Cerita Indehoy Sati Istri Orang
Cerita Indehoy Sati Istri Orang

Cerita Indehoy – Namanya adalah LarasSati biasa dipanggil Sati. Wanita berusia 29 tahun itu telah dikarunia seorang anak berusia 3 tahun. Meski telah menjadi seorang istri Sati nampak masih seperti seorang wanita lajang dikarenakan postur tubuhnya yang tetap sintal dan tidak ada tanda-tanda kendor di bagian-bagian tubuhnya sebagaimana kebanyakan wanita-wanita yang telah mempunyai anak. Terlebih lagi bibir sensual dan tubuh sekal yang dimilikinya menjadikan daya tarik tersendiri (sex appeal) yang membuat banyak laki-laki berangan-angan bagaimana rasanya mencium bibir sexy itu atau mendekap tubuh sintalnya.
Suaminya seorang wiraswasta itu sangat beruntung sekali mempunyai istri seperti Sati yang mempunyai perhatian lebih terhadap penampilan. Hal ini memang berkaitan erat dengan pekerjaan Sati sebagai seorang PR di sebuah bank swasta. Semenjak bekerja di bank tersebut Sati mempunyai jalan karir yang cukup cemerlang karena hanya dalam tempo beberapa tahun saja sejak diterima untuk bekerja di bank tersebut dia telah menempati posisi sebagai Senior PR. Sifat supelnya itulah yang menyebabkan dia banyak disukai orang termasuk oleh para customer bank tempat dia bekerja. Posisi sebagai PR senior menyebabkan Sati sering dipindah tugaskan ke cabang-cabang untuk memberikan training kepada para PR junior.
Hari ini Sati bergegas bangun. Waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi. Senin pukul 9 ia punya jadwal bertemu dengan Dirut bank serta beberapa koleganya yang berminat untuk melakukan investasi pada bank tempat Sati bekerja. Sati merasa semua telah siap karena bahan-bahan yang harus dia presentasikan telah dia tata dengan seksama pada hari Minggu kemarin. Dia bangkit dari tempat tidur kemudian segera mengambil handuk mandi. Sebelum masuk ke kamar mandi dia menuju ke meja telepon terlebih dahulu. Setelah memutar nomor yang dia kehendaki lantas terjadilah percakapan
“Mas dimana…..?”
“Masih di kota Banda”….Terdengar suara sesorang menjawab dari speaker telepon.
Hari itu suSati Sati memang berada di kota lain untuk kepentingan bisnis. Sebagai wiraswasta pemula suSatinya memang harus bepergian ke sana ke mari dalam rangka membangun bisnisnya,
“Hari ini aku akan berjumpa investor mas, doA?a,?a”?ain berhasil yach….” Sati berkata.
“Ok. Semoga sukses sayang. Mas akan pulang 3 hari lagi. Nanti kita ajak anak kita Yasmin jalan-jalan setelah saya pulang…..” timpal suaminya.
“Ok dech. Aku mandi dulu sampai ketemu ya sayang mmmuuuaahhhh…..”
Sati berkata lagi dan setelah pembicaraan singkat dia mematikan speaker telepon dan begegas masuk ke kamar mandi.
Waktu telah menunjukkan pukul 7 pagi dan Sati telah siap berangkat. Dari rumah menuju kantor membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Seperti biasa faktor macet kota Jakarta adalah kendala utama dalam menempuh perjalanan dalam kota. Sati harus berangkat agak pagian karena harus menitipkan Yasmin anaknya terlebih dahulu kepada mertuanya. Segala keperluan untuk Yasmin telah dia siapkan sehingga dengan nyaman dia dapat meninggalkan anaknya menuju kantor. Sampai di kantor sekitar 8:30 Sati segera menemui Dirut bank tersebut untuk berdiskusi pendek mengenai poin-poin penting yang akan dibicarakan dalam pertemuan bisnis nanti. Pak Johan, demikian nama Dirut bank tersebut yang berusia sekitar 45 tahun, mempersilakan Sati masuk ke ruang kerjanya.
Semenjak Sati duduk di ruang tamu tempat kerjanya pandangan Pak Johan tidak henti-hentinya menatap kepada Sati. Rupa-rupanya Pak Johan terkesiap dengan kecantikan Sati pada hari itu yang mengenakan official cap bank berwarna merah. Kulitnya yang kuning langsat itu memang sesuai dengan warna seragam yang Sati kenakan. Rok sedikit di atas lutut itu semakin mempertontonkan sebagian paha mulus Sati ketika duduk. Pak Johan sesekali melirik ke arah paha mulus tersebut ketika sedang berbicara.
“Begini Sati…konsorsium pengusaha dari asia afrika akan datang. Mereka adalah calon investor bank kita. Seperti yang telah kau ketahui bank kita mengalSati goncangan karena isu kenaikan dolar. Banyak nasabah yang melakukan rush. Oleh sebab itu ini adalah kesempatan untuk menstabilkan kondisi bank kita”
“Baik Pak nanti akan saya paparkan mengenai bank kita serta peluang-peluang yang ada….” Sahut Sati.
Setelah briefing selama 15 menit Sati keluar dari ruangan Pak Johan. Dalam hati Sati berkata ternyata boss-nya agak mata keranjang juga.
Tepat pukul 9 tamu dari konsorsium pengusaha asia afrika datang. Mereka ada 4 orang. Dua orang jelas dari afrika karena kulit hitam legamnya sedangkan dua orang lagi dari timur tengah dan India. Mereka diterima langsung oleh pak Johan dan diajak masuk ke dalam ruang meeting. Sekitar 5 menit kemudian Sati datang ke ruangan tersebut dan pak Johan memperkenalkan merakan kepadanya.
“Well my fellows this is Sati my gorgeous PR of this company”……demikian pak Johan berkata yang lansung di sambut dengan senyum oleh para tamunya.
“Asamoah…glad to see you” kata seseorang yang berasal dari Afrika.
“Glad to see you too Mr. Asamoh” jawab Sati.
Demikian pula 3 orang yang lain masing-masing memperkenalkan diri pada Sati. Mereka adalah Geremi seorang Afrika pula, Jabeer dari Timur Tengah, serta Maher dari India. Asmoah dan Geremi berusia sama yakni 40 tahun sedangkan Jabeer dan Maher masing-masing 37 dan 35 tahun. Keempatnya memiliki postur tubuh tinggi, tidak kurang dari 170 cm.
Selanjutnya acara presentasi di mulai. Sati sedikit canggung membawakan presentasi dalam bahasa inggris karena baru pertama kali dia membawakannya. Tetapi kecanggungannya itu semakin mempercantik wajahnya yang bersemu merah ketika dia sedikit kesulitan untuk mencari suatu kata yang dipandang tepat untuk dia ucapkan dan mudah dipahSati oleh para tamunya. Untunglah Pak Johan yang fasih berbahasa inggris itu banyak membantu untuk menjelaskan hal-hal yang dipandang perlu untuk dibuat detail sehingga para tamu benar-benar memahSati apa yang dimaksud oleh Sati. Setelah presentasi selama 30 menit kemudian dilanjutkan diskusi hingga acara makan siang di bank tersebut. Setelah acara makan siang itu pertemuan direncanakan untuk dilanjutkan pada sore hari setelah konsorsium itu mengadakan pembicaraan tersendiri.
Waktu telah menunjukkan 4 sore. Hari ini Sati beserta Pak Johan dan tamunya akan ke puncak untuk mendapatkan keputusan para investor. Di puncak mereka akan mengadakan meeting di villa milik Hendarso seorang usahawan perkebunan. Hendarso yang berusia 42 tahun itu adalah teman dekat Johan. Meski usianya sudah menuju setengah abad tetapi penampilannya masih mengikuti trend anak muda termasuk menggunakan satu tindik di telinganya. Badannyapun masih kelihatan kekar. Tingginya sekitar 168 cm satu senti di bawah Pak Johan. Johan telah memberitahunya kalo dia akan ke villanya bersama tamunya.
Pukul 6:30 petang mereka sampai di Villa dan disambut oleh Hendarso. Sati memberi tahu mertuanya kalau dia akan pulang malam karena urusan kantor. Setelah beristirahat sejenak pembicaraan langsung mengarah ke persoalan semula. Konsorsium menyetujui untuk melakukan investasi di bank tempat Sati bekerja.
Pak Johan sungguh gembira mendengar hal ini. Kemudian dia berkata pelan kepada Sati kalo posisinya akan dipromosikan menjadi Asisten Manager. Tentu saja Sati sangat senang mendengar hal ini. Selanjutnya Asamoah mendekati Pak Johan sambil berbisik sesuatu. Terlihat kening Pak Johan berkerut tetapi kemudian, setelah memberikan kedipan mata kepada Hendarso, dengan tersenyum dia mendekati Sati.
“Ehm…. Begini Sati untuk merayakan kesuksesan ini kita akan mengadakan pesta”
“Pesta apa pak” tanya Sati…..
Belum menjawab pertanyaan Sati, Pak Hendarso bangkit dari tempat duduknya dan segera mendekati Sati yang berdiri di dekat Pak Johan. Serta merta Pak Hendarso memeluk Sati dari belakang yang lansung membuatnya kaget setengah mati.
“Aaadd……ada apa ini pak?”
Suara Sati bergetar, menandakan ada ketegangan dalam batinnya. Secara reflek dia melepaskan diri dari pelukan Pak Hendarso. Pak Johan menjawab
“Tidak ada apa-apa Sati….” Sambil tersenyum Pak Johan melanjutkan perkataannya
“KSati hanya ingin berpesta denganmu”
“Iya kSati ingin menikmatimu” timpal Pak Hendarso dengan cepat
“Aapp…Apa maksudnya?” Sati masih bertanya dengan suara bergetar
“Ehmm…maksudnya…Lets do what you want guys..” Sorak Pak Hendarso
“Lets play friends, lets enjoy her nice body” jawab Geremi segera.
Keempat pria besar tersebut berjalan mendekati Sati yang kelihatan ketakutan.
“Tolong pak,….apa maksudnya semua ini?” Suara Sati semakin bergetar.
“Lets play honey I want fuck your pussy” Geremi berkata sambil memegang dagu Sati.
Tiba-tiba terdengar suara “Plak”. Rupanya Sati menampar Geremi yang bersikap kurang ajar kepadanya. Sejenak Geremi terkejut dengan tamparan Sati. Namun hanya dalam hitungan detik kemudian dia langsung mendekap Sati dan mendorongnya ke sofa. Sati yang tidak siap tersebut terjatuh di sofa dan Geremi langsung menindihnya.
“Aaaa……tttooollooong” jerit Sati.
Geremi berusaha untuk mencium Sati. Tangan kirinyanya menjambak rambut Sati dari belakang agar tidak dapat menoleh ke kanan dan ke kiri berusaha menghindar ciumannya. Tangan kanan Geremi pun tidak kalah garangnya meremas buah dada Sati berukuran 34B itu dengan kasar.
“Ttooollong……tolong saya pak Johan” Jerit Sati.
Pak Johan hanya terlihat menyeringai. Tatapan matanyapun mulai memerah menandakan unsur birahi mulai menyelimuti dirinya. Apalagi melihat Sati yang meronta-ronta dalam dekapan Geremi sehingga rok merahnya tersingkap dan memperlihatkan paha mulusnya. Celana dalamnya yang berwarna ungu itupun sesekali terlihat dalam rontaannya dalam usaha melepaskan diri dari tindihan Geremi. Meskipun Geremi berbadan besar tetapi dia merasa kesulitan untuk menjinakkan Sati.
“Hold her hands guys…” serunya.
Dengan cepat Asamoah dendekati sofa dan memegang kedua tangan Sati dan menahan di atas kepalanya sehingga Sati tidak bisa lagi untuk berusaha mendorong tubuh Geremi yang menggumulinya. Tanpa disuruh Jabeer dan Maher membantu memegang kaki Sati sehingga sekarang Sati-pun tidak bisa untuk berusaha menendang. Posisi Sati dibuat terlentang di atas sofa, hanya sedikit bergesar ke kanan dan kiri-lah yang ia bisa lakukan.
Dengan kedua tangannya Geremi menahan kepala Sati dan mencium bibir sensualnya dengan kasar.
“MMMmmhhhhhhhh……….” Sati tidak bisa berteriak. Suaranya seperti orang bergumam. Sejenak Geremi melepaskan ciumannya. Kesempatan ini digunakan Sati untuk berteriak
“Baaaanggggssaaatttttthhhmmmmmm”….Suaranya kembali tertahan ketika Geremi kembali melumat bibirnya.
Lidah Geremi bermain-main di dalam ronga mulut Sati. Sati mulai terlihat menangis karena merasa tidak berdaya. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang mulus. Tiba-tiba Geremi bangkit dari tubuh Sati, sedangkan tiga orang temannya masih tetap memegangi kaki dan tangan Sati dengan kuat. Pak Hendarso yang sedari tadi menonton berjalan mendekati sofa.
Ditangannya tertenteng sebuah handycam. Rupanya dia berminat untuk merekan adegan pemerkosaan itu. Setelah meng”on”kan handycam-nya dia mulai merekam keadaan Sati yang terlentang sambil dipegangi tangan dan kakinya.
“Pak Hendar….ttoolong lepaskan saya” Sati menghiba dan menangis.
Pak Hendarso tidak menjawab. Dia masih asik terus merekam gambar Sati mulai meng-closeup wajahnya, bagian dadanya, kakinya bahkan berusaha untuk merekam bagian dalam rok Sati yang tersingkap ke atas. Di bagian layar monitor itu nampak jelas celana dalam Sati yang berwarna ungu.
“Pak Johan…tolong saya pak, jangan lakukan ini pada saya” Sati terus menghiba.
Pak Johan hanya terus menyeringai menonton adegan Sati direkam.
SCENE 2
Geremi yang tadi bangkit dari tubuh Sati telah melepas baju bagian atasnya. Kelihatan sekali tubuh kekarnya, mirip dengan petinju Mike Tyson. Handycam diarahkan ke Geremi yang kembali mendekati tubuh Sati. Kedua tangan Geremi menuju ke arah bagian atas baju putih yang dikenakan Sati. Satipun mulai panik.
“Jjjaangaannnn……nnoooooo” jeritnya.
Tiba-tiba terdengar “Sssshhreeekkkkk” suara kain robek.
Geremi membetot baju Sati yang menyebabkan kancing-kancingnya terlontar entah kemana. Nampak bagian dada Sati dengan BH warna hitam yang ia kenakan. Sati semakin menjerit-jerit panik. Hatinya semakin ciut manakala terbayang bahwa tubuhnya akan dijadikan piala bergilir oleh 4 orang asing dan 2 orang pribumi.
Hendarso yang sedari tadi merekam gambar mengarahkan lensanya ke bagian dada Sati. Tak lama kemudian BH itupun telah putus ditarik oleh Geremi. Kedua tangan Geremi dengan kasar meremas buah dada Sati.
“Aaaddduhhhhh……..tttttttt”“Jaaannggaaannnnn..”
“Noooo ….please” Sati berteriak memaki sambil menangis.
Namun kesemua 6 orang yang ada di ruangan itu hanya tertawa. Meski ukurannya hanya 34B tetapi Geremi dapat merasakan kekenyalan dua gunung kembar itu. Dia terus meremas dan memilin puting payudara Sati tanpa menghiraukan tangisan Sati. Kemudian Geremi juga menyedot-nyedot kedua susu Sati yang berwarna putih mulus itu.
Setelah puas memainkan payudara Sati, Geremi bangkit lagi dan melepas celana panjang berikut celana dalam yang ia kenakan. Nampak penis pria negro itu yang sudah menegang. Ukurannya luar biasa dibandingkan milik kebanyakan pria pribumi. Melihat Geremi telanjang Sati menjerit
“Aaaaaaaaaa……tidaaaakkkkkk……nooooooooo please”
Tanpa banyak buang waktu Geremi mencari belahan rok Sati.
“Ssrreeeeetttt” maka sobeklah rok yang Sati kenakan.
“Bangsaaatt……..jangan lakukan itu padaku” jerit Sati.
Kemudian celana dalam warna ungu itupun telah robek ditarik paksa oleh Geremi.
“Jaaangaaannnnnnnnnnnnnnnn…ttttooooolllongggggggg”
Kini tubuh Sati bagian pinggang ke bawah tanpa sehelai benangpun. Hanya baju putih serta official cap warna merah yang ia kenakan. Itupun kondisinya telah terbuka berantakan memperlihatkan dua gunung kembarnya yang mungil.
“Aaggghhrrrrrrr….” Tiba-tiba Sati menjerit.
Rupanya Geremi telah mengoral vagina Sati yang terbuka. Kaki Sati dibuat mengangkang sehingga Geremi semakin leluasa mempermainkan vagina Sati. Sati terus menangis dan merasa sangat malu karena bagian-bagin tubuhnya yang selama ini dia rahasiakan telah terbuka dengan jelas dan dipelototi oleh 5 orang lainnya yang sedari tadi memperhatikan apa yang dilakukan oleh Geremi. Nafsu birahi semakin membelenggu mereka.
Selama 5 menit Geremi mengoral vagina Sati. Kemudian dia bangkit dan memposisikan dirinya tepat dihadapan Sati yang terlentang tak berdaya. Penisnya sungguh besar. Ukuran dan warnanya yang hitam membuat Sati merasa sangat ketakutan.
“Now lets fuck your nice pussy dear…….” Geremi berkata.
“Nnnooooo….please donA?a,?a”?t do that…..” Sati menghiba lagi.
Tiba-tiba terdengar lolongan Sati yang menyayat
“Aaaaggggggghhhhhhhhrrrrrrrrr…….aaaaaaaaaaaaaaaaaa aaa”
Tanpa basa basi Geremi memasukkan penisnya yang besar ke dalam vagina Sati. Ukurannya yang super itu membuat dia kesulitan untuk melewati rongga kenikmatan Sati. Meski baru bagian kepala penis saja yang masuk namun terlihat sekali wajah Sati yang kesakitan.
Bagi Sati belum pernah benda sebesar milik pria negro yang sedang memperkosanya itu masuk ke dalam liang kewanitaannya. Milik suSatinya tidaklah sebesar ukuran pria negro itu. Geremi terlihat tersenyum nikmat. Baginya wanita asia seperti Sati dengan tingginya hanya 156 cm seolah-olah bersenggama dengan gadis perawan.
Geremi terus memajukan penisnya. Tiap gerakan masuk ke dalam vaginanya terdengarlah jeritan Sati yang kesakitan. Ketika setengah penis sudah masuk nampak darah mengalir keluar. Jelas bukan darah perawan karena Sati sudah punya seorang anak.
Rupanya ukuran vaginanya yang sempit menorehkan luka di liang senggamanya akibat pemaksaan yang dilakukan oleh Geremi. Darah menetes membasahi sofa. Pak Hendarso terus merekam kejadian itu dan tak lupa meng-closeup darah yang menetes dari vagina Sati.
Sati merasakan perih yang luar biasa pada vaginanya. Dia tahu kalo pasti ada yang luka disana. Nyeri luar biasa juga ia rasakan. Sati hanya mengigit bibir bawahnya ketika pelan tetapi pasti penis Geremi menerobos vaginanya. Setelah setengah penisnya masuk tiba-tiba Geremi dengan kasar mendorong tubuhnya sehingga seluruh penisnya masuk dalam liang kewanitaan Sati.
“Aadddduuuhhhhhhhhhhh…..aaaaaagggghhhhrrrrrrrrr” Sati melolong lebih keras dari sebelumnya. Vaginanya terasa robek dengan kekasaran Geremi. Kini Geremi memompa penisnya ke luar masuk liang senggama Sati. Setiap gerakan maju mundur dibarengi dengan jeritan-jeritan kesakitan Sati yang terdengar sungguh memelas. Tetapi bagi ke 6 orang yang ada di ruangan itu suara jeritan kesakitan Sati semakin meningkatkan gairah birahi mereka. Semakin tidak sabar pula mereka menanti giliran untuk menikmati tubuh sekal Sati.
Sepuluh menit kemudian terlihat tanda-tanda Geremi akan mencapai klimaks. Geremi semakin brutal memaju mundurkan penisnya sampai nampak tubuh Sati yang tersodok-sodok. Semakin terdengar pilu jeritan kesakitan Sati. Akhirnya tuntaslah sudah. Geremi menekan tubuhnya sampai dirasakannya mentok dalam liang kewanitaan Sati. Nampak cairan putih dan merah jambu keluar dari vagina Sati. Sperma yang bercampur darah itupun turut membasahi sofa. Satu menit kemudian Geremi bangkit dari atas tubuh Sati. Dipandangnya wajah Sati yang basah oleh air mata dengan senyuman kepuasan.
“Very delicious pussy…so tight….IA?a,?a”?ve gotten to heaven” demikian kata Geremi.
Dua orang yang memegang kaki Sati, yakni Jabeer dan Maher tersenyum mendengarnya. Nampak jakun Maher bergerak-gerak menandakan birahinya sudah mulai memuncak. Geremi bangkit meninggalkan sofa dan duduk di kursi lain dekat dengan Pak Johan yang sedari tadi sambil merokok mengikuti proses perkosaan atas diri Sati. Maher yang sudah bersiap-siap menggantikan Geremi untuk memperkosa Sati tiba-tiba dihalangi oleh Pak hendarso
“Wait wait wait wait………..”
“I want to close up her pussy now” demikian kata Pak Hendarso sambil mengarahkan handycamnya ke vagina Sati yang terbuka lebar. Nampak disana ada semacam robekan mengarah ke anus Sati. Rupanya robekan daging itulah yang mengeluarkan darah akibat besarnya ukuran penis Geremi. Setelah merekam selama satu menit pak Hendarso mempersilakan Maher untuk memenuhi hasrat mengerjai tubuh Sati. Sati berusaha meronta lagi tetapi rasa nyeri dan perih di vaginanya menyebabkan usahanya sia-sia. Maher yang telah telanjang bulat itu segara mengarahkan penisnya ke vagina Sati.
“Aadduuuhhhhh……ssssaaaaakkkkiiitttttttttt” jerit Sati.
Penis pria India itu memang tidak sebesar milik Geremi, tetapi ukurannya tetap lebih besar daripada kebanyakan pria pribumi. Jelas luka pertama akibat pemaksaan yang dilakukan oleh Geremi itulah yang membuat sodokan-sodokan Maher semakin membuat Sati menderita. Sati kini hanya bisa mengluarkan lenguhan-lenguhan yang terdengar erotis bagi para pemerkosanya.
Dua pria temannya, Asamoah dan Jaber, tidak sabar lagi menanti giliran. Mereka melepaskan pegangannya terhadap tubuh Sati dan menelanjangi diri mereka sendiri.
“Lets play 4P man…..” Asamoah berkata.
Maher yang sedang asik memompa tubuhnya di atas tubuh Sati paham atas keinginan teman-temannya. Dia segera membuat gerakan menjadi posisi duduk di atas sofa sedangkan Sati berada di atas tubuhnya. Maher memompa dari bawah. Jaber berjalan ke arah belakang sofa dan menarik kepala Sati hingga dagunya tepat di atas sandaran kursi sofa. Jaber mengarahkan penisnya yang juga berukuran besar, khas orang Timur Tengah” ke mulut Sati.
Sati berusaha mengelak meski Jaber terus menempelkan kepala penisnya pada bibir sensualnya dan berusaha mendorongnya masuk. Tiba-tiba dari belakang terasa ada benda tumpul yang menempel di duburnya. Serta merta Sati menoleh dan melihat Asamoah berada di belakangnya sambil memegangi penisnya yang sama besar dengan milik Geremi ke arah anusnya. Sati terlihat panik dan sangat ketakutan.
“Noooooo…..please donA?a,?a”?t do that”……..
“Pak Johan tolong saya pak Johan. Saya tidak mau disodomi”….Sati terus berusaha meronta.
Tetapi Maher yang ada dibawahnya terus menahan tubuhnya agar tidak bisa bangkit. Posisi Sati yang agak menjorok ke depan membuat nampak semakin menggairahkan. Pak Johan yang sedari tadi menonton bergegas beranjak dari duduknya dan menuju ke arah sofa. Sati berharap Pak Johan menolongnya. Tetapi harapan Sati hanyalah tinggal harapan. Pak Johan malah membantu Asamoah yang akan melakukan sodomi atas tubuh Sati dengan cara membuka bongkahan pantat Sati sehingga lubang anusnya pun semakin terlihat jelas.
Sati berusaha keras bangkit dengan kedua tangannya yang bebas. Gerakan rontaan itu membuat susah Asamoah mengarahkan penisnya dengan tepat ke arah lubang dubur Sati. Jabeer segera berinisiatif menahan kedua tangan Sati di atas sandaran sofa sehingga seluruh tubuh Sati kini ditopang oleh Maher yang ada di bawahnya. Di bawah Maher merasakan lembutnya buah dada Sati yang kenyal. Kini belahan pantat Sati yang terbuka lebar oleh kedua tangan Pak Johan siap ditembus oleh penis besar Asamoah.
“Jangaaannn…..jangaannn…… di situ….lepaskan saya Pak Johan”
“Noooo…please….donA?a,?a”?t fuck my ass pleaazzzeeeeee…” Sati merintih.
Asamoah tidak peduli dengan rintihan Sati. Setelah melumasi penisnya dengan baby oil Asamoah siap melakukan penetrasi ke dubur Sati.
“heegghhhhh……aaaagggggggghhhhhrrrrrrrrrrr…aaaaaaaa aaddduuuuuhhhhhhhhhhh……”“Saakiitttttttttttttttttttttttttttttttttttttt…………… ..A?a,?a”?
Sati menjerit melolong ketika dengan kasar Asamoah memasukkan penis berukuran besar miliknya ke dalam duburnya. Pak Hendarso merekam adegan sodomi itu. Terlihat jelas bagaimana lubang dubur Sati melesak masuk akibat paksaan penetrasi penis Asamoah. Asamoah terus memasukkan penisnya sampai seluruhnya amblas ke dalam dubur Sati.
Sati terus melolong sampai mengeluarkan suara yang terdengar mengerikan dan menyayat. Hari ini seorang pria negro bernama Asamoah telah memperawani lubang duburnya. Sakitnya luar biasa. Jauh lebih sakit dibandingkan malam pertama dia menyerahkan mahkotanya pada suSatinya.
Duburnya pun terasa penuh seolah-olah ingin buang air besar. Kini dua rasa perih dan nyeri menyerang vagina dan duburnya. Saat Sati melolong kesempatan tersebut digunakan oleh Jabeer untuk memasukkan penisnya ke dalam mulut Sati. Kini ketiga lubang tubuh Sati sedang dinikmati oleh 3 pria asing. Asamoah melakukan sodokan-sodokan dengan keras dari arah belakang.
Demikian pula Maher dari arah bawah bergantian dengan Asamoah melakukan sodokan. Sati merasakan lubang anusnya robek dan memang ada lelehan darah yang keluar dari duburnya. Namun Sati tidak bisa berteriak keras lagi karena sumbatan penis Jabeer di mulutnya. Ketiganya memompa bersama-sama.
“Hheemmmm…hheemmmmm…heeemmmmm” hanya itulah yang terdengar dari teriakan Sati.
Sekitar 20 menit pemerkosaan 4P itu berlangsung. Jabeer terlebih dahulu klimaks dan menumpahkan seluruh cairan kental miliknya dalam mulut Sati. Sati tidak bisa memuntahkan sperma yang ada dalam mulutnya. Satu-satu jalan untuk mengurangi rasi asin dan getir cairan birahi Jabeer adalah dengan menelannya dan itulah yang dilakukan olehnya. Tak lama kemudian Jabeer menarik penisnya keluar dari mulut Sati. Sisa-sisa sperma dalam mulut Sati mengalir keluar dari sela-sela bibir sensualnya. Kini terdengar suara erangan Sati yang sedikit lebih keras karena mulutnya telah terbebas dari sumbatan penis Jabeer
“Adduhhhh…aadduhhhhh..aaakkkhhhhh……….sssaaakiitttt ”
Asamoah dan Maher masih terus memompa dan semakin cepat. Keduanya klimaks bersamaan ditandai dengan lenguhan kenikmatan kedua pria tersebut. Asamoah segera mencabut penisnya dari rongga dubur Sati. Darah masih terlihat pada batang penis Asamoah. Maher pun telah loyo di bawah tubuh Sati. Maher segera menggulingkan tubuh Sati ke sofa dan bangkit dari sofa.
“Ka..kaa…liaann semuaaa….baaanggsaattA?a,?a”?A?a,?a”?
Sati memaki dengan pelan dan lirih. Tubuhnya telah tidak berdaya. Kini dalam tubuhnya telah mengalir benih nista yang dimasukkan secara paksa oleh Geremi dan Maher. Sati merasa noda telah meyelimuti hidupnya.
SCENE 3
Kini giliran Pak Hendarso dan Johan ambil jatah. Keduanya sepakat akan melakukan permainan 3P.
“Ayo Sati berikan kSati kenikmatan tubuhmu yang indah itu” seringai Pak Hendarso.
“Benar saya ingin merasakan hangatnya lubang mataharimu sayang…” Pak Johan menimpali.
Kini gantian Geremi yang akan mengabadikan pemerkosaan yang akan dilakukan oleh Pak Johan dan Hendarso.
“Tidaakkk…..jangan lagi…..kasihani saya pak….” Tangis Sati semakin keras lagi sambil menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi payudaranya yang terbuka.
Namun kedua bandot tua itu tidak peduli dengan ketakutan Sati. Semakin takut semakin tinggi pula hasrat seksual kedua orang itu.
Pak Hendarso segera mencengkeram tangan Sati dan membalik tubuhnya hingga tengkurap. Official cap merah Sati beserta blouse putih yang dikenakannya ia lucuti sehingga kini Sati benar-benar telah telanjang bulat. Kedua tangan Sati ditahannya sehingga tubuhnya tidak bisa lagi bergerak leluasa. Pak Johan melihat punggung Sati yang mulus serta bongkahan pantat yang menggairahkan. Dia mengambil posisi di atas paha Sati bagian belakang. Kemudian tangan kirinya membuka lubang anus Sati sedangkan tangan kanannya mengarahkan penisnya ke lubang matahari itu.
“Ttiiiiddaakkkkkk…..janganaan laaaggiii dii situuuuuuuuu”
“Ampun pak Johan…..sakit sekali……”
“Dubur Sati perih dan panas pak Johan….jangan disitu lagi”
“Saya mohon pak Johan”….Sati terus menghiba.
Namun orang yang namanya Johan ini tidak mau ambil pusing dengan rintihan memelas Sati. Dia tetap mengarahkan batang penisnya ke dubur Sati dan…
“Aaggghhhhhhhh…jjaaangggaaaaaannnnnnnnnnn……” Sati kembali melolong.
Kini Pak Johan telah memompa duburnya dengan cepat dan kasar. Ternyata orang ini adalah maniak seks diluar tampangnya yang kebapakan. Pak Hendarso kini melepas pegangannya dan membiarkan Pak Johan sendirian menggumuli tubuh Sati yang tengkurap. Tangan kanan Pak Johan pun ambil bagian meremas buah dada Sati.
Sati merintih-rintih kesakitan ketika duburnya dengan kasar disodomi oleh atasannya. Sekitar 7 menit Pak Johan telah mencapai klimaks dan tidak lama kemudian dia bangkit dari tubuh Sati yang tengkurap lemas. Pak Hendarso menggantikan posisinya siap melakukan sodomi juga.
“Agggahhhhhhh…..banggssaaaaatttttttttt” Sati menjerit lagi.
Sudah tiga orang melakukan sodomi padanya tetapi rasa sakit itu tidak berkurang juga. Malah semakin menjadi-jadi meski ukuran penis kedua orang terakhir yang memperkosanya berukuran lebih kecil dari milik Asamoah. Sekitar 10 menit Pak Hendarso memperkosa liang anus Sati. Tanda-tanda ejakulasi sudah nampak ketika Pak Hendarso semakin cepat memompa dubur Sati. Sati semakin merasakan perih di duburnya. Pak Hendarso melenguh keras ketika cairan nistanya keluar membasahi rongga dubur Sati. Sati merasakan anusnya bertambah perih karena sperma yang membasahi robekan luka di duburnya.
Waktu telah menunjukkan pukul 11:30 malam. Kini kelima pemerkosa Sati bersiap mengantarkan Sati pulang. Saat itu Sati sudah tidak kuat bangkit. Rasa nyeri dan perih di vagina dan anus yang dirasakannnya membuatnya tidak mampu berdiri. Geremi menggendong Sati sampai ke dalam mobil van yang mereka gunakan. Baju Sati yang robekpun telah mereka ganti dengan kaos besar ukuran XXL sehingga ujung bagian bawahnya sampai setengah paha Sati.
Dengan demikian meski tidak mengenakan celana dalam tidak akan ada seorangpun yang tahu. Dalam perjalanan pulang Sati didudukkan di belakang di apit oleh Jabeer dan Maheer sedangkan Asamoah berada di kursi depan bersama Pak Johan yang menyetir mobil. Geremi duduk di tengah. Selama perjalanan Geremi mengisengi Sati dengan memasukkan dildo zhucini (buah mirip mentimum yang ukurannya cukup besar) yang dia ambil dari kulkas saat masih berada di villa milik Hendarso.
Sati sudah tidak mampu berteriak, matanya kelihatan sembab dan luyu. Hanya erangan lirih yang terdengar ketikan dua buah zhucini dimasukkan kedalam vagina dan anusnya. Meski sudah tidak ada darah lagi yang menetes dari dua lubang kenikmatan itu tetap saja rasa perih dan panas dirasakan oleh Sati akibat luka lecet pemerkosaan di villa sebelumnya.
Setelah sampai Pak Johan memasukkan mobilnya ke pelataran rumah Sati agar tidak dicurigai orang. Dengan mengambil kunci rumah dari tas Sati pak Johan membuka pintu dan meminta Geremi membawa Sati masuk ke dalam. Geremi merebahkan Sati di sofa tamu dan segera ke luar menuju van. Pak Johan berjalan mendekati Sati dan berkata
“Pastikan hanya kita yang tahu atau rekaman gambar itu akan beredar ke mana-mana”
Sati hanya diam tidak mampu berkata. Setelah Pak Johan menutup pintu dan terdengar suara mobil yang meninggalkan pelataran Sati hanya bisa menyesali nasibnya sebagai korban pemerkosaan bergiliran. Air matanya terus meleleh membasahi pipinya yang mulus. Pandangannya setengah kosong. Pikirannya menerawang kepada suSati dan anaknya.
Pasti bahwa tidak kurang dari seminggu setelah pemerkosaan bergiliran ini belum tentu dia akan sanggup memberikan kehangatan pada suSatinya. Luka di alat vitalnya tentu membutuhkan waktu lama untuk sembuh terlebih lagi trauma yang dialSatinya. Sati terus menerawang ke arah langit-langit rumah. Membayangkan masa depannya. Membayangkan noda di tubuhnya. Membayangkan………………………
SCENE 4: EPISODE TRAUMA
Sudah hampir 2 bulan lebih semenjak kejadianLaras Sati digilir oleh 3 orang pria asing dan 3 orang pria pribumi wanita cantik semampai bertubuh sintal dan berkulit sangat mulus itu tidak dapat melupakan malam jahanam yang telah merenggut kehormatannya dan menorehkan noda yang mengalir dalam tubuhnya. Setiap malam kejadian itu menghantui mimpi buruknya seakan-akan rasa sakit di tubuhnya terlebih lagi hatinya masih terus ia rasakan. Masih terekam dalam ingatannya bagaimana pada malam jahanam itu tubuh mulusnya di bolak balik seperti sebuah boneka mainan untuk dinikmati secara brutal oleh 6 orang pemerkosa.
Meski kejadian itu telah berlalu, kini setiap suSatinya Kamal meminta kepada dirinya untuk melayani hasrat birahinya seketika itu jugaLaras Sati kehilangan gairah seksualnya. Tiap kali Kamal meminta untuk melakukan hubungan seks suSati istri seketika itu pula rasa ketakutan yang amat sangat melanda jiwaLaras Sati. SungguhLaras Sati tidak ingin untuk mengecewakan Kamal suSatinya. Namun, semenjak tubuhnya dijadikan bulan-bulanan oleh para lelaki jahanam itu kini seluruh organ seksualLaras Sati seolah-olah mengalSati frigiditas. Rasa ketakutan yang amat sangat untuk melakukan hubungan seks kini melanda wanita cantik bertubuh sintal itu.
Sejak Kamal pulang dari kota Banda belum sekalipun dia menikmati tubuh sintal istrinya yang mulus dan menggiurkan itu. Bahkan istrinya itupun selalu menghindar apabila Kamal berhasrat untuk mencium bibirnya yang sensual. Sebenarnya Kamal dapat merasakan perubahan itu. TetapiLaras Sati menyimpan rapat-rapat aib yang telah merusak kehormatannya itu. Dua minggu pertama setelah dirinya diperkosa habis-habisan oleh 6 pria durjana ituLaras Sati mengalSati pendarahan pada alat kelSatinnya.
Demikian pula pada anusnya yang membenjol akibat disetubuhi paksa dengan cara anal seks. Oleh sebab itu pulaLaras Sati harus selalu menggunakan softex karena pendarahan sehingga seolah-olah dirinya sedang menstruasi. Untuk berjalanpunLaras Sati merasakan sakit dan perih yang menyengat di alat kelSatinnya maupun duburnya. Dengan demikian hal itu dapat menjadikan alasan bagi Kamal untuk tidak dulu menikmati tubuhnya.
Kini telah sebulan lebihLaras Sati tidak mengenakan softex lagi. Dan Kamalpun tahu hal itu. Malam ini libido pria itu terasa naik. Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Besok hari Sabtu dia harus berangkat ke Manado untuk urusan bisnis selama tiga minggu. Malam ini dipandanginya tubuhLaras Sati yang sedang tidur memunggungi dirinya. Baju tidurnya yang tipis itu tidak dapat menyembunyikan lekuk-lekuk tubuhLaras Sati yang sungguh indah.
Pinggulnya yang sexy serta pantatnya yang membongkah membulat membuat dirinya berhasrat sekali untuk kembali menikmati kehangatan tubuh istrinya itu. Sesaat dipandangnya rok baju tidurLaras Sati yang sedikit tersingkap sehingga mempertontonkan sedikit pahanya yang mulus. Kamal sungguh bangga dapat memilikiLaras Sati. Kawan-kawan bisnisnya sering mengatakan iri pada dirinya yang mempunyai seorang istri secantikLaras Sati. Bentuk tubuh istrinya itu memang menggiurkan sehingga membuat banyak laki-laki sering berkhayal yang tidak-tidak.
Kamal tersadar bahwa dia baru saja berkhayal menerawang. Kini diusapnya betisLaras Sati yang sedang tidur. Kemudian usapan tangan laki-laki itu secara perlahan naik ke paha istrinya. Dapat dirasakannya betapa mulus dan halus kulit tubuhLaras Sati. Kemudian dari balik rok bawah gaun tidurLaras Sati yang ukurannya hanya setengah paha saja tangan Kamal dengan leluasa menyibak kain itu untuk menyusupkan tangannya hingga mencapai bagian dadaLaras Sati. Diremasnya dengan perlahan sebelah payudaraLaras Sati agar wanita itu menjadi terangsang. Kamal merasakan nafsu pada dirinya telah semakin naik.
Penisnya telah dirasakannya mencuat tegang. Diciumnya tengkukLaras Sati sambil tangannya meremas perlahan buah dadaLaras Sati yang berukuran 34B itu. NamunLaras Sati tidak bergeming dari tidurnya. Wanita itu seolah-olah tidak merasakan apa-apa. Kamal mengira bahwa istrinya masih belum bangkit nafsu birahinya. Kini diarahkannya tangan kanannya kearah pusarLaras Sati dan diusap-usapnya wilayah itu. Tidak berapa lama kemudian tangan Kamal berpindah ke pinggang bagian belakangLaras Sati dan kemudian menyusup di balik celana dalamLaras Sati. Kamal berusaha merangsangLaras Sati dari balik pantat wanita itu guna mencapai alat kelSatinnya. Namun tiba-tiba saja
“Jangan mas……”Laras Sati berkata dengan sambil bergegas memposisikan dirinya menjadi rebahan.
“Aku sedang letih sekali mas….aku takut membuatmu kecewa”Laras Sati kembali berkata.
“Besok mas akan ke Manado tiga minggu sayang” Kamal berkata.
“Sudah dua bulan lebih engkau tidak mau melayaniku” Kamal berkata lanjut dengan sedikit bersungut.
Nurrahmi dapat melihat kekecewaan pada suSatinya itu. Wanita itupun berkata
“Nanti setelah mas pulang dari Manado aku berjanji akan melayanimu sepenuh hati”
“Sepulang mas dari Manado nikmatilah tubuhku sepuas-puasmu mas, tetapi jangan sekarang”
“Senin ini aku ditugaskan mengikuti training senior bank teller di bank cabang Kelapa Gading. Aku letih menyiapkan semua keperluan training itu mas. Mas mau mengerti khan…?”Laras Sati menjawab kekecewaan Kamal.
“Kenapa tidak malam ini saja sayang. Mas sudah tidak tahan lagi nih….” Kamal berucap dengan nada berkeluh.
“Nanti mas akan kecewa karena aku belum sepenuh hati melayanimu…..” jawabLaras Sati.
“Baiklah kalo begitu aku segera tidur saja, bangunkan aku pukul 5 pagi….” Kamal menjawab dengan nada sedikit kecewa.
Kemudian laki-laki itu mengambil bantal dan ditutupkan pada wajahnya agar dia cepat tertidur lelap.
Nurrahmi menarik nafas dalam-dalam dan kemudian diposisikan kepalanya di atas dada Kamal sambil tangan kirinya memeluk tubuh suSatinya. Sungguh hatiLaras Sati seperti tersayat karena ketidakmampuannya untuk memberikan kehangatan tubuhnya pada Kamal suSatinya. Tak terasa bintik air mata mengalir keluar dari pelopak mata wanita cantik itu.
Sabtu pukul 5 tepatLaras Sati membangunkan suSatinya.
“Mas.. mas… bangun. sudah jam 5 nih…”
Kamal menggeliat sambil mengercipkan matanya.
Laki-laki itu harus bersiap berangkat menuju bandara untuk penerbangan pukul 8 pagi ke Manado. Untuk menuju ke sana sarananya cukup mudah karena di terminal Rawamangun, dekat dengan tempat di mana mereka mengontrak rumah, menyediakan akses bis Damri jurusan Soekarna-Hatta. Dengan sekali naik bajaj dari rumah kontrakan tidak lebih dari sepuluh menit dapat mencapai terminal Rawa Mangun.
Sambil menunggu Kamal mempersiapkan diriLaras Sati menyiapkan kopi kesukaan Kamal serta sarapan pagi. Hari Jum’at kemarin segala keperluan Kamal di Manado telah dia siapkan. Tepat jam 6 pagi Kamal berangkat menuju bandara Soekarno Hatta.
“Titi DJ mas……”Laras Sati berkata.
“Ok. Hati-hati juga di rumah ya sayang….” Kamal berkata sambil mencium keningLaras Sati.
Nurrahmi melambaikan tangan dari balik pagar rumah ketika suSatinya berangkat dengan bajaj menuju terminal Rawa Mangun.Laras Sati termenung sesaat. Dirinya merasakan penyesalan yang mendalam karena tidak mampu memberikan kehangatan tubuhnya pada Kamal sebelum suSatinya berangkat ke Manado. Tetapi apa boleh buat karena secara fisik dan psikis dirinya masih belum mampu akibat trauma perkosaan itu.
Hari seninLaras Sati ditugaskan oleh bos barunya guna mengikuti training senior bank teller di bank cabang Kelapa Gading. Setelah kejadian malam jahanam yang menimpanya ituLaras Sati mengajukan mutasi kerja dan ditempatkan di cabang bank dekat Menteng.Laras Sati tidak melaporkan kasus pemerkosaan itu ke aparat kepolisian mengingat aib itu akan menyebar ke mana-mana sehingga akan membuat dirinya dan keluarganya akan menanggung malu.Laras Sati juga tidak ingin lagi melihat wajah-wajah para pemerkosanya sehingga pilihan yang terbaik adalah mengajukan mutasi kerja.
Di bank cabang Kepala GadingLaras Sati akan mengikuti training selama 6 hari mulai senin sampai dengan sabtu.Laras Sati mengikuti pelatihan itu dengan seksama. Pada hari terakhir sebelum penutupan dirinya dipanggil oleh direktur cabang yang bernama pak Indrajeed, seorang pria keturunan India. Pria yang suka dipanggil Indra ini berpostur tinggi sekitar 185cm dengan bobot 80 kg ini nampak sedikit tambun ciri khas bos-bos berusia 45 tahunan. Ukuran jari-jarinya besarnya dua kali ukuran pria pribumi pada umumnya.
“Sati, setelah acara penutupan nanti aku akan ajak kau menemui seseorang yang akan menanamkan saham dalam pengembangan pembukaan teller baru di Tangerang”
“Investor itu siapa pak?” Sati bertanya
“Seorang warga jepang, namanya Mr. Yamato” sahut Indrajeed.
“Kenapa musti saya yang diajak pak…” Sati kembali bertanya.
“Sebab dari seluruh partisipan peserta training engkaulah yang dinilai paling baik” jawab pak Indrajeed.
Sati termenung sesaat. Hatinya sungguh senang karena dia ternyata adalah yang terbaik dari semua peserta. Tetapi sebenarnya dia juga sedikit enggan untuk pergi ke Tangerang. Namun karena ini adalah tugas maka dia tidak boleh mengelak.
“Baiklah pak, jam berapa kita berangkat…?” tanya Sati.
“Jam 5 sore. Kita nyampe Tangerang sekitar jam setengah tujuh malam” jawab pak Indrajeed.
“Kita tidak akan lama Sati, mungkin sekitar satu sampai dua jam pembicaraan terus kita kembali ke Jakarta” Indrajeed menyambung perkataannya.
Tepat pukul 5 sore pak Indrajeed dan Sati berangkat menuju ke Tangerang. Perjalanan menempuh waktu sekitar 75 menit. Ketika akan sampai pada tempat yang akan dituju, jalan yang dilalui ternyata masih berupa makadam banyak ditumbuhi pepohonan dan nampak sekali jarang rumah penduduk.
“Kita menuju kemana ini pak?” Sati bertanya dengan rasa khawatir
“Rumahnya memang di tempat sunyi soalnya tempat tinggalnya bukan rumah biasa melakinkan sebuah rumah walet, tahu kan?” timpal pak Indrajeed
“Rumah walet?” Sati menjawab dengan nada heran
“Itu loh rumah yang digunakan untuk menarik burung walet. Bisnis air liur burung walet bisa menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Oleh sebab itu rumah walet harus jauh dari kebisingan dan harus ada security agar tidak terjadi pencurian. Nah tuh dia tempatnya” jawab Indrajeed.
Rumah itu sungguh besar. Ukurannya tidak kurang dari 2000 meter persegi. Tidak ada rumah penduduk di sekitarnya.
Sati melihat sebuah bangunan yang mirip seperti sebuah benteng yang tinggi sekali dengan banyak jendela berbentuk lingkaran di bagian atas. Tidak banyak lampu yang menerangi bagian luar rumah walet itu sehingga keadaan sekitarnya nampak temeram. Mobil mereka sampai di depan pintu gerbang besar yang terbuat dari kayu kokoh. Pak Indrajeed membunyikan klakson mobil tiga kali dan tak lama kemudian pintu gerbang itupun terbuka. Mobil segera masuk ke dalam. Tak lama kemudian pak Indrajeed danLaras Sati turun dari mobil.
“Yamato san akan segera datang pak” Lelaki yang baru membuka pintu gerbang itu berucap.
Sati memandang laki-laki itu seperti seorang preman. Pria bertubuh gempal itu mungkin adalah semacam security yang telah dijelaskan oleh pak Indra sebelumnya.
“Baiklah kalo begitu aku menunggu di dalam saja” jawab pak Indrajeed.
Bergegas pak Indrajeed danLaras Sati berjalan masuk ke ruang dalam. Ternyata ruang masuk ke dalam harus melewati dua buah pintu yang masing-masing dijaga dua orang pria bertubuh gempal. Sati merasa sungguh aneh dengan keadaan itu. Terlebih lagi tatapan setiap mata lelaki penjaga pintu itu tak henti-hentinya memelototi tubuhnya seolah-olah hendak menelanjangi dirinya yang pada saat itu menggunakan official cap bank berwarna merah dengan rok sedikit di atas lutut.
MemangLaras Sati sungguh cantik bila mengenakan seragam official bank tempat kerjanya. Setelah sampai di ruangan dalam keadaan cukup nyaman. Ada sofa tamu tanpa senderan tertata mengelilingi sebuah meja kayu di tengah serta full AC. Nuansa ruangan itu memang menunjukkan sedikit ciri khas Jepang. Sepuluh menit kemudian datang seseorang membuka pintu ruangan itu. Nampaklah tubuh tambun seorang bermata sipit. Tubuhnya nampak lebih tambun dan sedikit lebih pendek dari tubuh Indra, sekitar 170 cm.
“Ha…..Indera san, o genki desu ka…..” pria jepang itu berkata
“Yamato san, hai watashi wa genki desu…” jawab pak Indrajeed yang sedikit tahu bahasa jepun itu.
“Ano…Yamato san, onanohito waLaras Sati desu” lanjut Indrajeed
“Eto….kirei desu ne….” pria jepang itu berkata dengan tersenyum sambil menjulurkan tangan.
“SayaLaras Sati…panggil saya Sati saja”Laras Sati berkata sambil menjabat tangan Yamato san.
“Bahasa saya tidak pandai….tahu sedikit saja….” tukas Yamato san.
“Oke sirakan duduk saja..” Yamato san kembali berkata.
Kemudian ketiga orang tersebut mengambil posisi duduk di sofa tanpa sandaran itu.
“Di sini semuanya seruf serfis…minum ada di sana sirakan ambil sendiri, Indera san are wa mizu desu” Yamato berkata sambil menunjuk ke sudut ruangan yang nampak ada beragam minuman serta nampak pula sebuah refrigerator ukuran sedang.
“Hai, arigato gozaimasu desu…” jawab pak Indra.
“Yamato san, kedatangan kSati untuk memenuhi undangan anda mengenai rencana pengembangan teller baru bank kSati di wilayah Tangerang” Indrajeed kembali berkata.
“Begini Indera san saya setuju usuran investasi pengembaggan terrer. apaka sarat sudah anda setuju?” Yamato san menjawab.
“Never mind, I agree with that and here I wanna to deliver the prerequisite” jawab pak Indrajeed
“Ha..ha..ha… bagus…bagus…” Yamato san tertawa senang.
Nurrahmi sama sekali tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja Yamato san tertawa kegirangan.
“Let me out side for a while. Sati kau tunggu di sini sebentar aku akan mengembil sesuatu di mobil” pak Indrajeed berkata
“Baik pak. Tidak lama khan?” Sati berkata sedikit tidak tenang.
“Hanya sebentar kok, tenang sajalah” pak Indrajeed berkata sambil bergegas keluar ruangan menuju pintu di mana mereka masuk tadi. Tidak berapa lama kemudian tubuhnya menghilang di balik pintu itu. Sekitar 10 menit pak Indrajeed kembali lagi sambil membawa sebuah amplop besar.
“Yamato san, kore waLaras Sati no poto…” pak Indra berkata sambil menyerahkan amplop berukuran besar itu.
SesaatLaras Sati mendengar namanya disebut, tetapi dia tidak tahu apa maksud dari perkataan pak Indrajeed.Laras Sati berpikir mungkin pak Indra memberikan biodata dirinya kepada Yamato san.
“Arigato gozaimasu” Yamato san menerima amplop dan mengeluarkan isinya. Nampaknya yang ada di dalam amplop itu adalah beberapa buah foto berukuran 25R.
Yamato san melihat foto-foto itu sambil tersenyum dan sesaat kemudian memandangiLaras Sati tajam-tajam. Kemudian dia memandangai lagi foto-foto itu dan selanjutnya tiba-tiba saja dia tertawa terbahak-bahak
“Ha ha ha……. very good pictures……” demikian ia berkata.
“Ha ha ha………….” terdengar pak Indrajeed juga ikutan tertawa.
Nurrahmi merasa bingung sekali dengan keadaan seperti itu dan pak Indrajeed tahu akan hal itu.
“Yamato san terkesan dan foto-foto itu Sati…..” pak Indrajeed mencoba menjawab kebingunganLaras Sati.
“Boreh aku cuba sekarang……” Yamato san kembali berkata
“Of course….. onegaisimasu…..” jawab pak Indrajeed.
“Nurrahmi san…. come here…..rihat ini” Yamato san memanggilLaras Sati
Nurrahmi beranjak dari duduknya dan menuju ke Yamato san.
“Kamu tahu ini poto…..” Yamato san menyerahkan lembaran foto-foto itu kepadaLaras Sati.
Nurrahmi menerima lembaran-lembaran itu dan kemudian melihatnya. Ketika baru sajaLaras Sati melihat foto pertama serta merta dia menjerit sambil kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan secara reflekLaras Sati membuang lembaran-lembaran itu ke lantai.
“AAAaaaa……ttttiiiidddaakkkkkkkkkkkkkkkk… .”
Rupanya foto-foto itu adalah hasil pemotretan saat dirinya diperkosa di villa milik pak Hendarso sekitar tiga bulan yang lalu. Pada foto pertama yang dilihatnya itu nampak dirinya sedang dipegangi oleh tiga orang di atas sofa saat Geremi melakukan oral pada alat kelSatinnya.
“Pak Indra ayo pulang pak……..ayo pulang…..” setengah menangisLaras Sati memohon kepada Indrajeed untuk kembali pulang.
Pak Indrajeed segera bangkit dari duduknya
“Tenang Sati….tenang… jangan takut……” demikian lelaki paruh baya itu berkata.
Kemudian pak Indrajeed mendekati Sati dan berdiri di belakangnya. Kedua tangannya bergerak menyentuh pundak Sati dan kemudian dari belakang pak laki-laki itu membisikkan sesuatu kepadanya
“Layani saja Yamato san dengan baik….dia berhasrat kepadamu…..nanti kau akan mendapat imbalan sangat besar serta kau akan aku promosikan sebagai kepala bank teller…”
“Ttttiidaakkkk……aku bukan pelacur……” jerit Sati.
“Tapi tubuhmu sudah tidak suci lagi…… sudah banyak noda laki-laki telah mengalir dalam tubuhmu….” pak Indrajeed berkata dengan wajah geram.
“Tttiiddakkkkkk….. biarkan aku pulaaaanngggggg!!!!!!”Laras Sati kembali menjerit sambil menutup kedua telinga dengan tangannya.
Yamato san yang melihatLaras Sati menjerit menjadi semakin berhasrat nafsu birahinya. Kemudian laki-laki tambun seperti gorilla itu bangkit dari duduknya dan mendekatiLaras Sati yang terlihat ketakutan
“Jjjaaangaannnn ppaakkkk……jaaangaaannn ppeerrkkoossaaa sssaayaaaa” Sati menjerit.
Sati beringsut mundur berusaha menghindar Yamato san yang semakin mendekati dirinya. Tetapi tiba-tiba dari belakang pak Indrajeed memeluk tubuhnya erat-erat
“Kau memang harus dipaksa rupanya ya ha ha ha…………” terdengar perkataan pak Indrajeed.
“Tiiiidddaaakkkkkk…………”“Jaaangaannnnnn……..”
“ogghhh……tttiiddakkkkkkkk……baangssaatt tt.”
“Leepassskaannnnn…..tttiidaakkkkk”
Nurrahmi menjerit dan meronta. Tetapi dekapan pak Indrajeed baginya terlalu kuat. Ketika Yamato san semakin mendekati tubuhnyaLaras Sati tampak semakin panik. Ketika jarak antara dirinya dan Yamato san demikian dekat tiba-tiba sajaLaras Sati menendang tubuh Yamato san dengan kedua kakinya sehingga mengakibatkan tubuh ketiga orang itu terjatuh ke lantai.Laras Sati segera cepat bangkit sebelum pak Indrajeed melakukan tindakan lebih jauh lagi dan berlari menuju pintu besar di mana mereka tadi masuk…
“Hughhh……sungguh wanita binal….rasakan akibatnya nanti…” gerutu Indrajeed
Yamato san yang masih dalam posisi duduk itu membiarkan sajaLaras Sati yang berlari menuju pintu keluar ruangan. Terlihat Yamato san hanya menggeleng-gelengkan kepala saja. Entah apa yang sedang ada di benaknya.
Baru sajaLaras Sati berhasil membuka pintu dan akan keluar dari ruangan itu didepannya dua orang penjaga bertubuh gempal telah menghadangnya.
“Minggirrrrrr…..biarkan aku pergiiiiii…..” Sati menjerit dan menangis.
Tetapi dua pria kekar itu hanya tersenyum sinis dan segera menangkap lenganLaras Sati dan menyeretnya masuk kembali ke dalam.
“Ha ha ha………..ha ha ha……..”Yamato san dan pak Indrajeed tertawa terbahak-bahak melihatLaras Sati yang meronta-ronta ketakutan di seret masuk ke dalam ruangan. Yamato san segera memungut sebuah foto dan berjalan mendekatiLaras Sati yang menjerit dan menangis
“Saya mau ini………..” tukas Yamato san kepadaLaras Sati sambil jarinya menunjukkan ke arah sebuah foto yang dibawanya itu .
Foto itu menunjukkan gambar closeup sebuah penis hitam besar yang masuk kedalam pantat putih mulus seorang wanita. WajahLaras Sati yang sedang menangis itu kini nampak memucat. Ingatannya kembali ke beberapa waktu silam. Itu pasti milik pria negro bernama Asamoah yang berhasil memperawani anusnya.
NurrSati masih dapat merasakan betapa ngilu dan sakitnya ketika penis besar itu melesak dengan paksa ke dalam duburnya. Dan kini kejadian itu akan terulang kembali. Tubuhnya akan kembali dijadikan piala bergilir oleh laki-laki yang tak bermoral.
“Tttiiddaakkk….sssaaayaaaaa ttidaakkk suudiiiiiiiii……” teriakLaras Sati.
“Ttttiiidddaakkkkk……jjjjjaaangaaaannnnn……. ”
Yamato san diam saja dan dia bergerak menjauhiLaras Sati dan duduk di atas sofa yang tidak ada sandarannya itu. Kemudian dia berkata
“Taruh dia di sini…..” Yamato san berkata kepada kedua anak buahnya agar membawaLaras Sati ke atas pangkuannya
“ogghhh……tttiiddakkkkkkkk……baangssaatt tt.”
“Jaaangaannnnnn……..”
“Jaaangaaannn saya tidak mau dippeerrkkossaaa”
“Saya tidak mauuuuuu…………”
“Ttiidaakkkkk………bbaaanggssaatttttt………. “. Sati menjerit.
Tetapi kedua penjaga itu tetap menyeret tubuhLaras Sati yang semakin meronta. Kini tubuhLaras Sati dibuat telungkup di atas pangkuan Yamato san. Bagian perutLaras Sati sampai batas pinggang tepat di atas pangkuan Yamato san. Tangan kiriLaras Sati ada di belakang punggung Yamato san dengan dipegangi erat oleh seorang penjaga sedangkan tangan kanannya oleh penjaga yang satunya.
TubuhLaras Sati yang setengah menungging itu menyulitkan dirinya untuk dapat bangun karena kesetimbangan tubuhnya menjadi cenderung untuk terus dalam posisi menungging. Tanpa banyak bicara Yamato san menyingkap rok merahLaras Sati ke atas sampai batas pinggang sehingga tampak celana dalam warna hitam yang tipis dan elastis.
“Jaaangaannnnnn……..”
“Ohhhh…ttiidakkkkk……..”
“Jaangaannn lakukkannn ituuuu…….”
“TTtttoollonnggggggg….”
Percuma sajaLaras Sati menjerit karena suaranya tidak akan keluar dari bangunan kokoh seluas 2000 meter persegi itu. Dengan kedua tangannya Yamato san meremas-remas dengan gemas bongkahan pantatLaras Sati yang sangat mulus itu. Apalagi celana dalam warna hitam itu menunjukkan warna kontrasnya terhadap kulit mulus pantatLaras Sati. Setelah melakukan remasan selama beberapa saat Yamato san menyibak celana dalam elastis itu ke samping
“TTiidakkkkkk……seetttaannnnnnnn…….”
“Bbbbaajjinggaannnnnnn………”
Nurrahmi menjerit ketika merasa celana dalam yang dia kenakan disibakkan ke arah samping sehingga kini dapat dia rasakan hawa dingin AC yang menerpa bagian anus dan vaginanya. Ya, memang kini anus dan vaginaLaras Sati terpampang jelas di mata Yamato san. Yamato san nampak mengagumi bulu-bulu halus yang tumbuh di seputar vaginaLaras Sati. Juga kerut-kerut matahari yang menghiasi anusLaras Sati sungguh membuat laki-laki keblinger untuk mencicipi jepitannya. Dengan kedua tangannya Yamato san membuka belahan pantatLaras Sati lebar-lebar
“Jangaaannnnn…….bbbiiiinnaaattaanggggggg…… .” jeritLaras Sati.
Nurrahmi sedemikian malunya ketika lubang duburnya menjadi terbuka lebar dan dipelototi oleh Yamato san. Juga oleh pak Indrajeed yang kini mendekatinya karena keingintahuannya melihat bagian-bagian rahasia tubuhLaras Sati.
“Aaagghhhhh……jjaaaanggannnnnnnn……”Laras Sati kembali menjerit keras ketika dirasakannya sebuah jari Yamato san mulai menempel ke lubang duburnya.
Yamato san menggosok-gosok anusLaras Sati dengan jari tengahnya yang berukuran dua kali ukuran jari pria pribumi itu. Yamato san dapat merasakan lembutnya anusLaras Sati yang kering itu. Dengan gerakan tiba-tiba jari tengah Yamato san ditusukkan seluruhnya ke dalam anusLaras Sati
“Aakkkhhhhhhh…..aaadduhhhhhhhhhhhhh………..ss ssaakkiitttt…ttttttttt!!!!!!!!!!!!!”.
“Jaaanngaaannnnnnnnnnn!!!!!!!!!…………… ..”
Nurrahmi menjerit melengking ketika anusnya yang kering itu dilesaki jari tengah Yamato san secara tiba-tiba. TubuhLaras Sati mengejan keras. Butir-butir keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Suhu badannya terasa naik akibat benda asing memasuki liang duburnya. Kemudian dirasakannya jari Yamato san mulai bergerak maju mundur dan semakin lama semakin cepat.
“Aaddduhhhh…..aaadduhhhhhh…….peeerrihhhhhhh! !!!!!!!!….Aaaakkhhhhhh!!!!!!!”
Nurrahmi mulai merasakan panas dan perih akibat anusnya yang kering itu bergesekan dengan jari Yamato san. Lama-kelaman nampak jari Yamato san mulai basah oleh lendir liang anusLaras Sati. Sekitar 15 menitan Yamato san mengocok anusLaras Sati dengan cepat sampai menimbulkan busa putih di sekeliling lubang duburLaras Sati. Ketika dirasakannya duburLaras Sati telah licin oleh lendir Yamato san segera memerintahkan anak buahnya untuk membuat posisiLaras Sati menungging di karpet lantai.
Yamato san segera melepas busana kimononya. Demikian pula celana dalamnya dilepasnya dengan terburu-buru. Rupanya Yamato san sudah tidak tahan lagi untuk segera menikmati tubuhLaras Sati. Segera dia memposisikan dirinya di atas pantatLaras Sati yang menungging. Tangan kirinya memegang pinggulLaras Sati dan tangan kanannya mengarahkan penisnya yang lumayan besar itu ke lubang pantat wanita itu.Laras Sati mulai merasakan ketakutan yang amat sangat membayangkan bahwa dirinya akan mengalSati perkosaan sodomi sebagaimana waktu yang lalu.
“Jaangaannnn pakkkkk…..jaaangaannnnnn!!!!!!!!!!!!!!”Laras Sati menjerit menghiba
Sebentar kemudian terdengan lolongan jeritan Laras Sati yang diteruskan dengan suara tangisannya yang keras.
“Aaaaagggghhhhhhh……… aaakkhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Rupanya penis Yamato san telah menancap ke dalam lubang pantat Laras Sati yang telah dibasahi lendir dan busa itu sehingga tanpa kesulitan yang berarti dapat melesak masuk kedalam rongga duburnya.
KiniLaras Sati kembali merasakan ngilu yang luar biasa di seputar lubang pantatnya. Ukuran penis Yamato san yang besar itu telah memaksa lubang pantatnya membuka lebih lebar dari yang seharusnya. Sodokan-sodokan yang dilakukan oleh Yamato san terhadap lubang pantatnya menyebabkanLaras Sati tidak dapat untuk menahan jeritan-jeritan kesakitan. Sayang sekali jeritan kesakitanLaras Sati itu justru semakin membakar hawa nafsu laki-laki yang ada di dalam ruangan itu. TanganLaras Sati mengepal erat berusaha mengimbangi rasa ngilu dan perih di duburnya. Air matanya nampak meleleh deras dari kelopak matanya.
Sekitar 20 menitan sodomi itu berlangsung. Busa yang terbentuk akibat gesekan penis dengan dinding liang dubur juga semakin banyak. Warna busa yang kemerahan juga nampak, menandakan ada luka lecet berdarah di dalam liang yang sedang dilesaki penis besar milik Yamato san itu. Yamato san mulai tampak terengah-engah dan sodokan yang dilakukannya terhadap lubang pantatLaras Sati semakin cepat dan brutal. Gerakan itu semakin membuat erangan kesakitanLaras Sati terdengar makin keras dan erotis. Beberapa menit kemudian Yamato san melenguh keras dan terburailah cairan sperma membasahi lubang dubur Laras Sati.
Kini wanita itu merasakan perih yang amat sangat di duburnya akibat luka lecet yang terkena semprotan cairan sperma milik Yamato san. Pria jepang itu kemudian mencabut penisnya yang masih nampak gahar dari lubang pantatLaras Sati. Untuk beberapa saat lubang pantat itu kelihatan menganganga. Selanjutnya tubuhLaras Sati dibuatnya terlentang dan memerintahkan seorang anak buahnya untuk memegangi kedua tanganLaras Sati di atas kepala wanita itu. Kini rok merahLaras Sati dilucuti oleh Yamato san.
Demikian pula celana dalamnya. Kemudian kedua kakiLaras Sati ditekuk sehingga pahanya hampir menyentuh bagian dadanya. Seorang anak buahnya lagi menahan kaki itu. Rupanya Yamato san akan bermain ronde kedua dan yang menjadi sasarannya kali ini adalah lubang vaginaLaras Sati.Laras Sati yang kini merasa lemas sudah tidak dapat berontak dengan kuat. Hanya sedikit penolakan yang dia lakukan
“Jjjanngaaannnnnnn…..jjjaaanggaannnn……” terdengar suaraLaras Sati
Namun Yamato san tidak peduli. Kini tangan kanannya mengarahkan penisnya ke lubang vaginaLaras Sati.
“Aakkhhhh………..sssaaakkittttttt……!!!!!!!! !!”Laras Sati menjerit keras lagi ketika Yamato san melakukan penetrasi paksa ke dalam alat kelSatinnya. Rasa ngilu mendera liang senggama wanita itu akibat ukuran penis Yamato san yang cukup besar. Beberapa saat kemudian Yamato san mulai bergerak maju mundur. Seperti halnya dengan sodomi tadi lama-lama gerakannya semakin cepat. KiniLaras Sati hanya bisa melenguh akibat sodokan Yamato san. Kepala wanita itu terlihat meggeleng ke kanan dan ke kiri. Sesekali bibir bagian bawah digigitnya. Terkadang pula tubuhnya sedikit mengejan. Rasa sakit dan perih di vaginanya membuat wanita itu merasa tersiksa untuk beberapa lama. Tak lama kemudian ejakulasi kedua berhasil dilalui oleh Yamato san.
Setelah semprotan terakhir keluar dari penis Yamato san pria jepang itu mencabut alat kelSatinnya dari jepitan vaginaLaras Sati. Pria jepang itu menampakkan wajah puas atas tubuh wanita yang baru saja diperkosanya itu. Nampak leleran sperma meluber keluar dari liang senggamaLaras Sati. Yamato san mengacungkan jempol ke arah pak Indrajeed sebagai tanda rasa puas. Meskipun pak Indrajeed tadinya merasa terangsang dengan perkosaan yang dilakukan oleh Yamato san tetapi pria keturunan india itu merasa gengsi untuk menikmati tubuhLaras Sati yang telah dijamah terlebih dahulu oleh laki-laki lain. Dia berpikir suatu hari nanti tentu dia masih bisa merencanakan niat busuknya untuk menikmati tubuhLaras Sati seorang diri.
“Bila kalian mau….. nikmati saja tubuhnya sebelum aku pulang” pak Indrajeed berkata kepada dua penjaga pintu. Tentu saja dua pria gempal itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas menikmati tubuh molekLaras Sati.
“Bawa wanita itu ke tempat karian…” Yamato san berkata
Segera dua orang penjaga itu membopong tubuhLaras Sati yang lunglai lemas menuju tempat mereka di ruangan lain. Dalam ruangan lain tempat ituLaras Sati direbahkan di atas tempat tidur. Salah seorang dari mereka memberikan siulan panjang dan tak berapa lama 3 kawan mereka yang menjaga pintu depan serta pintu gerbang datang. Kini berlima mereka akan bergantian menikmati tubuh sintal dan mulusLaras Sati.Laras Sati yang mengetahui ada lima laki-laki sangar dalam ruangan itu kembali panik dan mencoba bangkit. Tetapi salah seorang dari mereka segera menerkamLaras Sati dan menggumulinya.
“Aaaaaa…… bbaanngggssaattttt!!!!!!!!!!!!!……” jeritLaras Sati.
Nurrahmi yang tidak berdaya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ketika pria yang menggumulinya itu mencium lehernya. Rontaan yang diberikannya sama sekali tidak berarti bagi pria gempal itu. Dengan tidak sabar pria itu melucuti blaser dan pakaian dalamLaras Sati dengan kasar sehingga kini tubuh wanita berkulit mulus itu benar-benar telanjang bulat. Empat pria lain yang melihat tubuh telanjang itu menelan ludah menyaksikan keindahan dan kemulusan tubuhLaras Sati. Kini pria yang menggumuliLaras Sati itu mulai memberikan kode kepada empat temannya
“Pegang tangan dan kakinya….”
Keempat pria yang sedari tadi hanya menonton kini menuju ke tempat tidur.Laras Sati merasakan ketakutan yang amat sangat karena membayangkan tubuhnya akan dinikmati secara bergantian oleh lima lelaki sangar. Jerit tangisnya semakin keras terdengar….
“Jaangaannnnnn….ttttooolonggggg!!!!!…..”
Kini keempat orang itu memegang kedua tangan dan kakiLaras Sati. Wanita malang itu berusaha meronta lebih keras. Sayang perlawanannya itu tidak berarti apa-apa dan kini wanita cantik itu hanya sanggup menangis keras ketika dua tangan dan kakinya dipentang lebar-lebar.
Kini pria yang tadi menggumulinya itu mulai menanggalkan bajunya sendiri.Laras Sati dapat melihat jelas penis pria itu yang sudah sangat tegang dan siap untuk menghunjam ke dalam liang vaginanya yang masih terasa perih akibat perkosaan yang baru dilakukan Yamato san.Laras Sati menjerit ketika pria itu mulai berjongkok di depan selangkangannya
:Jaangaaannnnn…..jaangaaannnn….baangggggg….. .”
“Akkhhhh!!!!!!!!!!!……ppppeerrihhhhhhhh!!!!!!!! !!”
Nurrahmi mengeluarkan jeritan ketika alat kelSatinnya kembali dijejali oleh sebuah penis. Pria itu melakukan sodokan-sodokan keras dan kasar sekali sehingga tubuhLaras Sati terguncang-guncang. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa belas kasihan mendengar jeritan-jeritan kesakitanLaras Sati akibat penetrasi kasar yang dilakukannya.Laras Sati merasakan vaginanya semakin perih akibat luka lecet yang semakin parah.
Setiap genjotan pria yang memperkosanya dengan kasar itu menimbulkan rasa sakit dan perih seolah-olah ada sebuah pisau silet menoreh di bagian dalam vaginanya. MataLaras Sati terpejam dan kepalanya berkali-kali menggeleng ke kanan dan ke kiri. Bibir bawahnya yang sensual itu sekali-sekali nampak digigit olehnya di sela-sela teriakan kesakitan akibat sodokan kasar pemerkosanya.
“Aakkhhh….aakkhhhh….”
“Aaadduhhhh……aaaduuhhhh…..aaakhhhhhh…. “
“Aadduhhh….ssakittt….aakhhhh….ssstooppp….b aaannngggg…..aaakhhhh…”
Begitulah lenguhan-lenguhan erotisLaras Sati terdengar.
Sekitar 10 menit pria itu menggenjot tubuh telanjangLaras Sati. Kini desahan menuju puncak kenikmatan mulai keluar dari mulut pemerkosa biadab itu. Genjotannyapun semakin liar dan brutal sehingga menyebabkan teriakan-teriakanLaras Sati semakin terdengar memelas. Tak berapa lama kemudian jeritan kepuasan keluar dari mulut laki-laki itu bersamaan dengan penisnya yang memuntahkan cairan lahar panasnya ke dalam liang senggamaLaras Sati.
Sejenak pria itu tersengal-sengal dan setelah dirasakannya penisnya mulai menciut dicabutnya batang kejantanannya dari jepitan liang kenikmatanLaras Sati. Nampak batang kejantanan pria itu berwarna putih kemerahan yang menandakan bahwa ada noda darah di sana. Dan memang ketika leleran sperma keluar dari lubang vaginaLaras Sati warnapun kemerahan. Mungkin vaginaLaras Sati mengalSati pendarahan akibat kasarnya perkosaan yang dialSatinya.
Kini orang kedua bersiap menggantikan orang pertama. Tidak seperti orang pertama, orang kedua ini membalik tubuhLaras Sati dan membuatnya posisi menungging.Laras Sati sudah nampak sangat ketakutan dengan apa yang akan terjadi. Jerit tangisnya menunjukkan rasa takutnya yang amat sangat itu.
“Jaangannn..jaangaaannnnn!!!!!!!!…”
“Ttttooloonggg….jaanggannn…di pantatttt…….”
“Sakitttt…seekkkaliiii….”
“Saayaaa….mmmoohhonnnn baanggg….jaanggaannn…ssoddomi….”
“Aaauuuggghhhhh….aakhhhhhhhh!!!!!!……”
Ternyata orang kedua itu hanya ingin melakukan hubungan seks dengan doggy style. Dari belakang pria itu menyodok dengan keras sehinggaLaras Sati harus kembali menggigit bibirnya menahan rasa ngilu. Jari jemarinya yang lentik itu nampak meremas keras sprei kasur menandakanLaras Sati sedang merasakan kesakitan. Sekitar 7 menit pria kedua itu melakukan pemerkosaan hingga akhirnya cairan nistanya menyemprot di dalam rahimLaras Sati. Sebagaimana dengan temannya tadi pemerkosa kedua ini juga memperlihatkan senyuman kepuasan.
“Vagina legit dan sempit….busyet dah punya bini kaya’ gini” celotehnya.
Kini orang ketiga yang akan memperkosaLaras Sati menumpuk tiga buah bantal dan dirinya kemudian bersandar pada tumpukan bantal itu.
“Angkat cewek itu….letakkan di sini….”
Pria ketiga itu menunjuk ke arah pangkuannya. Kemudian dia berkata lagi
“Buat dia sehadapan denganku….kita maen bareng aja….”
Nurrahmi nampak shock dengan perkataan laki-laki itu. Wanita itu tahu kali kini tubuhnya akan dilesaki secara bersama-sama oleh beberapa orang pria.Laras Sati mencoba meronta ketika empat pria menggotongnya
“Jaangaannnn…bangggg…..jjaangannnn….”
“Jannngaannnn ..perkosa saya..dengannn caaraaa iituuu baangg…”
“Saayaa mohhonn bbangg…jjangaannnn……”
Tetapi empat pria itu hanya tertawa terbahak melihat ketakutanLaras Sati. Kini tubuhLaras Sati yang telanjang bulat itu mereka angkat. PosisiLaras Sati menghadap ke arah yang sama dengan pria ketiga yang bersandar pada bantal.
“Turunkan pantatnya ke punyaku….” lelaki itu berkata sambil menunjuk penisnya.
Nurrahmi yang sempat mendengar ucapan lelaki itu semakin meronta kuat
“Jaangaannn…jangannnn masuk di panntatttt….”
“Jangaann banggg…sssaaakittt ssekalliiii…..”
Namun keempat orang yang mengangkat tubuhLaras Sati tidak mau peduli. Kini tubuhLaras Sati diturunkan perlahan. Orang ketiga itu memegang penisnya dengan tangan kanannya agar berdiri tegak sedangkan tangan kirinya meraba pantatLaras Sati dari bawah untuk mencara lubang anusnya.
Nurrahmi mencoba meronta dan menggoyang-goyangkan pantatnya agar duburnya tidak bertemu dengan kepala penis pria yang ada di bawahnya. Namun sayang sekali sekeras apapun rontaan yang dilakukan olehLaras Sati tetap saja lubang kenikmatan alternatifnya itu berhasil ditemukan oleh jari-jari tangan kiri pria ketiga itu. Kini penisnya yang telah menegang itu tepat mengarah ke lubang anusLaras Sati
“Ok..lepaskan tubuhnya…..” ujar pria itu
Sesaat kemudian terdengar lolonganLaras Sati yang keras sekali bersamaan dengan tubuhnya yang diturunkan oleh empat pria yang tadi memeganginya.
“Aaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!! !!!………………….”
KepalaLaras Sati terdongak ke belakang. Bibirnya yang sensual membuka lebar mengeluarkan jeritan lolongan kesakitan ketika anusnya tidak dapat mengelak lagi untuk menjepit batang kejantanan pria yang melasak masuk ke duburnya hingga pangkal batang penis.
Kini pria yang menopang tubuhLaras Sati memegang kedua paha wanita itu hingga terbuka lebar
“Cepat masukin punya loe ke lubang memeknya…..” pria itu berujar
Orang keempat segera mengarahkan penisnya ke vaginaLaras Sati dan melesakkan batang kejantanan miliknya ke liang kehormatan wanita malang itu.
“Aaaadduuhhhhhh…….pppeerrihhhhhh!!!!!!!!!! ”Laras Sati kembali menjerit
Sedangkan orang kelima mengambil posisi berdiri dengan penis mengarah ke mulutLaras Sati.Laras Sati menutup bibirnya rapat-rapat dan wajahnya berusaha menghindari batang penis yang disodorkan ke mulutnya.
“Buat cewek ini buka mulut…” orang kelima itu berkata ke dua temannya yang lain.
Ketika dua orang yang penetrasi di dubur dan vagina mulai bergerak bersamaan mulutLaras Sati tidak dapat mengatup rapat lagi akibat rasa perih yang kini mendera dua lubang berdekatan di tubuhnya itu
“Aaakkhhhhh…..ssaakkkk…mmmmmmppphhmmmmm!!!!!!! !!!!!”
Orang kelima itu berhasil melesakkan batang penisnya ke dalam rongga mulutLaras Sati bersamaan dengan jeritan kesakitan wanita itu akibat sodomi dan penetrasi oleh dua pria lainnya.
Tiga buah penis kini secara bersamaan mendera tiga lubang di tubuhLaras Sati yang digarap beramai-ramai oleh tiga pria bejat. Ketiga penis itu melesak-lesak dengan kasar di vagina, anus dan mulutLaras Sati sehingga menyebabkan wanita yang sedang diperkosa itu merasakan kesakitan yang luar biasa. Lenguhan-lenguhan yang tertahan terdengar dari mulutLaras Sati yang tersumbat sebuah penis. Pria yang sehadapan denganLaras Sati meremas-remas payudara wanita itu dari belakang. Dapat dirasakannya betapa kenyalnya buah dadaLaras Sati sedangkan pria di depanLaras Sati memegang kedua pahanya agar tetap membuka lebar.
Sekitar 20 menitan pemerkosaan gang bang itu berlangsung. Kini ketiga pria itu mulai memacu lebih cepat dan brutal sehingga tubuhLaras Sati yang terjepit di tengah-tengah itu nampak berguncang-guncang keras. Pria yang memaksa melakukan oral itu kini nampak terlebih dahulu akan mencapai klimaks. Dipegangnya kepalaLaras Sati erat-erat dan ditekannya batang penisnya hingga seluruhnya masuk kedalam mulutLaras Sati. NampakLaras Sati megap-megap berurai air mata dan berusaha mendorong paha laki-laki itu.
Sayang sekali pegangan tangan lelaki itu jauh lebih kuat hingga akhirnya terdengar jeritan kepuasan terlontar dari mulutnya.Laras Sati dapat merasakan cairan kental dan asin di dalam mulutnya yang menandakan bahwa lelaki itu telah menyemprotkan sperma ke dalam mulutnya. Selama beberapa detik pria itu membiarkan batang penisnya di dalam mulutLaras Sati sebelum kemudian mencabutnya. Senyuman kepuasan nampak di wajah pemerkosa itu
“Servis oral luar biasa…..he he he……” celoteh laki-laki itu
Nampak cairan sisa sperma keluar dari sela-sela bibir sensualLaras Sati. Kini dua pria yang lain terus memacu sampai akhirnya mereka berejakulasi bersamaan di dalam lubang dubur dan vaginaLaras Sati. Hampir 30 menit tubuhLaras Sati mereka perkosa bersama-sama. Kini tubuh wanita telanjang yang baru saja digilir itu nampak lemas. Tubuhnya terlentang di atas kasur.