merasa batang penisnya semakin sensitif dikulum dan dilumati mulut Aziza. Dan tanpa dapat ditahan lagi muncratlah cairan kenikmatan hangat dari otot tegang itu, yang segera dilahap dengan rakus oleh Aziza. Penis itu dikulum hingga hampir sepenuhnya masuk ke dalam mulutnya sehingga sperma yang tercurah langsung masuk ke tenggorokannya dan tertelan. Aziza merasakan nikmat aroma dan rasa cairan khas berwarna putih kental itu memenuhi mulutnya.
Demikian pula Pak Totot, tubuh tuanya meregang tersentak-sentak seiring curahan cairan kenikmatannya yang dengan rakus ditelan menantunya. Aziza bahkan juga menjilati cairan yang meleleh dibatang kontol hingga tuntas. Mereka melakukannya agak buru-buru karena khawatir sang nyonya segera datang. Tengah asyik-asyinya menikmati cleaning service dari menantunya, Pak Tokok mendengar suara motor istrinya datang. Mereka pun segera memisahkan diri.
Pak Totot terengah-engah sambil membetulkan celananya, sementara dengan dingin Aziza menurunkan dasternya dan kembali mencuci piring sambil mengatur kembali nafasnya yang naik turun. Pak Totot terbirit-birit menuju kamar mandi sementara istrinya masuk membawa belanjaan dengan tanpa kecurigaan apa pun.
“Wuiihh…puas deh!” kata Pak Totot dalam hati sambil kencing.
Petualangan gilanya dengan menantu cantiknya barulah awal, masih banyak kesempatan untuk melakukannya lagi, belum lagi pasiennya yang seksi dan menggiurkan itu, akan seperti apakah kelanjutan kisah ini?