Supirku Yang Nafsuan Sampe Mengguna – Gunaiku

Dalam kehidupanku tak ada masalah dengan rumah tanggan maupun lingkungan kerjaku. Suamiku juga sangat pengertian dan memenuhi segelah kebutuhanku baik lahir maupun batin. Ataupun dilahrikan dalam lingkungan yang memegang teguh agama dan adat jawa. Dan tak heran setelah kuliah aku dan mas Andri memustukan untuk menikah, sebab kita sudah lama pacaran. Dalam kehidupanku boleh dibilang berkecukupan, selain bapakku yang seorang pamong di daerah jawa tengah, orang tua Mas Andripun terbilang ornag cukup berada dan menetap di jakarta.
Sesudah menempuh hdiup bersama dalam rumah tangga kita selama 1.5 tahun, maka kita merencakan menunda punya anak. Mas Andri ingin aku mencurahkan perhatikanku kepada pekerjaan dan ingin tetapi menikmati kehidupan berdua dulu tanpa di ganggu anak dulu. Ketika ini usiaku menginjak 27 tahun. tinggiku 158cm dan rambuat sebahu. Kulitku kata teman-temanku sawo matang, sebab jika putih pasti kalah dengan orang chinese. Tak heran selama aku kuliah dulu di daerah surakarta, banyak teman sekampusku yang coba mendekati, namun hatiku terpaut pas Mas Andri saja. Bukan materi yang aku kejar pada dirinya, namun sebab sikapnya yang santun terhadap aku. Teman-teman bilang aku terlalu pemilih, namun semua itu salah, dan kebetulan Mas Andri datang kekostku selalu pakek BMW kadang Mercy miliki orang tuanya. Tapi aku lebih suka jika ia datang dan jemput pakek sepada motor saja. Bukan apa-apa, di kampungku orang tuaku juga punya mobil seperti itu.
Kehidupan seksualku normal dan Mas Andri tau tentang seleraku, ia sangat mengerti kapan kita bisa berhubungan badan dan kapan tak. Akupun tak mau Mas Andri terlalu memporsir tenaganya untuk melakukan kewajibannya. Sebagai wanita jawa aku dituntut untuk nerima dan pasrah saja.
Kita tinggi di surakarta dan menempati rumah pemberian orang tua Mas Andri. Di rumah yang luas dan asri ini, kita tinggal dan ditemani dua orang pembantu suami istri. Kedua pembantu itu sudah lama iktu dengan orang tua Mas Andri. Umur mereka kira-kira 65 tahun. Yang perempuan beranam mak Imah dan pak Sobur. Kita mempercayakan rumah kepada mereka jika kita pergi kerja.
Setiap hari aku kekantor kadang di antar Mas Andri dan kadang aku nyetir sendiri. Suatu ketika aku pulang kantor dan mau kerumah, aku tanpa sengaja menyerempet sebuah sepeda yang dikemudikan oleh seorang laki paro baya, Lelaki itu jatuh dan sebab aku takut dan kaget, maka aku larikan saja mobilku ke arah rumah. Sehingga dirumah aku, masukkan mobil dan diam di kamar. Masih terbayang olehku ketika, lelaki itu jatuh dan memanggil manggil aku untuk berhenti namun akun tancap gas.
Dirumah perasaanku tak tenang dan itu aku diamkan saja dari Mas Andri sesudah kejadian itu. besoknya aku minta diantara kekantor dengan Mas Andri. hampir tiap malam aku bermimpi bertemu dengan lelaki yang kutabrak itu. Hingga Mas Andri heran akan sikapku yang berubah dingin dan gelisah. Lalu Mas Andri menanyakan sebab perubahan sikapku itu. Akupun berterus terang dan Mas Andri memahaminya. Lalu ia sarankan aku untuk mengambil seorang suir, untuk mengantarku Akupun setuju, sebab aku memang trauma sejak ketika itu menyetir sendiri.
Beberapa hari kemudian, datanglah supir yang di cari Mas Andri itu. Alangkah kagetnya aku, soalnya itu adalah orang yang aku tabrak tempo hari. Ia-pun kaget, namun aku berusaha mengatur sikapku, aku yakin ia pun masih ingat denganku ketika ku tabrak. Supaya Mas Andri tak curiga pada orang yang kutabrak itu, maka aku setuju saja jika ia jadi supirku. Aku pikir hitung-hitung balas jasa atas kesalahanku ketika itu. Namanya Pak Riski, umurnya kira-kira 66 tahun, namun masih kuat dan sehat. Sejak itu ketika aku selalu diantarnya Pak Riski kemana aku pergi, baik kekantor atau belanja. Setiap pagi ia sudah ada di rumah, dan siap-siap membersihkan mobilku. Sedang suamiku sudah akrab dengan Pak Riski. Suatu hari ketika mengatar aku kekantor sambil bincang-bincang pak Riski, bilang padaku
“Bu…. kalau ndak salah ibu dulu, nabrak saya dengan mobil ini kan ?” tanyanya.
Akupun terdiam dan pak Riski pun berkata, ibu… kejam dan tidak bertanggung jawab, Lalu ku jawab… “maaf pak…. waktu itu memang saya salah, saya tergesa-gesa ketika itu” jawabku.
“Alahhh kalian orang kaya memang begitu…. menganggap orang lain sampah” lanjutnya
Lalu ku jawab “jangan gitu pak, saya waktu itu benar-benar khilaf” kataku lagi lalu ia diam.. aku… pun diam saja ketika itu, hingga di rumah.
Sejak kejadian itu sikapnya terhadapku jadi lain dan aku tak ambil pusing. Aneh memang kenapa sejak ketika Pak Riski bertanya kepadaku ketika itu, Aku merasakan ada sensasi tersendiri dalam hatiku ketika menatap matanya. Persaanku kepada Pak Riski serasa ingin terus bersama denganya. Jika ia pulang sore harinya, aku merasa ada yang hilang dalam hidupku. Dan pagi jika ia datang untuk mengantarku rasa itu jadi senang dan seperti kasmaran. Perasaanku kepada Mas Andri biasa saja.
Jum’at sore ketika ia menjemputku, tak tau kenapa aku minta Pak Riski untuk mampir dulu untuk singgah di sebuah restoran. Disitu aku mengambil tempat agak kesudut dan suasananya sangat romantis. Pak Riski kuajak makan. Kita duduk berhadap hadapan, ia pandangi terus mataku akupun demikian seperti aku memandang mas Andri. Tanpa ada kata-kata ia genggam jemariku ketika itu, aku merasa tenang seperti gadis remaja dengan pasangannya. Pak Riski lalu meraih tanganku dan menciumnya. Baru kali ini, tanganku di pegang orang selain suamiku dan ada rasa hangat yang mengalir di sekujur badanku. Beberapa ketika kita menikmati suasana yang tak aku hendaki itu terjadi. Sesudah itu kita keluar dari restoran itu dan menuju kemobil. Dalam mobil itu aku terdiam dan bingung akan kejadian barusan, otatkku tak berjalan sebagai mana mestinya soalnya aku bermesraan dengan sopirku yang tak sepadan denganku dan ia dengan bebasnya meraih dan meremas tanganku.
Dalam mobil sebelum berajalan, Pak Riski menoleh kearahku, dan kembali meraih jemariku dan lalu ia rengkuh badanku lalu ia kecup bibirku. Aku kembali seperti orang linglung. Sehingga dirumah aku terus terbayang sensasi kejadian tadi sore itu. Alangkah turang ajarnya sopir itu, bisik hatiku. Malam harinya, dengan separo hati, aku layani suamiku dengan apa adanya. Tak ada lagi rasa nikmat yang aku rasakan ketika Mas Andri mecumbuku dan mensebadaniku. Hatiku selalu terbayang wajah Pak Riski. Kalau pikiranku sehat ketika itu, Aku berpikir apa istimewanya Pak Riski? tak ada rasanya. Tapi aku selalu terbayang wajahnya. Hingga-hingga ketika suamiku ketika berada di atas badanku ketika melakukan hubungan badan, Aku kira Pak Riski yang di atas badanku, tapi untunglah aku masih bisa menguasai diri.
Besoknya aku sepergi biasa diantar olehnya, dan ia tambah berani dengan meraba paha dan dadaku, tangannya aku tepiskan, namun ia hanya senyum. Setiap hari, matanya tak luput memandangiku dari ujung rambut hingga kaki. Tak tau kenapa setiap hari, ada-ada saja yang ia pegang dari badanku, kadang dadaku, paha, kadang ia cium bibirku. Namun aku tak berontak. Suatu ketika ketika pulang kantor, mboil tak ia arahkan ke rumah tapi. Kerumahnya di kawasan kartosuro. Disana, suasananya sepi dan jarang ada rumah penduduk. Tak tau kenapa aku, mau saja di ajak turun dan masuk kerumahnya. yang di kelilingi pohon-pohon besar. Rumahnya terbuat dari kayu dan beratap genteng yang sudah tua. Dalam rumah itu hanya ada dipan beralaskan tikar dan sebuah bantal. Lalu Pak Riski menutup pintu rumah itu dan menyilahkan aku duduk di pinggiran dipan itu. Kalau dilihat, gubuknya seperti rumah dukun dan dindingya ada semacam tulang dan bau menyan. Tergoda Pembantu Ku Yang Mulus Dan Seksi Ternyata Masih Perawan
Pak Riski kebelakang dan tak lama kemudian muncul dan duduk di sampingku. Bu… “beginilah keadaan saya” katanya “ooo…. ndak apa lah pak?” jawabku. Lalu tiba-tiba saja ia lingkarkan tangannya di bahuku. “Aku merasa tak enak…buk…saya…ingin… merasakan kehangatan badan itu…” katanya. “Dulunya istri saya masih hidup jika ibu tabrak saya ketika itu, saya masih bisa menolongnya, namun ibu, membuat saya terlambat… dan istri saya mati” terangnya. Sekarang ibu lah yang menggantikannya…. lanjutnya lagi. Aku diam saja ketika itu, aku begitu sebab pikiran ku sudah kosong dan dalam diriku ada semacam gairah yang menghentak untuk dituntaskan dan lepaskan.
Sesusah berkata begitu, satu persatu pakaianku jatuh kelantai dan setiap inci badanku ia raih dan remah hingga aku tak berpenutup lagi. Aku ia baringkan dipan kayu itu, lalu ia bukan pakainnya hingga, sama-sama bugil dengaku. Ketika itu aku sebelunnya hanya berpakaian kantor. Lalu ia raih inci demi inci setiap rangga di badanku. Dan akhirnya ia hujamkan kejantanannya kekemaluannya berkali-kali. Hingga derit dipan itu terdengar. Aku hanya mendengus dan merasa terus dijadikan kuda pacu. Badan mulusku dijamah Pak Riski berulang-ulang. hingga akhirnya ia pencarkan cairan hangat itu di dalam kemaluanku, ada rasa hangat dan tegang ketika ia hingga orgasme. Aku pun tanpa kusdari dari tadi sudah pula klimaks. Badanku ketika itu penuh dengan keringat dan bercampur dengan keringat Pak Riski. Aku merasakan perih dan nyilu pada selangkanganku sebab kejantanank Pak Riski panjang dan besar juga. Hampir seluruh kulit badanku merah-merah dan putingku serasa panas akibat gigitan Pak Riski.
Beberapa ketika kemudian aku di suruh berpakaian dan berbenah seperti biasa lagi. Lalu aku pulang di antaranya dengan mobilku. Dalam mobil aku merasa sesal sudah mengkhianati Mas Andri, namun apa dayaku, sebab Pak Riski sangat berkuasa terhadap badanku, hingga ia berhasil menelanjanggi dan menyetubuh aku.
Sejak ketika itu, bila ada waktu ketika aku pulang kantor, Pak Riski selalu menyebadaniku dan kadang jika suamiku ke jakarta, ia dengan seenaknya tidur di rumahku dan kitapun bersebadan dengan Pak Riski di atas ranjang aku dengan Mas Andri. Setiap ia menggauliku aku selalu merasa puas dan pegal-pegal pada selangkanganku. Para pembantu tak curiga atas tindakan kita itu. Pak Riski pun tampaknya bisa menutup mulutnya kedua pembantuku. Istri Pak RT Yang Sudah Lama Tidak Dibelai Memintaku Untuk Memuaskannya
Hampir selama 6 bulan aku menjadi bulan2an nafsu Pak Riski ,itu akupun merasakannya, Namun aku sedikit tenang, aku tak bakalan hamil, sebab aku sudah memasang spiral. Dan itu aku sadari, sebab hampir setiap berhubungan seks dengan Pak Riski, ia selalu mengeluarkan sepermanya dalam rahimku. Dan memang aku sempat mencium bau tak enak ketika ia berada di atas badanku. Bau keringatnya sangat busuk, namun aku selalu mengganti sprei ranjangku setiap ia meniduriku, sebab bau keringatnya akan tinggal di kain sprei itu. Kamarpun aku semprot dengan wewangian dan ac nya selalu menyala.
Dan sekian lama barulah aku mengetahui dari seorang teman bahwa Pak Riski adalah seorang dukun dan aku sudah di guna-gunainya. Atas saran dan bantuan seorang orang pintar di tempat rekan kerjaku itu. Kini aku sudah terbebas dari guna-guna Pak Riski. lapun llau aku pecat dan ia sempat mengancamku, akan membongkar hubungan sexku dengan ku dengan suamiku. Dengan minta duit sekitar 10 juta dari tabunganku aku, minta dia keluar. Sejak ketika itu ia tak pernah muncul lagi.